GazanaPublika.com, Asia Selatan kembali bergolak. Ketegangan diplomatik antara dua negara bersenjata nuklir, India dan Pakistan, kembali mencapai titik kritis setelah serangan berdarah di wilayah Kashmir. Dunia menyaksikan dengan waspada: apakah konflik ini akan berubah menjadi konfrontasi bersenjata terbuka—atau bahkan lebih buruk, perang nuklir?
Pada 22 April 2025, sebuah tragedi mengguncang kawasan wisata Pahalgam, Kashmir, yang dikelola India. Serangan bersenjata yang brutal menewaskan 26 turis—menjadikannya serangan paling mematikan terhadap wisatawan di kawasan tersebut dalam dua dekade terakhir. Pemerintah India tidak tinggal diam. Perdana Menteri Narendra Modi mengeluarkan pernyataan keras, berjanji akan mengejar para pelaku hingga ke akar-akarnya.
Beberapa hari kemudian, kelompok militan The Resistance Front (TRF) mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. TRF diketahui sebagai kelompok yang memiliki afiliasi dengan Lashkar-e-Taiba, organisasi militan yang berbasis di Pakistan dan telah lama menjadi sorotan dalam konflik Kashmir. Namun, seperti yang sudah diduga, Pakistan membantah keras tuduhan keterlibatan dalam insiden itu.
Pemerintah Islamabad justru berbalik menuduh India tengah merancang serangan balasan dalam waktu dekat. Dalam pernyataan resminya, Menteri Informasi dan Penyiaran Pakistan, Attaullah Tarar, mengatakan bahwa pihaknya menerima informasi intelijen yang menyebutkan bahwa India akan melancarkan operasi militer dalam waktu 24 hingga 36 jam.
Meski tidak disertai bukti konkret, pernyataan tersebut menambah bara dalam relasi diplomatik yang sudah membara.
“Setiap tindakan agresi akan dibalas dengan respons yang tegas. Dan India akan bertanggung jawab penuh atas semua konsekuensi serius yang mungkin timbul di kawasan ini,” tegas Tarar melalui akun media sosial X, Selasa (29/4/2025).
Pernyataan lebih panas bahkan keluar dari pejabat lainnya. Dalam pidatonya yang penuh semangat, Menteri Perkeretaapian Pakistan, Hanif Abbasi, secara terbuka mengingatkan India soal kekuatan senjata nuklir yang dimiliki negaranya.
“Kami punya ratusan rudal, dan 130 hulu ledak nuklir yang tidak kami simpan hanya untuk dipamerkan,” katanya. “Tidak ada yang tahu di mana kami menempatkan semua itu. Tapi percayalah, semuanya diarahkan ke Anda.”
Pernyataan ini tentu mengundang kekhawatiran global. Dunia bertanya-tanya, sejauh mana ancaman ini akan berkembang?
India dan Pakistan bukan sekadar tetangga yang bertikai. Keduanya adalah dua kekuatan nuklir yang memiliki sejarah konflik berdarah dan garis demarkasi yang terus diperdebatkan di wilayah Kashmir. Sejak tahun 1947, tiga perang besar telah meletus, dan sejumlah bentrokan kecil terus terjadi di perbatasan.
Menurut laporan Arms Control Center, India saat ini memiliki sekitar 164 hulu ledak nuklir dan telah membangun sistem peluncuran nuklir yang lengkap—darat, laut, dan udara. India selama ini dikenal dengan kebijakan “No First Use”, yaitu komitmen untuk tidak akan menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu. Namun sejak Agustus 2019, India mulai mempertimbangkan kembali kebijakan ini, memicu kekhawatiran akan potensi perubahan sikap di masa depan.
Sementara itu, Pakistan diketahui memiliki sekitar 170 hulu ledak nuklir—angka yang mengejutkan dan jauh melampaui proyeksi badan intelijen AS yang dulu memperkirakan Pakistan hanya akan memiliki 60-80 hulu ledak pada tahun 2020. Dengan tren pertumbuhan saat ini, Pakistan diperkirakan akan memiliki 220 hingga 250 hulu ledak pada akhir 2025.
Berbeda dari India, Pakistan tidak pernah mendeklarasikan kebijakan “No First Use”. Sebaliknya, Islamabad secara terbuka mengembangkan strategi senjata nuklir taktis—senjata yang bisa digunakan di medan perang dalam skala kecil, sebagai tanggapan terhadap kekuatan militer konvensional India yang jauh lebih unggul.
Apa jadinya jika kata-kata ancaman berubah menjadi tombol yang ditekan?
Menurut simulasi dari Arms Control Center, bahkan pertukaran nuklir berskala kecil antara India dan Pakistan dapat menewaskan lebih dari 20 juta orang dalam waktu kurang dari seminggu. Namun dampaknya tidak berhenti di situ.
Jika terjadi musim dingin nuklir—fenomena atmosfer yang muncul akibat partikel debu dan asap radioaktif menghalangi sinar matahari—maka hampir 2 miliar manusia di seluruh dunia, terutama di negara berkembang, bisa terancam kelaparan massal.
Risiko ini menjadi alasan kuat mengapa komunitas internasional harus segera bertindak. Ketegangan antara New Delhi dan Islamabad bukan lagi isu regional, tetapi ancaman global yang menyentuh jantung stabilitas geopolitik dunia.
Seruan untuk menahan diri mulai menggema dari berbagai penjuru dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, dan sejumlah negara besar lainnya didesak untuk mengambil langkah mediasi agar konflik ini tidak meluncur ke jurang kehancuran.
Dalam sejarah panjang konflik India-Pakistan, retorika perang bukanlah hal baru. Tapi di era senjata nuklir, satu kesalahan kalkulasi saja bisa menjadi akhir dari jutaan nyawa.

