Advertisement
Penulis: Umdad Goza, S.Pd., M.Pd.
GazanaPublika.com – 3. Pembelajar
Pembelajar adalah seseorang yang memberikan petunjuk untuk diketahui kepada lainnya. Jadi pembelajar ini adalah orang yang punya sesuatu lalu hal tersebut ia bagikan ke orang lain dengan berbagai maksud, contoh seperti guru yang memberikan pemahaman kepada murid, tutor yang memberikan instruksi kepada audiens, dll.
Timbul Pertanyaan Siapa sih Pembelajar itu atau Guru itu? Apakah mereka yang berada di sekolah atau di Kampus? Kalau itu jawabannya ubahlah mindset kita, Pembelajar atau Guru itu adalah kita sendiri sebagai orangtua yang ada di rumah yang sedari kandungan hingga dewasa merawat anak-anak kita, mendidik, menasihati, mengajarkan bicara, mengajarkan adab dan adat dan rumah itu sendiri sebenarnya sekolah pertama bagi anak-anak kita.
Pembelajar berasal dari kata dasar ajar. Pembelajar memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga pembelajar dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.
Pembelajar Nomina (kata benda) Orang yang membelajarkan Pengajar arti kata pembelajar adalah orang yang membelajarkan. Arti lainnya dari pembelajar adalah pengajar.
Mengapa guru harus terus belajar? Karena semakin banyak ilmu yang kita pelajari, semakin besar peluang untuk menerima hasil yang lebih besar dan lebih baik, waktu dan tenaga yang kita habiskan untuk belajar, akan selalu melahirkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan selanjutnya.
Proses belajar yang senantiasa harus dilakukan oleh guru adalah banyak membaca berbagai macam literatur, ada juga dengan cara, berdiskusi dengan teman sejawat dan belajar menulis, Termasuk berdiskusi dan berkumpul Dengan ketiga proses ini, guru akan lebih maksimal dalam mengasah kualitas, mempertajam ilmu dan kompetensinya.
Guru, tak boleh berhenti belajar sebagai upaya mengembangkan kompetensi dirinya. Bahkan sebagai guru harus mengembangkan kompetensi leadership dan spiritual. Guru memiliki tugas yang berat, karena mendidik anak bangsa yang cerdas, berakhlak mulia dan berilmu agar meraih masa depan yang penuh tantangan.
Bukankah dengan tugas itu, guru senantiasa mengupgrade ilmu yang dimilikinya, agar apa yang dia didik dan ajarkan kepada peserta didik sesuai dengan zamannya.
Pesan yang disampaikan Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A:
“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”.
Artinya, ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi sekarang dan kehidupan di masa mendatang.
Guru seharusnya open minded, siap menerima masukan dan kritikan, tidak hanya menyalahkan dan merasa yang paling benar. Waktu terus maju dan ilmu semakin berkembang, demikian pula pemikiran manusia terus berkembang sesuai dengan zamannya.
Jadi seorang guru harus senantiasa belajar, semangat membaca, sering berdiskusi dengan teman sejawat, dan belajar menulis. Dengan demikian, ketika kita rajin membaca, memahami, lalu menuliskan kembali dalam bentuk tulisan. Maka pemahaman tersebut akan menginternal dan bisa kita keluarkan pada saat dibutuhkan, Perlu diingat bahwa guru itu memiliki tugas membimbing dan memberikan teladan terbaik bagi peserta didiknya.
Jadilah guru pembelajar, jadilah guru hebat dengan selalu berproses, selalu belajar, menghebatkan peserta didiknya serta memberikan teladan kepada mereka. Dan pada satu titik kita layak berharap, kelak mereka menjadi generasi masa depan yang akan mencerahkan dan memajukan kehidupan bangsa Indonesia, serta menginspirasi dunia bahkan dapat mengubah dunia dengan prestasinya.
Advertisement
Advertisement
Advertisement
