Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Jokowi Sebagai Kepala Negara, Kader Partai dan Pribadi

Jokowi Sebagai Kepala Negara, Kader Partai dan Pribadi

Nasional Minggu, 19 November 2023 6:45 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Jokowi-mega
Foto: Megawati Soekarnoputri dan Jokowi (Dok. Instagram bumegaberc (sumber: Era.id)

Advertisement

GAZANAPUBLIKA.COM – Sesaat Jokowi dan Keluarga membuat heboh publik. Pasal, Jokowi dianggap pengkhianat karena telah merobek komintmen dengan partainya sendiri. Bahkan keadaan itu mengundang reaksi dari pihak lain juga. Dia dicurigai bermain mata dengan kubu Prabowo Subianto.

Sementara anak-anaknya pun dibiarkan liar, Kaesang Pangarep menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sementara Gibran Rakabuming Raka dibiarkan menerima lamaran Koalisi Indonesia Maju (KIM) untuk dicalonkan menjadi pasangan Prabowo Subianto untuk jadi Wapres. Sikap Jokowi dianggap cawe-cawe, tidak konsisten, dan merugikan partai.

Advertisement

Jokowi mengatakan membiarkan anaknya untuk memilih sikapnya sendiri karena mereka sudah berkeluarga. Namun tuduhan pengkhianat dari massa PDIP terus bergulir padahal sebelumnya mereka adalah pendukung Jokowi. Nampaknya Jokowi acuh atas semua tuduhah itu.

Inilah politik yang selalu berprinsip pada asas “Tidak ada kawan abadi dan tidak ada musuh abadi, semua bergantung kepentingan.” Satu sisi prilaku politik seperti itu melukiskan sifat kanak-kanak karena tadinya begitu “bungah” ketika ada orang yang sevisi mendukungnya dan kalau sudah tidak mendukung, mereka menjadi berang dan marah. Tidak ada kedewasaan dalam masalah begini bahkan sekelas Ketua Partai bisa Baper.

Politik berangkat dari prasangka dan jauh dari pandangan obyektif. Semua sikap yang ditengarai mencurigakan akan dipandang mencederai ideologi dan marwah kelompok.

Jokowi dicurigai bukan oleh orang kuar tetapi dari sebagian orang yang memgklaim pendukungnya dan partainya. Itu berarti selama ini ikatan mereka dengan Jokowi lemah. Jokowi dielu-elukan karena dianggap telah berhasil mendulang suara buat PDIP dan mampu memposisikan partai tersebut duduk di atas negara.

Menilik reaksi massa PDIP yang sebelumnya adalah pendukung Jokowi, apabila dicermati berarti sebetulnya selama ini mereka tidak betul-betul mendukung Jokowi. Mendukung Jokowi hanya karena asas kepentingan semata. Mungkin dipandang sebagai alat untuk kontribusi kekuasaan yang layak jual. Jadi wajar, ketika Jokowi dianggap tidak sesuai dengan prinsip PDPIP atau membelot maka hujatan pun datang.

BACA JUGA:  Manusia Amoral dan Anti Nilai, Bagaimana Blueprint DNA-nya?

Ikatan politik adalah ikatan yang rapuh, wajar apabila adanya terselip ketidak-percayaan, sebaliknya muncul prasangka kepada Jokowi. Kalau ikatan itu itu bentuknya ideologis maka mesti ada sikap saling mempercayai dan memahami. Sikap ideologis dalam pemahaman demokratis tidak bersifat koersif, dituntut memaksa keluarga besarnya untuk ‘berbaiat’ sepenuhnya kepada PDIP.

Padahal satu sisi mereka harus memahami bahwa Jokowi juga sebagai Kepala Negara dan pemerintahan, bahwa apa yang dilakukan itu memiliki visi untuk kemajuan negara. Ketika sudah menjadi Presiden ibarat perempuan yang sudak dinikahi maka seluruhnya harus diserahkan kepada suaminya.

Artimya, Jokowi sudah diserahkan kepada negara, ia bukan milik PDIP lagi tetapi milik rakyat. Terlalu sempit apabila menterjemahkan sebagai Petugas Partai. Label petugas partai harus dihilangkan darinya ketika dia sudah menjabat sebagai presiden.

Sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan, dia harus adil dan mengayomi semua partai dan golongan. Dia boleh bersentuhan dengan partai mana pun, kecuali apabila ia sudah berada di ruang internal keluarga PDIP. Bahasa Petugas Partai tidak boleh didengar oleh publik karena bisa dianggap pelecehan terhadap konsitusi dan posisi Jokowi akan dianggap berpihak kepada salah satu golongan saja. Ada nilai etis yang harus dijunjung di dalam berbangsa dan bernegara ini.

Sedangkan sebagai pribadi, Jokowi adalah orang yang memiliki keluarga, saudara, teman dan fans (pendukung dan pengagum). Dalam berkeluarga, seorang ayah dituntut untuk menghargai hak anak-anaknya karena mereka sudah dewasa. Dalam pergaulan, dia juga manusia yang membutuhkan kawan.

BACA JUGA:  Dokter Tifa: 12 Tahun Jokowi Pejabat, Baru Akui Lulusan UGM Tahun 2017

Sebagaimana itu semua, kepada fans mungkin dia harus mempertahankan pribadinya. Sedangkan loyalis itu substansinya, orang yang selalu mengikuti dia kemana pum dia bermanuver dan tidak ada persoalan dengan partai. Fans hanya peganggum dam tingkatan loyalis harus tegak lurus dengan Jokowi bukan kepada partai dan itu tidak bersifat paksaan atau perintah tetapi kesadaran atas kesetiaan. Jadi wajar, kini situasinya sudah terbelah antara fans, loyalitas dan pengikut kepentingan yang berbasis ideologis partai.

Ketika Projo memilih Prabowo sebagai tujuan politiknya, itu pun sikap politik yang patut ia hargai ketika Jokowi belum tentu memberikan instruksi. Tidak boleh memgedepankan prasangka, prasangka menandakan orang yang tidak dekat dengan Jokowi. Biasanya datang dari musuh atau penumpang gelap.

Kalau orang yang dekat dan sekaligus ‘mahfum’ harus percaya bahwa dia sebetulmya orang yang tetap setiap kepada partainya. Nyatanya dia tetap Kader PDIP dan orang lain tidak perlu seperti kebakaran Jenggot ketika dia dipandang memiliki kedekatan dengan satu faksi koalisi. Tidal harus menuduh dia pengkhianat karena melihat indilasi semua keluarganya mengambil beda haluan.

Namun fenomena ini telah memperlihatkan mana kelompok yang selama ini menjadikan Jokowi sebagai alat dan mana yang betul-betul menjadi Jokower. Jokower tidak harus ke PDIP atau mendukung Ganjar, boleh mendukung Prabowo-Gibran atau Anies-Cak Imin. Sebab Jokowi sudah menjadi icon ideologi. Ideologi yang ditanamkan oleh nilai dan semangat Jokowi adalah kejujuran, merakyat, kesederhanaannya, ketegasan, dan semangat kemajuan.(**)

Advertisement

Joko Widodo Jokowi Pemilu
Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Nasional

Prabowo Terima Kunjungan Presiden Timor Leste, Puluhan Peraih Nobel Ikut ke Istana

Berita Utama

Tol Dalam Kota Kembali Ditutup, Aksi Massa Picu Kepadatan di Pejompongan-Slipi

Nasional

Prabowo Sungkem kepada Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso di Muktamar NU ke-35

Berita Utama

Aktivis AMPB Kecewa Puan Maharani Tak Temui Massa Aksi Secara Langsung

BERITA TERBARU

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.