Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Seni Segeng: Refleksi Kedalaman Tasawuf dan Ke-Jawaraan Banten

Seni Segeng: Refleksi Kedalaman Tasawuf dan Ke-Jawaraan Banten

Banten Selasa, 5 Desember 2023 13:40 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
tasawuf
Ilustrasi Tasawuf

Advertisement

Penulis: Encep S

GAZANAPUBLIKA.COM – Segeng adalah seni atraksi tradisional yang berkembang di kecamatan Cipeucang dan Saketi, kabupaten Pandeglang, Banten. Atraksi ini merupakan bagian dari tradisi dan budaya setempat dan dulunya sering dipentaskan pada saat hari besar Islam seperti Bulan Muharam atau Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Hari kemerdekaan Indonesia.

Advertisement

Segeng merupakan atraksi yang unik dan menarik. Atraksi ini diperankan oleh sekumpulan orang yang memakai celana pendek (pokek-bahasa Banten) dan ikat kepala. Mereka berkumpul di lapangan sambil memegang benda-benda tertentu, seperti batu besar, bambu, atau kayu. Benda-benda tersebut sudah terisi kekuatan gaib (magis) yang lebih ekstrem dari Debus.

Atraksi Segeng diperankan dengan cara naik ke pundak salah satu pemeran Segeng. Pemeran tersebut mengangkat batu besar dan memukulkannya ke kepala obyek (lawan main) subyek. Subyek juga memukulkan batu besar tersebut dengan menaiki pundak obyek. Pemeran Segeng bergantian melakukan atraksi ini.

Atraksi Segeng menguras tenaga apabila dipahami secara normal. Namun, karena adanya unsur mistik, tenaga para pelaku tetap utuh, mereka tidak merasa letih, dan kepala obyek yang kena batu besar tersebut tidak merasakan sakit dan tidak mengalami celaka.

Segeng Sebagai Refleksi Kesufian

Segeng bukan hanya sekedar seni budaya semata, melainkan harus memiliki keahlian khusus secara kebatinan. Orang yang bisa memerankan segeng ini sudah mencapai ketinggian derajat keyakinan kepada Allah dalam dunia tasawuf, artinya dalam Tarekat Illahiyah sudah mencapai maqam istiqamah.

BACA JUGA:  Pelaku Usaha Maritim Banten Perkuat Kolaborasi, Dorong Kemajuan Sektor Pelabuhan

Hal ini pula, dapat dikatakan bahwa segeng merupakan refleksi kesufian, seorang suluk sebagaimana seni budaya “Euleumeudeud” (sebutan orang Banten) atau Al-madad (bahasa Arab), yaitu pertunjukan refleksi dari Tarekat Rifa’iyah. Dari refleksi itu ada 3 (tiga) yang dipertunjukan, diantaranya; segeng, debus dan Euleumeudeud.

Kesempatan untuk melakukan atraksi segeng merupakan saat yang tepat bagi para salikin untuk melakukan suluk, yaitu perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam suluk, para pelaku segeng akan mengalami berbagai macam hal, seperti rasa sakit, lelah, dan bahkan ketakutan. Namun, dengan kekuatan batinnya, mereka dapat melewati semua itu dan tetap melanjutkan atraksinya.

Segeng dan KeJawaraan Banten

Tak dipungkiri akar seni budaya yang berhubungan dengan kegiatan ritual ibadah masyarakat Banten dipengaruhi lebih besarnya dari Tarekat Rifai’yah karena nyatanya seni budaya keras (extrem) ini tumbuh dan berkembang di masyarakat dengan indentik keJawara-annya. Jawara adalah budaya kependekaran untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat dengan sifat wara (rendah diri).

Dalam masyarakat Banten, jawara memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban wilayah. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang tangguh dan berani. Oleh karena itu, atraksi segeng yang merupakan refleksi dari kesufian juga identik dengan keJawaraan.

BACA JUGA:  Jaga Moral di Tengah Ketidakstabilan Dunia, PPT Daar El-Ishlah Malingping Lepas Santri Akhir Tahun 2026

Atraksi segeng menjadi simbol kekuatan dan keberanian para jawara. Atraksi ini menunjukkan bahwa para jawara memiliki kekuatan batin yang luar biasa. Mereka tidak takut akan rasa sakit atau mara bahaya.

Segeng: Warisan Budaya yang Patut Dilestarikan

Segeng merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang patut dilestarikan. Atraksi ini memiliki nilai-nilai filosofis yang mendalam, yaitu kekuatan kebersamaan, kekuatan mental, dan kekuatan spiritual.

Untuk melestarikan kesenian segeng, perlu dilakukan beberapa upaya, antara lain:

Pertama, mencari regenerasi: Perlu dilakukan upaya untuk mencari generasi muda yang tertarik untuk mempelajari kesenian segeng.

Kedua, menyosialisasikan kesenian segeng: Kesenian segeng perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.

Ketiga, meningkatkan nilai-nilai kesenian segeng: Nilai-nilai filosofis kesenian segeng perlu dikemas dengan cara yang menarik agar lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Dengan upaya-upaya tersebut, diharapkan peran serta pemerintah, kesenian segeng dapat terus dilestarikan dan menjadi bagian dari warisan budaya Nusantara.

Segeng merupakan seni atraksi yang unik dan menarik. Atraksi ini memiliki nilai-nilai filosofis yang mendalam, yaitu kekuatan kebersamaan, kekuatan mental, dan kekuatan spiritual.

Segeng juga merupakan refleksi dari kesufian dan keJawaraan Banten. Atraksi ini menjadi simbol kekuatan dan keberanian para jawara.

Segeng merupakan warisan budaya Indonesia yang patut dilestarikan.

Penulis:
Ustadz Encep Syihabuddin
Aktifis Nahdlatul Ulama-Banten

Advertisement

Tarekat Tasawuf Tradisi
Encep Syihabuddin

Advertisement

BERITA LAINNYA

Banten

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Banten

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

Banten

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

Banten

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

BERITA TERBARU

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.