Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Kritik Perayaan Malam Tahun Baru Masehi di Tengah Upaya Kebangkitan Budaya Lokal

Kritik Perayaan Malam Tahun Baru Masehi di Tengah Upaya Kebangkitan Budaya Lokal

Opini Selasa, 31 Desember 2024 17:29 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Ade A. Saprudin

GazanaPublika.com – Pada tahun 2000-an, belum terbayang apa yang kini disebut sebagai globalisasi. Globalisasi adalah proses global yang membuat batas-batas lokal menghilang karena interaksi masyarakat dunia dengan berbagai kepentingan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Pada saat itu pula, belum banyak yang memahami makna tahun baru dan dimana kenikmatanya atau kebahagiaanya. Bahkan masih asing bagi sebagian besar masyarakat. Kedatangannya hanya terseret arus globalisasi saja

Advertisement

Diakui, globalisasi telah memperkenalkan berbagai paham dan pemikiran. Di bidang politik, demokrasi telah menjadi asas bernegara yang hampir dianut oleh semua negara sebagai sebuah keyakinan. Sementara itu, di bidang perdagangan, muncul berbagai interaksi produksi, di mana setiap negara saling bertukar barang dan jasa sebagai kebutuhan yang sulit dihindarkan. Oleh karena itu, tampaknya tidak ada pilihan selain melonggarkan batas-batas regulasi yang dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Kaum kritis memandang globalisasi sebagai alat untuk mengeksploitasi berbagai aspek kehidupan, sehingga pihak yang lemah semakin terpinggirkan. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai bagian dari strategi neoliberalisme (neolib).

Di luar semua perdebatan tersebut, yang sebenarnya memerlukan pembahasan mendalam, penulis ingin menyoroti tren budaya global, khususnya fenomena perayaan malam tahun baru. Kaum militan dan primordial masih banyak yang menolak pengaruh budaya global dengan berbagai alasan. Suka atau tidak suka, penganut budaya lokal (kearifan lokal) terus berupaya meredam derasnya arus budaya global karena khawatir hal itu akan secara sistematis dan perlahan memberangus keberadaan budaya lokal.

BACA JUGA:  Andai Pengelolaan MBG Swakelola Kantin Sekolah, Bagaimana?

Lalu, apa yang salah dengan perayaan tahun baru? Menurut mereka, penganut budaya global (globalisme kultural) menikmati budaya temporer ini tanpa mempersoalkannya. Terlebih ketika perayaan tersebut dimaknai secara positif, seperti sebagai ajang silaturahmi, berkumpul dengan keluarga, kerabat, dan sahabat. Ternyata, isi perayaan tahun baru tidak semata-mata tentang hura-hura.

Namun, sinisme tetap muncul ketika perayaan ini dikaitkan dengan westernisasi sebagai budaya asing. Kehadiran budaya asing, menurut mereka, lambat laun akan menghancurkan budaya lokal. Perayaan tahun baru bukan hanya tentang pergantian tahun Masehi, terlebih karena hampir seluruh dunia menggunakan kalender tersebut. Mereka beralasan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk berdoa dan berharap kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang. Namun itu hanya sebuah alibi yang didasarkan atas kesukaan semata.

Namun, apabila direnungi lebih dalam, persoalan ini bukan sekadar tentang sinisme, melainkan sebuah upaya penghancuran jati diri lokal yang terseret arus budaya asing. Apapun alasannya, pembenaran sering kali bersandar pada alibi kesukaan dan kesenangan, yang pada akhirnya menegasikan keberadaan budaya lokal. Sebagai contoh, dalam ritual berdoa, masyarakat Jawa lebih mensakralkan ‘Hari 1 Suro’. Namun, ini hanyalah secuil dari kekayaan budaya yang tersebar di berbagai lokalitas Nusantara, yang kini perlahan mulai terasing oleh terpaan budaya kontemporer. Zaman ini menjadi saksi bagaimana jati diri bangsa dan suku semakin melemah akibat pengaruh budaya asing.

BACA JUGA:  Sorotan Tajam: 'Dinding Tebal di KITB, Ada Apa dengan PT MNS?'

Budaya lokal mengandung keluhuran nilai yang hanya dapat dipahami oleh pelaku budaya itu sendiri. Kekhidmatan budaya lokal tidak terlihat dari kemeriahan cahaya kembang api di malam tahun baru, melainkan lebih terasa dalam nuansa ritual yang menghidupkan rohani, seperti mandi untuk ‘bebersih’, memanjatkan doa secara khusus untuk berinteraksi dengan Tuhan, dan berbagai bentuk ritual lainnya yang sulit dijelaskan satu per satu.

Jati diri sebuah bangsa mengandung nilai dan karakter budaya sebagai identitas asli. Identitas ini tidak dapat dipertukarkan, sebab ia merupakan ciri khas dan kekhasan manusia. Jika identitas ini hilang, maka kemanusiaan juga akan lenyap. Ibarat keluarga yang tidak dapat ditukar dengan keluarga lain, atau pakaian yang khusus milik seseorang, jati diri bangsa adalah bagian esensial yang tidak dapat digantikan. Hilangnya jati diri ini akan mengubah sebagian jiwa kita, dan lambat laun, akan menggeser cara pandang serta nilai-nilai yang telah mengakar dalam kehidupan.

Semua ini menjadi renungan penting untuk membangun generasi bangsa yang berlandaskan pada kearifan lokal. Keberlanjutan budaya lokal adalah tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa identitas bangsa tetap terjaga di tengah derasnya arus globalisasi.

Advertisement

Budaya Tahun Baru
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Opini

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Opini

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

Opini

Andai Pengelolaan MBG Swakelola Kantin Sekolah, Bagaimana?

BERITA TERBARU

Keluhan Mitra Dapur Program Makan Bergizi Gratis Soal Keracunan

Tuai Kecaman, Trump Ancam Terapkan Tarif Kargo Selat Hormuz

Rumah Anggota BPK Digeledah KPK

Sinergi Penegak Hukum: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Sambangi Kejagung, Tekankan Hilangnya Rivalitas

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.