GAZANAPUBLIKA.COM – Politik kalau diam, mana serunya? Tidak ada manuver yang jadi pasif. Perseteruan itu sifatnya alamiah, bukan soal menang-kalah. Tidak penting logika menang-kalah. Tetapi efek konflik itu adalah lahirnya demokrasi. Konflik politik adalah sarana tumbuhnya demokrasi. Di situlah akan lahir kontrol sosial dan di situlah juga lahir kesimbangan antara kelompok yang bermain. Antara kelompok penekan dan kelompok yang menerima kekuasaan.
Pada substansinya, politik ada yang menyebutnya ‘art’ atau seni. Bisa juga disebut ‘game’. Tidak usah pakai perasaan menyikapinya. Rileks saja. Rakyat sebagai konstituen jangan terlalu larut dalam permainan politik. Dukung-mendukung itu biasa, namun kearifan politik ditempatkan di atas segala-galanya. Sama seperti elite politik. Yang namanya rakyat memiliki kewajaran apabila mengikuti perilaku elite. Sebab apabila rakyat terbawa arus, namanya rakyat jadi korban. Ya, kalau tidak mau menjadi korban, ikuti saja iramanya. Pasti menyenangkan.
Budaya politik rakyat dan elite itu berbeda. Kalau elite politik, orientasinya meraih kekuasaan dan kekayaan. Yang jadi barang jualan adalah aspirasi. Rakyat tidak seperti itu. Rakyat orientasinya hanya sebagai bahan obrolan di warung kopi. Untuk kepuasan sesaat dan obat tidur.
Rakyat berpartisipasi hanya untuk kewajiban sebagai warga negara, idealnya untuk memilih wakil di parlemen. Selesai kontestasi, rakyat kembali ke kandang untuk menikmati kehidupan normal.
Elite bisa saja berkonflik. Selesai pemilu, mereka semua menjadi teman bersenda gurau. Kabinet dibentuk berdasarkan kompromi. Ada oposisi, hanya untuk cari muka. Semua seremoni belaka. Lalu kemana rakyat setelah itu?
Rakyat sejatinya akan menjadi pemantau kebijakan, dan kalau jenuh, cukup menjadi penonton. Rakyat tidak pernah bosan belajar dari pengalaman mereka, dan setelah periode tertentu, mereka terkelabui lagi dan ikut ribut dalam setiap drama ini.

