Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Ketika AFTA dan NAFTA Dibunuh oleh Politik Global: Refleksi atas Senjakala Integrasi Ekonomi Regional

Ketika AFTA dan NAFTA Dibunuh oleh Politik Global: Refleksi atas Senjakala Integrasi Ekonomi Regional

Pena Redaksi Senin, 14 April 2025 21:50 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com – Pada masa keemasannya, AFTA (ASEAN Free Trade Area) dan NAFTA (North American Free Trade Agreement) dipuja sebagai simbol keberhasilan integrasi ekonomi kawasan. Keduanya lahir dalam atmosfer pasca-Perang Dingin yang dipenuhi optimisme terhadap globalisasi. Dunia seolah menyepakati bahwa masa depan umat manusia hanya bisa dicapai melalui keterbukaan pasar, penghapusan hambatan dagang, dan penguatan konektivitas antarnegara. Namun kini, puluhan tahun sejak kemunculannya, wacana mengenai AFTA dan NAFTA tampak memudar, tergerus oleh kebangkitan kekuatan politik global yang justru menyangkal dasar-dasar ideologis yang dulu melahirkan mereka.

Narasi Globalisasi yang Berubah Arah

Advertisement

NAFTA resmi berlaku pada 1 Januari 1994, menyatukan perekonomian Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ke dalam satu zona perdagangan bebas terbesar di dunia saat itu. Sementara itu, AFTA mulai diinisiasi sejak 1992, dan perlahan membentuk mekanisme kerja sama ekonomi ASEAN yang kuat. Kedua inisiatif ini merepresentasikan semangat era globalisasi tahap awal: liberalisasi perdagangan dipercaya sebagai jalan menuju efisiensi ekonomi, pertumbuhan yang inklusif, dan stabilitas politik kawasan.

Namun, anggapan tersebut kini mengalami revisi besar-besaran. Dunia tidak lagi menyaksikan keterbukaan ekonomi sebagai solusi universal. Justru, ketegangan geopolitik, krisis kepercayaan terhadap pasar bebas, dan meningkatnya ketimpangan sosial akibat globalisasi menjadi titik balik yang memaksa negara-negara untuk mengevaluasi kembali komitmennya terhadap integrasi ekonomi regional.

Perubahan Arah Politik Global: Kematian Perlahan AFTA dan NAFTA

Ironisnya, kekuatan politik global yang dulu menjadi motor penggerak terbentuknya AFTA dan NAFTA, kini justru menjadi kekuatan yang membunuh pengaruh mereka. AS, sebagai aktor utama dalam pembentukan NAFTA, berubah drastis arah di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Dengan slogan “America First”, Trump merevisi NAFTA menjadi USMCA (United States-Mexico-Canada Agreement) dengan semangat proteksionisme yang tinggi. Tidak hanya merombak ketentuan perdagangan, Trump juga memulai perang dagang besar-besaran dengan China, memperkenalkan tarif impor tinggi atas produk strategis, dan mendorong relokasi industri ke dalam negeri atas nama keamanan nasional dan kedaulatan ekonomi.

Kebijakan-kebijakan ini merupakan manifestasi dari perubahan mendasar dalam cara pandang terhadap perdagangan internasional: dari kooperasi multilateral menuju perlindungan unilateral. Maka tak mengherankan jika NAFTA, yang dulu menjadi simbol kebanggaan integrasi regional, kini hanya menjadi sisa arsitektur ekonomi lama yang telah diganti dengan pendekatan bilateral dan penuh kalkulasi geopolitik.

Nasib serupa juga menimpa AFTA. Meski ASEAN masih memelihara kerangka kerjanya, semangat integrasi tampak melemah dalam praktiknya. Negara-negara ASEAN semakin disibukkan oleh strategi bilateral dan pengaruh tarik-menarik antara kekuatan besar, terutama Tiongkok dan Amerika Serikat. AFTA tidak lagi menjadi garda depan ekonomi regional, melainkan hanya satu dari sekian banyak instrumen yang tertinggal dalam pusaran pertarungan geopolitik. Ketika masing-masing negara ASEAN mulai mengejar agenda nasionalnya secara individual—dari pengamanan pasokan energi, kemandirian pangan, hingga pemutusan ketergantungan teknologi—kerangka kolektif seperti AFTA tak lagi mendapat tempat utama.

Dunia Pasca-Globalisasi: Fragmentasi sebagai Norma Baru

Kita kini hidup di dunia pasca-globalisasi, di mana liberalisasi ekonomi bukan lagi ideologi utama. Fragmentasi geo-ekonomi, relokasi industri atas nama national security, dan kebijakan deglobalisasi menjadi hal yang umum. Dunia tidak lagi terobsesi pada pasar tunggal yang terbuka, melainkan pada otonomi strategis, kedaulatan digital, dan rantai pasok yang “ramah politik.”

Dalam kondisi ini, AFTA dan NAFTA menjadi seperti bangunan tua yang pernah menjulang tinggi, namun kini ditinggalkan dan tidak dipelihara. Mereka tidak runtuh karena struktur internalnya rapuh, tetapi karena fondasi politik global yang menopangnya telah berubah. Bahkan lebih tragis lagi, mereka dibunuh secara perlahan oleh tangan-tangan yang dulu membangunnya.

Refleksi: Dari Integrasi Menuju Realpolitik Ekonomi

Membicarakan AFTA dan NAFTA hari ini bukan sekadar menengok ke belakang, melainkan menelaah bagaimana ide besar bisa mati ketika realitas politik tak lagi mendukungnya. Integrasi ekonomi tidak akan pernah netral secara politik. Ia lahir dari kemauan politik, dan akan bertahan hanya jika kemauan itu tetap ada. Ketika politik global berubah arah, integrasi regional pun kehilangan ruhnya.

Kematian pengaruh AFTA dan NAFTA menunjukkan bahwa perdagangan bebas bukanlah keniscayaan sejarah. Ia adalah hasil konstruksi politik yang bisa dibangun, dipelihara, dan dihancurkan. Dan pada akhirnya, dunia pasca-globalisasi ini memaksa kita untuk menilai kembali: apakah integrasi masih menjadi masa depan, atau justru masa lalu?

Advertisement

Politik
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Pena Redaksi

Rujuk Politik Lewat Pintu Samping

Pena Redaksi

Memahami Kembali Akar Masalah Terkait Revisi Undang-Undang Pilkada

Pena Redaksi

Menggugat Klaim Sejarah: Ancaman terhadap Identitas Kebangsaan Indonesia

Pena Redaksi

Prediksi Konfigurasi Politik, Apabila 2 Putaran Pemilu 2024

BERITA TERBARU

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Kapolda Banten Sampaikan Commander Wish Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat’

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version