Advertisement
GazanaPublika.com – Bahasa prokem adalah ragam bahasa tidak baku yang tumbuh di Jakarta sejak awal 1970-an dan meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Bahasa ini dikenal sebagai simbol identitas anak muda Jakarta pada era 70-an hingga 80-an, dengan ciri khas berupa sisipan fonetik dan pola pembalikan kata. Ia mencerminkan kreativitas linguistik sekaligus dinamika sosial-budaya remaja urban Indonesia kala itu.
Asal Usul dan Latar Sejarah
Advertisement
️ Akar Kriminal (1950-an)
Bahasa prokem pertama kali muncul di lingkungan kriminal sebagai bahasa sandi, digunakan untuk menyamarkan pesan dan menghindari deteksi pihak luar, termasuk aparat keamanan.
Masuk ke Dunia Remaja (1970-an)
Popularitasnya mulai melejit ketika penulis Teguh Esha merilis novel Ali Topan Detektip Partikelir. Dalam novel tersebut, Teguh menyertakan daftar kosakata bahasa prokem, yang kemudian menjadi acuan para pembaca muda. Bahasa ini pun mulai digunakan luas di kalangan remaja perkotaan.
Puncak Popularitas (1980-an)
Pada era 80-an, bahasa prokem mencapai puncaknya. Ia digunakan dalam percakapan sehari-hari, musik, film, hingga media massa. Bahasa ini tidak lagi bersifat rahasia, melainkan menjadi gaya tutur anak gaul Jakarta.
Ciri Khas Bahasa Prokem
a. Sisipan -ok-
Ciri paling ikonik adalah penggunaan sisipan -ok- yang disisipkan setelah fonem pertama dari potongan kata awal.
Contoh:
• Bapak → bokap
• Preman → prokem
b. Pola Kata yang Dibalik
Beberapa kosakata dibentuk dengan membalik suku kata, menciptakan bentuk baru yang tetap mudah dikenali di antara sesama pengguna.
Contoh:
• Beres → rebes
• Besok → sebok
c. Pola-pola Alternatif
Selain pola baku, terdapat banyak bentuk variasi yang lahir dari kreativitas spontan:
Contoh:
• Rumah → rokum
• Janda → joken
• Jawa → jokaw
• Mas → magas
Walau tidak mengikuti aturan sistematis, variasi-variasi ini tetap berakar pada semangat prokem: bermain dengan bahasa.
️ d. Campuran Bahasa Indonesia dan Dialek Betawi
Bahasa prokem kerap mencampurkan struktur kalimat dan fonologi dari bahasa Indonesia dengan dialek Betawi, menghasilkan gaya tutur yang lincah, ekspresif, dan khas remaja Jakarta.
Dari Bahasa Sandi ke Tren Sosial
Yang membuat bahasa prokem istimewa bukan hanya bentuk katanya, tetapi transformasinya:
➡️ dari alat komunikasi bawah tanah,
➡️ menjadi simbol pergaulan dan gaya hidup anak muda.
Pada era 1980-an, kemampuan menggunakan bahasa prokem mencerminkan status sosial. Remaja yang menggunakan prokem dianggap modern, gaul, dan ekspresif.
Namun, seiring perkembangan zaman, bahasa prokem mulai surut. Masuk dekade 1990-an, ia tergantikan oleh bentuk bahasa informal baru yang kini dikenal sebagai bahasa gaul.
Warisan yang Masih Hidup
Meski tidak lagi dominan, beberapa kata dari bahasa prokem masih bertahan hingga kini dan menjadi bagian dari bahasa sehari-hari masyarakat urban:
✅ Bokap → Ayah
✅ Nyokap → Ibu
✅ Ngacir → Kabur
✅ Ngebet → Sangat ingin
Bahasa prokem adalah lebih dari sekadar gaya berbahasa. Ia adalah pantulan zaman, cermin gaya hidup, dan identitas sosial remaja urban di masa lalu. Dari dunia kriminal hingga dunia gaul, bahasa ini telah memainkan perannya dalam sejarah perkembangan bahasa lisan Indonesia. Meski bentuknya berubah, roh kreatifnya tetap hidup dalam cara kita bermain-main dengan kata sampai hari ini.
Berikut adalah daftar kosakata bahasa prokem yang telah disusun menurut abjad:
️ Daftar Kosakata Bahasa Prokem (A–Z)
• Beken: Keren
• Beler: Mabuk
• Bete: Jenuh
• Boker: Buang air besar
• Bokin: Pacar
• Bokap: Bapak
• Bokis: Bisa / Bohong
• Bo’il: Mobil
• Berokap: Berapa
• Cabut: Pergi
• Caper: Cari perhatian
• Caw: Pergi
• Celoken: Celana
• Cembokur: Cemburu
• Cengin: Bully
• Cokin: Orang Cina
• Dimokam: Di mana
• Do’i: Dia
• Dokat: Duit
• Doku: Duit
• Gele: Ganja
• Gintur: Tidur
• Gokil: Gila
• Honger: Lapar
• Hopeng: Teman dekat
• Ja’im: Jaga image
• Jiper: Takut
• Joken: Janda
• Jokaw: Jawa
• Jokul: Jual
• Ke Sokin: Ke sini
• Kece: Cantik
• Kemek: Tidur
• Kemokam: Ke mana
• Kenokap: Kenapa
• Kokay: Kaya
• Kolekan: Patungan
• Kompas: Meminta paksa
• Kuper: Kurang pergaulan
• La’u: Kamu
• Lajong: Jalan-jalan
• Lango: Tentara
• Li’aw: Hilang
• Lokit: Lihat
• Madol: Bolos
• Magas-magas: Mas-mas
• Mokal: Malu
• Mokat: Mati
• Ngeceng: Jalan-jalan sambil menggoda lawan jenis
• Ngeper: Takut
• Nokip: Mabuk-mabukan
• Noskaw: Nonton
• Nyokap: Ibu
• Ogut: Saya
• Palak: Meminta paksa
• Pembokat: Pembantu
• Pentolan: Kepala geng
• Perek: WTS
• Plokis: Polisi
• Rebes: Beres
• Rokum: Rumah
• Sa’ik: Asyik
• Samuk: Masuk
• Sebok: Besok
• Sekul: Sekolah
• Selon: Nekat
• Sendokir: Sendiri
• Senga: Kelakuan menyebalkan
• Sepokat: Sepatu
• Siokap: Siapa
• Tengsin: Malu
• Yo’i: Iya
Advertisement
Advertisement
