Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Dari Uang Perak dan Emas Sampai Kertas, Kok Bisa?

Dari Uang Perak dan Emas Sampai Kertas, Kok Bisa?

Ragam Jumat, 15 Agustus 2025 23:00 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com,Sebelum dunia mengenal lembaran kertas berwarna atau koin logam modern, kerajaan-kerajaan di berbagai belahan bumi memanfaatkan sumber daya yang tersedia sebagai alat tukar. Nilainya sering kali bergantung pada kelangkaan, daya tahan, serta makna simbolis di mata masyarakat.

Di kekaisaran besar seperti Romawi, Dinasti Han, dan Kesultanan Ottoman, emas dan perak menjadi primadona. Stabilitas nilainya membuat logam mulia ini disukai untuk perdagangan lintas wilayah. Bagi rakyat jelata, koin tembaga atau perunggu lebih umum dipakai karena murah dan praktis. Bahkan fi Afrika Barat dan Asia Selatan, kerang cowrie dijadikan ‘mata uang’ yang tak hanya bernilai ekonomis tetapi juga kultural. Uang Majapahir pun ada yang dari kerang laut. Tidak diketahui persis, mengapa benda-benda tersebut bisa bernilai pada zamannya. Di Kepulauan Yap, Mikronesia, batu raksasa rai stone digunakan untuk transaksi simbolis seperti pernikahan atau perjanjian politik. Ada pula kerajaan yang memanfaatkan kulit hewan, bulu cerpelai, hingga batangan garam sebagai ‘emas putih’ untuk perdagangan jarak jauh. Tentu semua bisa bernilai karena pandangan masyarakat pada zaman itu.

Advertisement

Di luar fenomena itu, perak dan emas menjadi bahan mata uang yang paling berharga. Seiring berkembangnya perdagangan jarak jauh, terutama di Jalur Sutra dan pelabuhan internasional, membawa uang logam dalam jumlah besar menjadi masalah. Berat, berisiko dirampok, dan sulit dihitung cepat. Di sinilah peran para goldsmith banker di Eropa abad pertengahan muncul. Tukang emas yang awalnya hanya membuat perhiasan mulai menyediakan jasa penyimpanan emas untuk para bangsawan dan pedagang. Sebagai bukti, mereka mengeluarkan tanda terima kertas.

Di Eropa abad pertengahan, terutama sejak abad ke-14 hingga ke-17, mulai muncul kelas profesional baru yang kelak memainkan peran revolusioner dalam sejarah ekonomi — para bankir.

BACA JUGA:  Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Awalnya, bankir hanyalah pandai emas atau tukang perhiasan yang memiliki brankas kuat. Dalam situasi itu, para pedagang besar mempercayakan emas batangan mereka kepada mereka untuk disimpan demi keamanan. Setiap kali emas disetor, pemiliknya menerima secarik tanda terima atau “goldsmith’s receipt” — secarik kertas yang menjadi bukti kepemilikan emas tersebut.

Di sinilah awal mula keajaiban ekonomi terjadi. Para pedagang yang saling mengenal mulai menyadari bahwa tanda terima emas itu dapat dipindahtangankan. Daripada kembali ke brankas untuk mengambil emas fisik, mereka cukup menyerahkan tanda terima itu kepada pihak lain sebagai pembayaran. Perlahan, tanda terima emas ini mulai berfungsi sebagai alat tukar — bentuk primitif dari uang kertas.

Perubahan ini dipercepat oleh faktor praktis: emas berat, sulit dibagi, dan rawan dicuri. Sementara selembar kertas jauh lebih ringan, mudah dibawa, dan dapat ditulis dalam nominal yang presisi. Bankir pun mulai menyadari bahwa jarang sekali semua pemilik emas mengambil simpanannya pada waktu yang sama. Dari sinilah muncul ide kontroversial: mengeluarkan lebih banyak tanda terima daripada jumlah emas yang benar-benar ada di brankas — cikal bakal sistem perbankan cadangan fraksional (fractional reserve banking).

Kerajaan dan pemerintah segera melihat potensi besar dari sistem ini. Inggris, pada abad ke-17, menjadi salah satu pionir dengan mendirikan Bank of England pada tahun 1694. Bank ini mendapat izin dari pemerintah untuk menerbitkan banknote yang dapat digunakan secara luas, pada awalnya dijamin dengan emas, tetapi lambat laun menjadi instrumen keuangan yang berdiri sendiri.

Namun, Inggris bukan satu-satunya pelaku awal. Di Tiongkok, praktik penggunaan uang kertas seperti itu telah muncul jauh lebih awal, pada masa Dinasti Tang (abad ke-7–9) dalam bentuk “jiaozi”, yang kemudian berkembang pesat di era Dinasti Song (abad ke-11). Perbedaan utamanya adalah uang kertas Tiongkok saat itu diterbitkan langsung oleh pemerintah, bukan oleh bankir swasta.

BACA JUGA:  Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Di Eropa, model bankir-penyimpan-emas yang bertransformasi menjadi penerbit uang kertas menjadi fondasi bagi revolusi perdagangan dan industri. Kota-kota pelabuhan seperti Amsterdam dan Venesia menjadi pusat eksperimen finansial. Bank of Amsterdam bahkan sejak abad ke-17 telah menerapkan sistem di mana deposit emas dapat diperdagangkan secara ‘buku’ tanpa pernah berpindah fisik.

Banyak orang mengkritik, apa nilainya kertas? Kok mau emas yang betul-betul memilki nilai dasar diganti dengan kertas yang tak bernilai. Demikian ceritanya.

Pada abad ke-18 hingga ke-19, hampir seluruh kerajaan besar di dunia telah mengadopsi uang kertas sebagai instrumen resmi, baik yang masih dijamin emas (gold standard) maupun yang sudah lepas dari emas (fiat money). Evolusi ini mengubah wajah perekonomian global: perdagangan internasional menjadi lebih cepat, modal lebih mudah bergerak, dan kerajaan-kerajaan mampu membiayai ekspansi mereka tanpa harus mengangkut peti-peti emas melintasi lautan.

Namun, warisan dari masa ketika bankir pertama kali mengeluarkan tanda terima emas tetap terasa hingga kini. Setiap lembar uang kertas modern adalah keturunan langsung dari tanda terima sederhana yang dahulu diberikan oleh seorang tukang emas kepada pedagang yang menitipkan hartanya — sebuah bukti bahwa kepercayaan adalah fondasi utama dari setiap sistem moneter.

Di era sekarang ini bahkan gejala uang kertas mulai ditinggalkan mulai tampak, diganti uang virtual. Kertas maupun angka digital hanya bentuk representasi dari nilai emas dan perak yang sebetulnya tidak pernah tergantikan sepanjang zaman.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Ragam

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Ragam

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Ragam

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Ragam

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

BERITA TERBARU

Lada ‘Black Gold’, Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Febi Pirmansyah Kritik Pernyataan Cak Imin soal NU: Jangan Salahkan Organisasi, Lihat Rekam Jejak Sendiri

Aksi Gerakan 9 di Malingping Diwarnai Bentrokan, Mahasiswa Desak Pemeriksaan Proyek Jalan Cikeusik–Simpang Cijaku

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.