Advertisement
GazanaPublika.com – Pertanyaan tentang apa itu hidup, mengapa yang mati bisa menjadi hidup, dari mana kesadaran muncul, mengapa DNA bersifat terarah, dan bagaimana manusia dapat memiliki ‘Aku’, adalah pertanyaan yang jauh melampaui batas disiplin biologi. Ia menyentuh inti persoalan metafisika kehidupan—wilayah yang menghubungkan biologi, fisika, filsafat, metafisika, hingga teologi. Pada titik tertentu, sains modern sendiri mengakui bahwa persoalan ini tidak mungkin dijawab oleh analisis biologis semata.
Biologi telah berhasil memetakan struktur makhluk hidup, menjelaskan fungsi organ, merunut mekanisme molekuler DNA, serta menggambarkan bagaimana sel bekerja, membelah diri, dan berkembang. Namun, ironisnya, semakin dalam sains meneliti kehidupan, semakin tampak bahwa hakekat hidup itu sendiri tetap berada di luar jangkauan penjelasan ilmiah. Para ahli hanya mampu menyebut ciri-ciri kehidupan—seperti metabolisme, reproduksi, respons terhadap rangsang, adaptasi, hingga pertumbuhan—tetapi tidak mampu menjelaskan apa substansi yang membuat sesuatu ‘hidup’. Mereka hanya dapat menggambarkan bagaimana hidup bekerja, bukan apa yang membuat sesuatu hidup, atau dari mana prinsip kehidupan itu berasal.
Advertisement
Di dalam laboratorium, sel diperlihatkan sebagai sekumpulan reaksi kimia. DNA direduksi menjadi rantai nukleotida. Protein dijelaskan sebagai hasil lipatan molekul. Neuron dipetakan sebagai jaringan listrik-kimia. Kesadaran diperlakukan sebagai produk aktivitas otak. Namun, seluruh penjelasan mekanistik ini tidak pernah menjawab pertanyaan paling mendasar: bagaimana materi yang pada awalnya mati, tanpa kesadaran dan tanpa arah, bisa menjadi sesuatu yang hidup, bergerak, merasa, berpikir, dan akhirnya menyadari keberadaannya sendiri?
Pada titik ini, kita memasuki wilayah metafisika yang tidak dapat dipisahkan dari pembahasan ilmiah. Sistem biologis pada dasarnya adalah pola—dan pola bukan substansi hidup. Sel, jaringan saraf, DNA, membran, organ, dan molekul-molekul kehidupan lainnya hanyalah susunan materi. Mereka memiliki struktur, tetapi struktur bukanlah kehidupan. Mereka memiliki bentuk, tetapi bentuk bukanlah daya. Mereka menyimpan instruksi, tetapi instruksi bukanlah kesadaran.
Yang disebut kehidupan memerlukan sesuatu yang bukan sekadar pola, melainkan daya yang menghidupkan pola itu. Tanpa daya tersebut, sel hanyalah kumpulan karbon dan hidrogen; DNA hanyalah kristal kimia; otak hanyalah jaringan lemak dan listrik. Ketika daya itu hilang, seluruh sistem biologis tetap ada, tetapi hidup lenyap dari dalamnya. Mayat manusia memiliki semua organ yang sama dengan manusia hidup, tetapi tidak ada lagi ‘kehidupan’—sebuah kenyataan sederhana yang menunjukkan bahwa kehidupan tidak dapat direduksi menjadi molekul.
Pada titik ini, banyak ilmuwan jujur mengatakan: life is not fully explained. Salah satu misteri terbesar adalah potensi ‘terarah’ yang tampak pada DNA. Para ahli biologi mengetahui bahwa DNA mampu mengatur kapan dirinya harus aktif atau pasif, kapan harus membentuk organ tertentu, kapan harus memicu pertumbuhan, kapan harus berhenti, dan kapan harus memperbaiki diri. Namun tidak ada ilmuwan yang bisa menjelaskan mengapa DNA bisa melakukan semua itu. DNA memiliki potensi bawaan untuk menjadi tubuh, menjadi organ, menjadi jaringan saraf, mengaktifkan insting tertentu, mengarahkan pertumbuhan embrio, dan menentukan spesies makhluk hidup.
Potensi ini bukan buatan manusia. Ia diturunkan dari sesuatu yang jauh lebih awal, dari rangkaian kehidupan yang tidak terputus. Bahkan, DNA sendiri sudah sering disebut sebagai ‘bahasa’, ‘tata bahasa biologis’, bahkan ‘kitab informasi’ yang memuat instruksi sangat kompleks. Tetapi bahasa tidak mungkin muncul dari kebetulan semata tanpa adanya prinsip pengatur. Biologi mampu menguraikan kode genetik, tetapi tidak dapat menjelaskan asal-usul kode itu, atau apa yang menanamkan keterarahan pada susunan kimia tersebut.
Lebih jauh lagi, kehidupan bukan hanya mekanisme biologis, tetapi juga mencakup insting, kesadaran, hingga ‘Aku’. DNA memang memuat potensi insting, tetapi insting tidak dapat direduksi menjadi reaksi kimia semata. Ia merupakan bentuk kecenderungan hidup yang tidak dapat dijelaskan melalui hukum fisika atau kimia. Hewan tahu bagaimana bertahan hidup, tahu mana yang harus dimakan, tahu bagaimana melindungi diri, bahkan tahu kapan harus bermigrasi. Tidak satu pun penjelasan kimia dapat menerangkan asal-usul kecenderungan tersebut.
Kesadaran manusia jauh lebih misterius. Kesadaran diri—kemampuan untuk mengatakan “Aku adalah aku”—adalah fenomena yang tidak dapat dijelaskan oleh aktivitas neuron. Tidak ada ilmuwan yang mampu menerangkan bagaimana sensasi subjektif muncul, mengapa kita bisa merasakan kehadiran diri, atau bagaimana persepsi menjadi pengalaman batin. Pertanyaan bagaimana benda yang tidak sadar dapat menghasilkan kesadaran adalah pertanyaan filosofis paling sulit dalam studi otak modern. Inilah yang disebut The Hard Problem of Consciousness.
Semua ini mengarah pada kesimpulan bahwa DNA saja tidak cukup untuk menjelaskan hidup. DNA adalah pola, kode, struktur, dan arsip instruksi. Tetapi seperti komputer memiliki program tetapi membutuhkan listrik, seperti lampu memiliki filamen tetapi membutuhkan energi, tubuh memiliki DNA tetapi membutuhkan daya hidup. Bila daya itu tidak hadir, DNA hanyalah debu kimia. Ini menunjukkan adanya sesuatu yang lebih fundamental daripada molekul—sesuatu yang menjadi penyebab hidup itu sendiri.
Pertanyaannya: dari manakah daya hidup itu berasal?
Penjelasan ilmiah yang paling jujur mengatakan bahwa kita tidak tahu. Istilah seperti unknown origin of life energy, vital force problem, dan emergence gap muncul dalam literatur sains untuk menandai kekosongan pemahaman tersebut.
Filsafat klasik menawarkan konsep-konsep seperti entelecheia dari Aristoteles (daya untuk menggerakkan diri), conatus dari Spinoza (dorongan eksistensi yang melekat pada sesuatu yang hidup), dan Geist menurut Hegel (roh yang memanifestasikan dirinya dalam kehidupan). Filsafat mengakui adanya prinsip non-materi yang membuat organisme hidup berbeda dari benda mati.
Dalam tradisi keagamaan, jawaban ini bahkan lebih eksplisit. Kehidupan dianggap berasal dari ‘ruh’ atau ‘nafas kehidupan’ yang ditiupkan ke dalam jasad. Dalam Islam istilahnya adalah ruh, nafakhna fīhi min rūḥinā, dan hayah. Dalam tradisi India dikenal prana, di Tiongkok qi atau chi, dan dalam banyak kepercayaan kuno dikenal konsep ‘daya vital’. Semua tradisi, dari Timur hingga Barat, memiliki satu kesepakatan: hidup adalah fenomena yang tidak bisa dijelaskan oleh materi saja.
Pada akhirnya, kesimpulan paling jujur adalah bahwa DNA hanyalah pola, bukan sumber hidup. Sistem biologis hanyalah rangka, bukan penyebab hidup itu sendiri. Insting tidak dapat dijelaskan sebagai produk kimia, dan kesadaran tidak dapat direduksi menjadi listrik-neuron. Biologi belum mampu menentukan apa itu hidup, dan jelas ada ‘daya hidup’ di balik materi yang memungkinkan segala bentuk keberadaan biologis terjadi. Dengan kata lain, biologi mempelajari mekanisme, tetapi bukan sumber mekanisme tersebut.
Apabila ingin memahami lebih jauh ‘apa’ yang membuat materi bisa hidup, ada tiga arah besar yang dapat dijelajahi: vitalisme modern yang menganggap hidup memerlukan unsur non-materi; emergentisme radikal yang menganggap hidup muncul dari kompleksitas tetapi bukan sepenuhnya materi; serta pandangan ruhani yang menganggap kehidupan berasal dari suatu unsur di luar materi yang kemudian menyinari materi sehingga ia bisa hidup.
Arah mana pun yang dipilih untuk didalami, yang jelas misteri kehidupan selalu membawa kita ke wilayah yang lebih luas daripada sekadar sains. Ia membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan paling mendasar tentang keberadaan, tentang kesadaran, tentang sebab pertama, bahkan tentang makna manusia itu sendiri. (redaksi)
Advertisement
