Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Sejarah Dou Donggo Dalam Masyarakat Bima (Bagian 3)

Sejarah Dou Donggo Dalam Masyarakat Bima (Bagian 3)

Ragam Senin, 20 November 2023 16:09 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Suku-Donggo-Bima
Suku Donggo (Foto-Wikipedia)

Advertisement

GAZANAPUBLIKA.COM – Setelah meninggalkan Istana Kesultanan Bima, Ompu Donggo mengalami nasib tragis. Dia ditemukan tewas dengan pengikat kepala yang berlumuran darah di So Ule Asakota. Pembunuhnya tidak diketahui. Ada asumsi bahwa jenazah Ompu Donggo kemudian dibuang di tanah Bugis.

Akibatnya, orang Donggo mulai merasa tidak menyukai Sultan dan masyarakat Bima. Mereka mulai menganggap Sultan sebagai antek kompeni Belanda atau musuh. Ini menyebabkan orang-orang Donggo menolak segala hal yang berasal dari daerah Bima, termasuk penyebaran agama Islam.

Advertisement

Permintaan Belanda akhirnya dikabulkan oleh Sultan. Belanda menjadikan distrik Donggo sebagai wilayah strategis dan tempat singgah karena keadaan iklim yang sejuk, sumber daya alam yang melimpah seperti kemiri, cengkeh, dan kopi, serta pemandangan indah dan luas menuju Kesultanan Bima.

BACA JUGA:  Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Selain itu, Belanda juga membiarkan para misionaris menyebarkan agama Kristen di Donggo, terutama di Mbawa dan sekitarnya, menjadikan wilayah tersebut sebagai minoritas Muslim dalam wilayah Bima.

Namun, penyebaran agama Kristen di Desa Kala dan Desa O’o di Donggo lainnya menghadapi perlawanan dari Ncuhi dan masyarakat Donggo, yang melakukan gerakan bawah tanah untuk melawan Belanda. Penolakan ini berlanjut hingga terjadinya Perang Kala pada tahun 1907-1909 Masehi.

Kesultanan Bima pada masa itu terkungkung oleh kebijakan kolonial Belanda, yang membatasi sekolah-sekolah dan menghambat penyebaran Islam, terutama di Mbawa, Sangari, Jango, dan Tolonggeru.

Namun, di wilayah Donggo Pesisir Bajo, Sarita, Sai, Sowa, O’o Punti, dan Doridungga, Islam telah tumbuh sebelum Belanda menjajah. Di daerah tersebut, ada sebuah kuburan seorang pendakwah Islam dari Minangkabau, yang merupakan utusan dari Kesultanan Gowa, diperkirakan telah ada sejak abad ke-17 hingga ke-18 Masehi. Kuburan ini masih menjadi bukti sejarah yang menjadi bagian dari warisan Donggo yang telah dipengaruhi Islam selama berabad-abad. (****)

BACA JUGA:  Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Advertisement

Sejarah Tradisi
Ricky Fadil
  • Website

Editor

BERITA LAINNYA

Ragam

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Ragam

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Ragam

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Ragam

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

BERITA TERBARU

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Kapolda Banten Sampaikan Commander Wish Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat’

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version