Advertisement
GAZANAPUBLIKA.COM – Setelah meninggalkan Istana Kesultanan Bima, Ompu Donggo mengalami nasib tragis. Dia ditemukan tewas dengan pengikat kepala yang berlumuran darah di So Ule Asakota. Pembunuhnya tidak diketahui. Ada asumsi bahwa jenazah Ompu Donggo kemudian dibuang di tanah Bugis.
Akibatnya, orang Donggo mulai merasa tidak menyukai Sultan dan masyarakat Bima. Mereka mulai menganggap Sultan sebagai antek kompeni Belanda atau musuh. Ini menyebabkan orang-orang Donggo menolak segala hal yang berasal dari daerah Bima, termasuk penyebaran agama Islam.
Advertisement
Permintaan Belanda akhirnya dikabulkan oleh Sultan. Belanda menjadikan distrik Donggo sebagai wilayah strategis dan tempat singgah karena keadaan iklim yang sejuk, sumber daya alam yang melimpah seperti kemiri, cengkeh, dan kopi, serta pemandangan indah dan luas menuju Kesultanan Bima.
Selain itu, Belanda juga membiarkan para misionaris menyebarkan agama Kristen di Donggo, terutama di Mbawa dan sekitarnya, menjadikan wilayah tersebut sebagai minoritas Muslim dalam wilayah Bima.
Namun, penyebaran agama Kristen di Desa Kala dan Desa O’o di Donggo lainnya menghadapi perlawanan dari Ncuhi dan masyarakat Donggo, yang melakukan gerakan bawah tanah untuk melawan Belanda. Penolakan ini berlanjut hingga terjadinya Perang Kala pada tahun 1907-1909 Masehi.
Kesultanan Bima pada masa itu terkungkung oleh kebijakan kolonial Belanda, yang membatasi sekolah-sekolah dan menghambat penyebaran Islam, terutama di Mbawa, Sangari, Jango, dan Tolonggeru.
Namun, di wilayah Donggo Pesisir Bajo, Sarita, Sai, Sowa, O’o Punti, dan Doridungga, Islam telah tumbuh sebelum Belanda menjajah. Di daerah tersebut, ada sebuah kuburan seorang pendakwah Islam dari Minangkabau, yang merupakan utusan dari Kesultanan Gowa, diperkirakan telah ada sejak abad ke-17 hingga ke-18 Masehi. Kuburan ini masih menjadi bukti sejarah yang menjadi bagian dari warisan Donggo yang telah dipengaruhi Islam selama berabad-abad. (****)
Advertisement
Advertisement
