Advertisement
GazanaPublika.com – Langit mulai memerah ketika Vio, pendaki muda asal Semarang, memandang sekelilingnya. Sejak beberapa menit lalu, dia mulai merasa ada yang tidak beres. Jalur di depannya hanya hutan lebat, tak ada seorang pun yang terlihat. Tiba-tiba, suasana mendadak sunyi, hanya suara dedaunan yang diterpa angin yang terdengar. Rasa panik mulai merayap. Vio, yang baru berusia 17 tahun, sadar ia tersesat di Gunung Slamet.
Perjalanan Vio dimulai dengan semangat besar pada Sabtu, 5 Oktober 2024. Ia berangkat dari rumahnya di Genuk, Semarang, menuju Purbalingga dengan motor, berbekal keberanian dan sedikit pengalaman mendaki. Ia tak mengenal siapa pun dalam rombongan itu sebelumnya. Mereka bertemu di basecamp, sebuah kelompok pendaki yang hanya mengenalnya dari sebuah aplikasi media sosial.
Advertisement
Mendaki Gunung Slamet bagi Vio adalah tantangan baru, meski sebelumnya ia pernah menaklukkan Gunung Ungaran. Dalam pendakian itu, ada tiga kelompok, dan Vio tergabung dalam kelompok ketiga, yang berisi tujuh orang. Perjalanan mereka dimulai dari basecamp Bambangan sekitar pukul 23.45 WIB. Mereka bertekad tidak mendirikan tenda, langsung turun setelah mencapai puncak.
Saat fajar menyingsing di Plawangan, sekitar pukul 10.00 WIB, Vio dan rombongannya disambut oleh keindahan matahari terbit. Sinar matahari yang hangat terasa menenangkan, meski puncak masih menunggu mereka. Sekitar pukul 12.00 WIB, mereka akhirnya sampai di puncak, merayakan keberhasilan mereka. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
Ketika turun, Vio mulai kehilangan jejak kelompoknya. Tiga orang dari kelompoknya telah turun lebih dulu, sementara Vio berjalan bersama dua laki-laki dan satu perempuan. Namun, pada satu titik, ia menoleh ke belakang dan tak menemukan siapa pun. Kembali ia menatap ke depan, tapi tak ada siapa-siapa di sana. Seolah dalam sekejap, Vio sendirian.
“Saya mulai panik. Depan dan belakang nggak ada siapa-siapa. Saya teriak, tapi nggak ada yang dengar,” ujar Vio. Hutan yang semula terlihat biasa, kini berubah menjadi labirin menakutkan.
Hari Minggu, pikiran Vio terpecah. Di benaknya, hanya ada satu hal: ia harus pulang untuk mengantar adik-adiknya ke gereja. “Saya kepikiran gereja, pokoknya harus pulang,” kenangnya. Namun, jalur di depannya tak sesuai dengan yang ia ingat. Hutan yang padat dan jalur yang semakin tak jelas membuatnya bingung harus ke mana.
Sambil menenangkan diri, Vio memutuskan untuk terus berjalan. Dia menelusuri jalur yang ada di depannya, hingga menemukan pagar. Namun, ketika mencoba menuruni jalan itu, Vio merasa jalurnya semakin menanjak. Dengan tubuh lelah, ia akhirnya duduk di atas batu besar, mengenakan jas hujan saat gerimis mulai turun.
Malam itu, Vio tak bisa benar-benar tidur. Dia hanya bersandar pada batu, dengan tubuhnya yang menggigil dan perut yang mulai lapar. Bekal yang dibawanya hanya sepotong roti dan sedikit air. “Setiap hari saya makan sepotong roti, biar hemat,” tuturnya.
Saat fajar merekah di hari Senin, Vio menyaksikan keajaiban kecil di depannya. Seekor burung muncul, seolah memberikan petunjuk. “Burung itu seperti ngarahin saya ke jalan yang benar. Saya ikuti dia, tapi jalur yang dipilih sangat sulit, penuh akar dan bebatuan,” jelas Vio. Meskipun jalurnya buruk, Vio terus mengikuti burung itu dengan harapan akan menemukan jalan keluar.
Namun, upaya mencari jalan keluar tak kunjung membuahkan hasil. Hujan mulai turun deras di sore hari, membuat Vio memutuskan berhenti dan bersandar di sebuah pohon. Setelah tertidur sejenak, ia terbangun dan melihat seberkas cahaya senter dari kejauhan. Hatinya tergetar antara harapan dan keraguan. “Saya lihat ada senter, tapi nggak tahu itu orang atau bukan,” katanya.
Selasa pagi, ketika Vio hampir putus asa, ia mendengar suara teriakan dari kejauhan. “Mbak Vio di mana?” Suara itu seperti lonceng harapan yang akhirnya terdengar setelah dua malam menghilang di hutan. “Saya teriak ‘di sini!’ dan lega banget rasanya,” kenang Vio sambil tersenyum.
Tim pencari akhirnya menemukannya di Pos 7. Mereka berjalan turun bersama mulai pukul 10.00 WIB hingga tiba di basecamp pukul 16.00 WIB. Vio, yang meski lemas dan terluka, tetap berjalan dengan kekuatan sisa, menolak untuk digendong oleh tim penyelamat.
Saat tiba di rumahnya pada Selasa malam, Vio langsung memeluk kedua orang tuanya dan menangis sejadi-jadinya. “Nggak nyangka bisa ketemu lagi sama keluarga,” ucapnya. Setelah dua malam yang penuh ketakutan dan keputusasaan, Vio akhirnya pulang dengan selamat, meski trauma akan tetap menghantui langkahnya di gunung-gunung berikutnya.
Namun, bagi Vio, pengalaman itu juga menjadi pengingat akan kekuatan doa dan cinta keluarga. “Saya nggak mau menyerah, saya terus berpikir tentang mama, papa, dan adik-adik. Saya nggak bisa ninggalin mereka begitu saja,” pungkasnya.
Sumber: Detik.com
Advertisement
Advertisement
