Advertisement
,GazanaPublika.com – Yaman juga dikenal dengan negeri Hadramaut. Menurut legenda mitologis Arab, nama Hadramaut dapat ditelusuri dari kisah Amir bin Qahtan, tokoh yang sangat dihormati dalam sejarah Arab kuno. Hadramaut diyakini berasal dari gabungan kata hadhra (yang berarti hadir) dan mout (kematian), yang secara harfiah berarti ‘tempat di mana kematian hadir’. Nama ini mengacu pada cerita kuno tentang Amir bin Qahtan yang dianggap sebagai penguasa yang membawa kematian dan kehancuran bagi musuh-musuhnya. Dalam mitologi tersebut, kematian menjadi bagian tak terpisahkan dari kehadiran sang pemimpin, yang diyakini memiliki kekuatan yang sangat besar.
Salah satu aspek mitologis yang menarik adalah kaitan Hadramaut dengan Sumur Barhut, yang terkenal dalam tradisi Islam dan Arab sebagai tempat yang penuh misteri dan aura gelap. Sumur Barhut, yang terletak di Hadramaut, Yaman, dikenal sebagai sumur terburuk, dan dalam beberapa cerita rakyat, tempat ini dipercaya dihuni oleh makhluk gaib, termasuk jin.
Advertisement
Dijelaskan dalam Kitab Al mu’jam Al kabir – Imam Thabrani : Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah mengabarkan akan keadaan sumur ini dengan sabdanya, ‘Sebaik-baik air di atas permukaan bumi ini adalah air Zamzam karena di dalamnya mengandung zat yang dapat mengenyangkan dan obat dari sebuah penyakit, begitu juga sejelek-jelek air di atas permukaan bumi adalah air dari sumur barhut yang terletak di Hadramaut seperti kumpulan belalang yang di pagi harinya sumur tersebut memancarkan air kemudian pada sore harinya mengering yang tidak terdapat berkas basah apapun di atasnya,”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Ra: “Arwah orang mu’min itu di jabiyah-negeri Syam, dan arwah orang kafir di lembah/Sumur Barhut – di Hadramaut.”
Ada yang menafsirkan sumur ini adalah sumur Iblis dan juga yang menyebutnya sumur neraka. Ada keyakinan bahwa sumur ini tidak hanya menjadi simbol kutukan dan kejahatan, tetapi juga terkait dengan perasaan kegelapan dan kematian yang seolah terhubung dengan nama Hadramaut itu sendiri.
Hadramaut di Yaman, juga pernah dihuni oleh kaum Hud dimana keberadaan mereka dengan Sumur Hud, di wilayah Ahqaf, tepatnya di Lembah Hud.
Hadramaut dan Sumur Barhut hanya sepenggal kisah dari beberapa kisah lainnya di negeri Yaman. Kisah lainnya berhubungan dengan keangkuhan yang berujung pada malapetaka besar yang menyebabkan kehancuran yang berada di dalam Al Qur’an. Azab yang menimpa Kaum ‘Ad yang merupakan umat Nabi Hud As seolah menjadi simbol dari tempat yang menghantarkan kegelapan dan maut akibat keingkaran mereka. Hal tersebut mengingatkan kita bahwa keberkahan hanya dapat diperoleh melalui ketaatan kepada Allah, bukan dengan kesombongan dan pengingkaran.
Dari keterangan Al Quran dan didukung negeri tersebut dapat dipahami apabila beberapa wilayah di Yaman mendapatkan malapetaka dari Allah akibat prilaku mereka. Di sisi lain, di balik setiap kisah peradaban besar yang tumbuh subur dan makmur, ada pelajaran yang tersimpan tentang bagaimana keangkuhan dan kelalaian terhadap nikmat Tuhan bisa mengundang kehancuran. Semua peristiwa tersebut mengandung hikmah terkait sebuah peringatan Allah bahwa azab yang menimpa mereka menjadi pelajaran bagi umat yang datang setelahnya, khususnya untuk masyarakat Yaman dan umumnya bagi semua manusia bahwa tidak ada manusia yang kuat dan hebat di hadapan Allah.
Berikut disajikan kisah-kisah kaum di negeri Yaman yang pernah di azab Allah SWT yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sejarah adalah sebagai berikut:
1. Kisah Ashabul Fil (Pasukan Bergajah)
Pada tahun 571 M, yang dikenal sebagai Tahun Gajah, terjadi sebuah peristiwa yang menandakan kekuasaan Allah. Tahun ini juga bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Peristiwa ini bermula ketika Raja Abraha, gubernur Yaman di bawah kekuasaan Kerajaan Aksum (Ethiopia), membangun sebuah gereja megah yang disebut Al-Qullais di Yaman. Abraha ingin menjadikan gereja tersebut sebagai pusat ibadah, menggantikan Ka’bah di Mekkah. Namun, orang-orang Arab tetap memuliakan Ka’bah sebagai tempat suci mereka. Merasa terhina, Abraha memutuskan untuk menghancurkan Ka’bah dengan membawa pasukan besar dan seekor gajah raksasa.
Pasukan Abraha yang dikenal dengan nama Pasukan Bergajah ini bergerak menuju Mekkah. Penduduk Mekkah yang dipimpin oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad ﷺ, tidak memiliki kekuatan untuk melawan pasukan besar itu. Mereka hanya bisa berdoa kepada Allah untuk melindungi Ka’bah. Allah kemudian mengirim burung-burung kecil yang disebut Ababil. Burung-burung tersebut membawa batu-batu panas dari neraka yang dilemparkan ke arah pasukan Abraha. Pasukan tersebut hancur, dan Abraha sendiri terluka parah hingga akhirnya meninggal dalam perjalanan kembali ke Yaman.
Peristiwa ini diabadikan dalam Surah Al-Fil (QS 105), sebagai pengingat bahwa Allah adalah pelindung Ka’bah dan tidak ada kekuatan yang dapat melawan kehendak-Nya.
2. Kaum Hud dan Azab yang Menimpa Mereka
Di tanah Yaman yang kaya dengan peradaban, kisah lainnya yang menjadi pelajaran adalah tentang Kaum ‘Ad, yang terletak di wilayah Al-Ahqaf di Lembah Hud sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. Kaum ‘Ad adalah salah satu bangsa yang sangat kuat dan canggih. Mereka memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, dan kemampuan membangun struktur-struktur megah. Allah mengutus Nabi Hud kepada mereka, untuk mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah Allah Yang Maha Esa.
Namun, kaum ‘Ad menolak seruan Nabi Hud. Mereka merasa terlalu kuat dan yakin bahwa kekuatan mereka akan melindungi mereka dari segala bahaya. Dalam keangkuhan mereka, mereka terus melakukan kemaksiatan dan ingkar terhadap perintah Allah. Akibat dari keingkaran dan kesombongan ini, Allah menurunkan azab yang dahsyat berupa angin topan yang sangat kencang dan dingin. Angin ini bertiup selama tujuh malam dan delapan hari berturut-turut, menghancurkan mereka dan meninggalkan kehancuran yang masih bisa dilihat hingga kini. Mereka yang dulu kaya raya dan kuat, kini menjadi sekadar kenangan yang hancur.
Peristiwa ini disebutkan dalam Surah Al-Haqqah (QS 69:6 dan 7) dan Surah Al-Fushilat (QS 41:15-l dan 16) sebagai peringatan bagi umat manusia agar tidak sombong dan mengingkari perintah Allah. Kaum ‘Ad, dengan seluruh kekuatan dan kemegahannya, menjadi pelajaran penting tentang kehancuran yang bisa datang pada mereka yang melupakan Allah dan menolak kebaikan-Nya.
3. Kisah Kaum Saba dan Bendungan Ma’rib
Kaum Saba adalah salah satu peradaban besar di Yaman, yang hidup di sekitar Bendungan Ma’rib. Bendungan ini memungkinkan mereka untuk mengairi ladang-ladang mereka dan menjadikan wilayah tersebut subur serta makmur. Kaum Saba dikenal dengan kemajuan dan kekayaan mereka yang luar biasa.
Namun, seiring dengan kemakmuran yang mereka nikmati, kaum Saba mulai lalai dan ingkar kepada Allah. Mereka menyembah matahari dan berhala, serta melupakan syukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Para nabi yang diutus untuk memperingatkan mereka agar kembali kepada jalan Allah ditolak.
Akibat dari keingkaran mereka, Allah menghancurkan Bendungan Ma’rib. Bendungan itu jebol dan menyebabkan banjir besar yang menghancurkan ladang-ladang mereka. Banjir besar ini memaksa mereka untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka dan sebagian dari mereka tercerai-berai. Beberapa bahkan pergi ke wilayah lain, seperti Jazirah Arab dan Syam.
Peristiwa ini disebutkan dalam Surah Saba (QS 34:15 dan 19), sebagai pelajaran bagi umat manusia agar tidak melupakan nikmat Allah dan tidak berbuat dosa.
4. Kisah Tubba’
Tubba’ adalah gelar bagi para raja-raja Himyar di Yaman kuno. Mereka dikenal sebagai pemimpin yang kuat dan memiliki kekuasaan yang besar. Dalam Al-Qur’an, Tubba’ disebutkan dalam Surah Ad-Dukhan (QS 44:37) dan Surah Qaf (QS 50:14). Beberapa di antara raja-raja Tubba’ telah menerima agama tauhid dan memimpin dengan adil, namun sebagian besar dari mereka lalai dan mengingkari Allah.
Kaum Tubba’ telah diberi peringatan oleh para nabi untuk kembali kepada Allah. Namun, sebagian besar dari mereka tetap sombong dan menolak dakwah tersebut. Akhirnya, Allah menurunkan azab yang menghancurkan peradaban mereka yang megah. Kaum Tubba’ yang dahulu besar dan makmur, kini hanya menjadi kenangan yang hancur.
Demikianlah kisah-kisah malapetaka yang pernah terjadi di negeri Yaman sebelum datangnya Islam. Apakah karakter tersebut masih tersisa di masyarakatnya saat ini? Kisah ini menjadi renungan di antara orang-orang yang memuja secara berlebihan atas keberadaan negeri tersebut pada saat ini agar kita tidak melupakannya.
Advertisement
Advertisement
