Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Sejarah dan Asal Usul Pulau Jawa Menurut Babad Pajajaran

Sejarah dan Asal Usul Pulau Jawa Menurut Babad Pajajaran

Ragam Selasa, 10 Desember 2024 22:09 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto: pinterest.com

Advertisement

GazanaPublika.com – Pulau Jawa, yang saat ini menjadi pusat kehidupan tiga wilayah administratif, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, adalah rumah bagi ratusan juta penduduk. Namun, jauh sebelum menjadi wilayah padat seperti sekarang, Jawa adalah pulau kosong tanpa penghuni. Kisah tentang awal mula pulau ini diceritakan dalam Babad Pakuan atau dikenal juga sebagai Babad Pajajaran, sebuah naskah kuno yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarahnya.

Pulau Jawa yang Kosong

Advertisement

Menurut Babad Pajajaran, dahulu kala Pulau Jawa adalah tanah kosong yang disebut Nusa Ara-ara. Pulau ini digambarkan sebagai lahan subur tanpa penghuni, hanya dihuni oleh “Dewa Kayu” dan “Dewa Batu”. Keadaan ini menarik perhatian dari orang-orang di belahan dunia lain, yang kemudian memutuskan untuk menjadikan pulau tersebut sebagai tempat tinggal baru.

Dikisahkan bahwa seorang raja dari belahan dunia lain, bersama istrinya yang bernama Sri Putih, seorang putri dari Mesir, datang ke Nusa Ara-ara. Mereka membawa serta dua ribu orang—seribu berasal dari Mesir dan seribu lainnya dari Selan. Pendatang ini membawa tanaman Jawawut, sejenis sereal berbiji kecil, yang menjadi makanan pokok mereka. Jawawut tumbuh subur di tanah Pulau Jawa yang kaya akan sumber daya. Karena keberadaan tanaman inilah, pulau tersebut akhirnya diberi nama “Jawa”.

BACA JUGA:  Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Penduduk Pulau Jawa Bertambah

Setelah menetap, raja dan rombongannya mendirikan sebuah kerajaan pertama di Pulau Jawa dengan pusat pemerintahan di Medang Kamulan. Penduduk awal yang hanya berjumlah dua ribu orang terus bertambah hingga mencapai 10.000 jiwa seiring waktu. Ketika populasi meningkat, kerajaan pun berpindah-pindah, dari Gunung Kidul ke Ngandong Ijo, lalu ke Lodaya, Rohan, Lombok, hingga akhirnya ke Medang Agung. Kerajaan terakhir ini kemudian dikenal sebagai Kerajaan Galuh yang berpusat di Bojong Galuh.

Seiring dengan perjalanan panjang sejarah kerajaan-kerajaan tersebut, jumlah penduduk Pulau Jawa terus bertambah hingga mencapai 18.000 jiwa. Perpindahan kerajaan mencerminkan upaya manusia untuk terus menyesuaikan diri dengan kondisi alam dan kebutuhan penduduk yang semakin meningkat.

Asal Usul Nama ‘Jawa’

Nama Pulau Jawa, sebagaimana diceritakan dalam Babad Pajajaran, berasal dari tanaman Jawawut yang dibawa oleh para pendatang dari Mesir. Tanaman ini menjadi simbol awal kehidupan manusia di pulau tersebut. Dalam teks terjemahan Babad Pajajaran yang dilakukan oleh Drs. Atja dan rekan-rekannya, dijelaskan:

“Raja menikah dengan isterinya; lalu menetap di nusa Ara-ara; serta banyak manusia yang dibawanya; manusia dua ribu; yang seribu dari Mesir; yang seribu dari Selan; dan membawa pohon jawawut; itulah makanya disebut nusa Jawa karena menanam jawawut; pada masa itu.”

BACA JUGA:  Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Meski demikian, keberadaan tanaman Jewawut sebagai asal nama Jawa masih menjadi dugaan. Jewawut sendiri adalah sejenis tanaman serelia kecil yang populer di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Sulawesi Barat, Pulau Buru, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Tengah.

Legenda dan Jejak Sejarah

Selain menjelaskan asal-usul Pulau Jawa, Babad Pajajaran juga mengisahkan tentang Raja Prabu Siliwangi, seorang tokoh penting dalam sejarah Sunda. Dalam salah satu bagian cerita, Prabu Siliwangi memerintahkan anaknya yang bernama Guru Gantangan untuk mencari seorang perempuan cantik bernama Ratna Inten. Kisah perjalanan Guru Gantangan dalam menjalankan titah tersebut menjadi bagian dari narasi yang memperkaya cerita sejarah Jawa.

Penutup

Kisah tentang Pulau Jawa dalam Babad Pajajaran bukan hanya menggambarkan asal-usul sebuah nama, tetapi juga menceritakan jejak peradaban awal manusia di tanah ini. Dari pulau yang kosong hingga menjadi tempat bersemi kehidupan, Jawa telah menjadi saksi dari perjalanan panjang sejarah manusia, kebudayaan, dan peradaban yang terus berkembang hingga saat ini.

Advertisement

Sejarah
Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Ragam

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Ragam

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Ragam

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Ragam

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

BERITA TERBARU

Lada ‘Black Gold’, Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Febi Pirmansyah Kritik Pernyataan Cak Imin soal NU: Jangan Salahkan Organisasi, Lihat Rekam Jejak Sendiri

Aksi Gerakan 9 di Malingping Diwarnai Bentrokan, Mahasiswa Desak Pemeriksaan Proyek Jalan Cikeusik–Simpang Cijaku

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.