GazanaPublika.com, Nagekeo, NTT — Nagekeo, NTT — Lucky Cepril Saputra Namo lahir bukan dari keluarga kaya, tapi dari keluarga yang percaya pada kehormatan. Ayahnya, Sersan Mayor Kristian Namo, seorang prajurit senior yang bertugas di Batalyon yang sama. Ibunya, Sepriana Paulina Mirpey, tumbuh dalam nilai-nilai kerja keras dan pengabdian.
Sejak remaja, Lucky memimpikan hidupnya dalam seragam hijau. Ia mengikuti seleksi TNI AD delapan kali. Delapan kali pula ia gagal. Tapi Februari 2025 menjadi titik balik: ia akhirnya lolos ke pendidikan Secatam TNI AD Singaraja, Bali. Mei 2025 ia dilantik. Senyum di bibirnya lebar, seragamnya rapi, tatapannya penuh masa depan.
Namun, yang menantinya di barak bukan sekadar disiplin militer dan latihan keras, melainkan sesuatu yang lebih gelap—sebuah tradisi diam-diam yang telah lama dibisikkan para prajurit junior: “kalau mau selamat, tunduk sama senior.”
Empat Hari Sebelum Kematian
Rabu, empat hari sebelum nafas terakhirnya, Lucky datang ke rumah ibu angkatnya, terbata-bata, tubuhnya penuh lebam.
“Mama, saya dicambuk.”
Tangan kirinya membengkak. Ada garis-garis merah memanjang di punggung dan betisnya. Ia berjalan pincang. Minyak gosok dioleskan, air hangat dikompreskan, namun rasa sakitnya tak surut. Menurut keterangan saksi keluarga, Lucky mengaku mendapat “hukuman” dari beberapa senior. Alasannya? Ia dianggap lambat dan kurang sigap.
Hari berikutnya, kondisinya semakin buruk. Ia dibawa ke RSUD Aeramo. Dokter mencatat memar luas di tubuhnya. Namun, yang mengkhawatirkan adalah keluhan nyeri dada dan kesulitan bernapas—indikasi cedera organ dalam.
Malam Terakhir di Barak
Sumber internal yang kami temui—seorang prajurit muda yang meminta identitasnya dirahasiakan—menceritakan bahwa malam sebelum ia tak sadarkan diri, Lucky masih ikut apel malam. Namun, setelah itu ia dipanggil oleh sekelompok senior. Dari kejauhan, saksi melihat Lucky dibawa ke lorong belakang barak, area yang minim pencahayaan dan jauh dari pos jaga.
Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi di sana. Namun, beberapa prajurit muda lain mendengar suara bentakan, diikuti bunyi sabetan benda keras ke kulit. Tak ada yang berani mendekat.
Pagi Adalah Kematian
Pagi berikutnya, Lucky ditemukan lemah di ranjangnya. Napasnya pendek-pendek. Tubuhnya dingin. Ia segera dibawa ke RS Wirasakti, Kupang. Tapi nyawanya tak tertolong.
Di kamar jenazah, ayahnya berdiri kaku menatap tubuh anaknya yang terbujur kaku. “Kalau anak tentara saja diperlakukan begini, bagaimana yang bukan,” ucapnya dengan suara berat.
Lingkaran Kekerasan
Kasus Lucky membuka kembali luka lama: kekerasan internal di militer. Dalam investigasi kami, setidaknya ada pola yang berulang:
• Senioritas dijadikan alasan untuk “mendidik” dengan kekerasan.
• Hukuman fisik sering dilakukan di area sepi, di luar pengawasan atasan langsung.
• Budaya diam di kalangan prajurit muda membuat kasus jarang terungkap.
Menurut pengamat militer dan HAM, fenomena ini adalah sisa warisan lama, di mana kekerasan dianggap bagian dari pembentukan mental. Namun, tanpa batas dan pengawasan, tradisi ini menjadi penyiksaan.
Penyelidikan dan Jalan Panjang Keadilan
Penyelidikan dilakukan oleh Polisi Militer TNI. Empat prajurit diamankan, 20 diperiksa. Letkol Inf. Amir Syarifudin menjanjikan keterbukaan. Namun, keluarga Lucky tetap cemas akan adanya “pengamanan” terhadap pelaku.
“Saya akan kejar terus sampai ke pengadilan. Saya tidak akan berhenti.” — Sersan Mayor Kristian Namo
Luka yang Lebih Dalam dari Peluru
Bagi keluarga, kematian Lucky adalah kehilangan yang tak tergantikan. Namun, ada luka lain yang lebih sulit sembuh: rasa dikhianati oleh institusi yang seharusnya melindungi.
Di rumah duka, bendera setengah tiang berkibar. Peti kayu coklat berisi tubuh Lucky dikelilingi lilin dan doa. Di sampingnya, sepasang sepatu bot hitam masih terikat rapi—seolah menunggu pemiliknya bangun dan memakainya lagi.
Kronologi Tragedi Prada Lucky
Februari 2025
• Lucky Cepril Saputra Namo resmi diterima sebagai calon prajurit TNI AD setelah delapan kali mencoba seleksi.
• Dikirim mengikuti pendidikan Secatam TNI AD di Singaraja, Bali.
Mei 2025
• Lucky dilantik menjadi prajurit TNI AD.
• Ditempatkan di Yonif 743/PSY, NTT, di satuan yang sama dengan ayahnya, Sersan Mayor Kristian Namo.
Rabu, 6 Agustus 2025 (Empat Hari Sebelum Kematian)
• Lucky datang ke rumah ibu angkatnya di Nagekeo dengan kondisi tubuh penuh memar dan bengkak, terutama di tangan kiri.
• Kepada keluarga, Lucky mengaku dicambuk oleh senior di barak karena dianggap lambat dan kurang sigap.
• Luka diolesi minyak gosok, namun Lucky mengeluh kesakitan di dada dan perut.
Kamis, 7 Agustus 2025
• Kondisi Lucky memburuk: sulit berjalan, sesak napas, dan lemas.
• Dibawa ke RSUD Aeramo untuk pemeriksaan awal. Dokter mencatat adanya memar luas dan kemungkinan cedera organ dalam.
• Lucky kembali ke barak malam harinya.
Jumat malam, 8 Agustus 2025 (Malam Terakhir)
• Lucky mengikuti apel malam di barak.
• Setelah apel, ia dipanggil oleh beberapa senior ke lorong belakang barak—lokasi minim penerangan dan jauh dari pos jaga.
• Beberapa prajurit muda mendengar suara bentakan dan bunyi pukulan/sabetan benda keras, namun tak ada yang berani mendekat.
Sabtu pagi, 9 Agustus 2025
• Lucky ditemukan lemah tak berdaya di ranjangnya.
• Dilarikan ke RS Wirasakti, Kupang.
• Sekitar pukul 09.00 WITA, Lucky dinyatakan meninggal dunia.
Minggu, 10 Agustus 2025
• Jenazah Lucky dibawa ke rumah duka.
• Ayahnya, Sersan Mayor Kristian Namo, menyatakan akan menuntut keadilan dan tidak akan membiarkan kasus ini ditutup.
Pasca Kematian
• Polisi Militer TNI mengamankan 4 prajurit dan memeriksa 20 saksi.
• Komandan Yonif 743/PSY, Letkol Inf. Amir Syarifudin, berjanji akan transparan.
• Keluarga Lucky mendesak agar pelaku diadili secara terbuka dan tidak hanya dikenai hukuman internal.

