Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Di Cina, Alat Kontrasepsi Kena Pajak, Penitipan Anak Bebas PPN

Di Cina, Alat Kontrasepsi Kena Pajak, Penitipan Anak Bebas PPN

Spesial Jumat, 2 Januari 2026 21:06 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Beijing — Pemerintah China kembali mengirim sinyal kuat perubahan arah kebijakan demografinya. Mulai 1 Januari 2026, produk kontrasepsi seperti kondom dan pil KB tidak lagi mendapat perlakuan khusus dalam sistem perpajakan. Barang-barang tersebut kini resmi dikenai pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 13 persen, setara dengan barang konsumsi lainnya.

Kebijakan ini sekaligus menandai berakhirnya pembebasan pajak yang telah berlaku sejak 1994, ketika China masih menjalankan kebijakan satu anak secara ketat. Reformasi tersebut merupakan bagian dari penataan ulang sistem pajak nasional yang disahkan pemerintah pusat pada akhir tahun lalu dan mulai diimplementasikan tahun ini.

Advertisement

Langkah tersebut kontras dengan kebijakan fiskal lain yang justru memberi keringanan. Sejumlah layanan yang dinilai mendukung peningkatan angka kelahiran — seperti penitipan anak, layanan pendukung keluarga, dan program sosial terkait pengasuhan — kini dibebaskan dari PPN. Pemerintah menilai beban biaya membesarkan anak perlu ditekan untuk menciptakan iklim ramah keluarga.

BACA JUGA:  Warga Pulau Sebesi Gemar Tonton Erupsi Gunung Anak Krakatau

Media pemerintah China menyebut perubahan ini sebagai bentuk penyesuaian kebijakan struktural, seiring pergeseran strategi negara dari pembatasan kelahiran menuju pendekatan pro-natal. Pajak atas kontrasepsi dipandang sebagai normalisasi kebijakan fiskal, bukan larangan penggunaan alat KB.

Namun, kebijakan tersebut langsung memantik perbincangan publik. Di media sosial China, sebagian warganet mempertanyakan efektivitas langkah ini dalam mendorong angka kelahiran. Ada pula yang menyindir bahwa negara kini ‘ikut campur hingga urusan kondom’ demi menaikkan jumlah bayi baru lahir.

Sejumlah pakar demografi menilai kebijakan ini lebih bersifat simbolik dibandingkan solusi substansial. Menurut mereka, rendahnya angka kelahiran di China dipicu faktor struktural yang jauh lebih kompleks, mulai dari biaya hidup tinggi, tekanan ekonomi rumah tangga, persaingan pendidikan, hingga perubahan nilai sosial generasi muda.

BACA JUGA:  Penerimaan SDA Ratusan Triliun, Berapa yang Hilang di Tengah Jalan?

Kekhawatiran juga datang dari kalangan kesehatan masyarakat. Mereka menilai kenaikan harga kontrasepsi berpotensi memengaruhi akses kelompok berpendapatan rendah, meski pemerintah belum mengindikasikan pembatasan distribusi atau penggunaan alat KB.

China sendiri tengah menghadapi tekanan demografis serius. Dalam beberapa tahun terakhir, populasi negara itu tercatat menyusut secara beruntun, sementara laju penuaan meningkat cepat. Berbagai insentif telah digulirkan, mulai dari pelonggaran aturan kelahiran, subsidi keluarga, hingga kampanye pernikahan, namun hasilnya masih terbatas.

Dengan kebijakan pajak terbaru ini, Beijing tampaknya ingin menghapus jejak lama kebijakan pengendalian kelahiran, sekaligus menegaskan perubahan narasi negara. Apakah langkah tersebut mampu memberi dampak nyata terhadap tren demografi, masih menjadi pertanyaan terbuka.

Advertisement

Kampanye Kesehatan Pendidikan
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Spesial

Penerimaan SDA Ratusan Triliun, Berapa yang Hilang di Tengah Jalan?

Spesial

Warga Pulau Sebesi Gemar Tonton Erupsi Gunung Anak Krakatau

Spesial

Di Swiss, Gereja Jadi Sepi Gara-gara Warga Hindari Pajak, Kok Bisa?

Berita Utama

Wacana Pilkada Lewat DPRD Menguat, 5 Partai Dukung

BERITA TERBARU

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Kapolda Banten Sampaikan Commander Wish Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat’

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version