GazanaPublika.com, Serang — Jam’iyah Majelis Al Ma’arijul Wathon Asy-Syadziliyah kembali menggelar kegiatan Lagenda ke-XIX dan Batawaraga ke-3 di kawasan Anyer. Acara ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap enam bulan sekali dan telah berlangsung secara konsisten selama sembilan tahun terakhir. Kegiatan ini diikuti salik sebanyak 100 orang lebih.

Lagenda merupakan singkatan dari Lampah Genetik Enam Bulan Darul Qur’an, sebuah program dan fasilitas yang digagas oleh K.H. Hudi Nurhudiyat, Mursyid Tarekat Asy-Syadziliyah, sebagai wadah khusus bagi para salik (pejalan spiritual). Kegiatan ini menjadi bagian dari metode safar khusus (perjalanan ruhani) yang dirancang untuk memperdalam pengalaman tasawuf melalui pengajian out door.

Tujuan utama Lagenda bukan semata memperluas pemahaman makrifat, tetapi juga menumbuhkan kesadaran hakikat. Salah satu faidahnya adalah membangun imunitas dan ketahanan jiwa, sebab dalam perjalanan spiritual, jiwa membutuhkan penyegaran agar senantiasa kuat menghadapi dinamika kehidupan.

Pada Lagenda XIX dan Batawaraga III tahun ini, tema yang diangkat adalah:

“Cahaya Intan yang Menerangi Setiap Langkah, Membawa Keberkahan dan Kesuksesan, untuk Kesejahteraan dalam Hidup dan Kemakmuran yang Berkelanjutan.”

Dalam beberapa sesi pengajian dan diskusi kali ini, para peserta mendalami konsep Takhalli, Tahalli, dan Tajalli sebagai tiga tahapan penting dalam penyucian jiwa. Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah sesi ke-5, ketika K.H. Hudi Nurhudiyat memberikan penjelasan mendalam tentang Musyahadah, Muraqabah, dan Mukasyafah — tiga istilah kunci dalam perjalanan batin seorang salik.

Dalam salah satu sesi pengajian, K.H. Hudi Nurhudiyat menjelaskan bahwa tarekat adalah jalan spiritual yang dibungkus dengan tasawuf dan kesufian, dengan tujuan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Tarekat itu tidak usah ke mana-mana. Ini jalan yang praktis,” ujarnya.

“Untuk memperkuat syariat dan mendekatkan diri kepada Allah,” sambungnya.

Lebih lanjut, K.H. Hudi menjelaskan bahwa tujuan tarekat adalah agar seseorang dapat menemukan ketenangan, mempertebal keimanan, dan mengatasi kegelisahan dunia sehingga jiwanya menjadi damai.

“Kalau belum dapat itu, nilainya baru enam. Kalau tidak berproses, ya bisa turun lagi nilainya,” tambahnya dengan nada berseloroh namun penuh makna.

K.H. Hudi menegaskan bahwa musyahadah tidak semata berarti menyaksikan Allah, melainkan dimulai dari kepekaan terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

“Musyahadah itu jangan hanya praktik hubungan langsung kepada Allah, tapi bagaimana kepada makhluk. Perhatikan hak orang, harus peka, melihat lingkungan sekitarnya,” ujar K.H. Hudi Nurhudiyat di hadapan para salik yang hadir, di Cottage Mambruk, Anyer-Serang, pada Sabtu (25/10/2025).

“Musyahadah di mulai dari hal-hal kecil lebih dulu ya. Kalau mau makan misalnya, perhatikan yang belum makan, harus peka. Jangan mwnghabiskan makanan tanpa memperhatikan yang lain. Nah, itu musyahadah,” sambungnya.

Sementara itu, muraqabah dijelaskan sebagai kesadaran batin yang melahirkan rasa malu untuk berbuat buruk. Seorang salik apabila sudah tumbuh rasa malu bahwa Allah Maha mengawasi segala perbuatannya maka akan tercegah dari perbuatan buruk.

“Dasarnya punya rasa malu dulu. Muraqabah merasa malu jika akam berbuat buruk. Harus menjaga aurat kita (aib-red), seakan-akan Allah selalu menyaksikan,” lanjutnya.

Beliau menekankan bahwa pembelajaran makrifat dalam praktik tarekat tidak berhenti pada tataran teori, tetapi harus diwujudkan dalam pengalaman spiritual yang konkret. Praktik tarekat yang diajarkan KH. Hudi dimulai dari syariat, tarekat, makrifat, baru pencapaian hakikat. Hakikat adalah pencapaian tertinggi.

Oleh karenanya matode Tarekat Syadziliyah measukan ke dalam program tarekat itu dengan pengajian (taklim).

“Belajar makrifat dalam praktik tarekat itu agar mendapatkan hakikatnya. Jika sudah selesai dan mampu menjalani tahapannya, guru akan membawa salik kepada mukasyafah,” jelasnya.

Namun, mursyid yang dikenal kharismatik ini juga mengingatkan bahwa setiap tarekat memiliki metode yang berbeda dalam pelaksanaannya.

“Semua yang dijelaskan itu hanyalah penerangan dari kitab tasawuf. Pelaksanaannya bisa berbeda-beda, bahkan antar-tarekat pun tidak sama. Substansinya sama, untuk mengeluarkan sifat tercela dari diri manusia, tapi caranya bisa berbeda. Tidak semua bisa dijelaskan — tergantung tempat dan keadaan,” pungkasnya.

Sesi tersebut menjadi salah satu bagian paling reflektif dalam rangkaian Lagenda XIX dan Batawaraga III, di mana para salik diajak tidak hanya memahami teori, tetapi juga menghayati dimensi batin dari perjalanan spiritual menuju pembersihan jiwa. ***

Redaksi

Exit mobile version