Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Majelis Al Ma’arijul Wathon Asy-Syadziliyah Gelar Lagenda XIX dan Batawaraga III di Anyer

Majelis Al Ma’arijul Wathon Asy-Syadziliyah Gelar Lagenda XIX dan Batawaraga III di Anyer

Banten Sabtu, 25 Oktober 2025 17:47 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
KH. Hudi Nurhudiyat saat memberikan materi pengajian dalam acara Lagenda XIX dan Batawaraga ke-2 di Anyer-Serang pada Sabtu (25/10/2025)

Advertisement

GazanaPublika.com, Serang — Jam’iyah Majelis Al Ma’arijul Wathon Asy-Syadziliyah kembali menggelar kegiatan Lagenda ke-XIX dan Batawaraga ke-3 di kawasan Anyer. Acara ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap enam bulan sekali dan telah berlangsung secara konsisten selama sembilan tahun terakhir. Kegiatan ini diikuti salik sebanyak 100 orang lebih.

Lagenda merupakan singkatan dari Lampah Genetik Enam Bulan Darul Qur’an, sebuah program dan fasilitas yang digagas oleh K.H. Hudi Nurhudiyat, Mursyid Tarekat Asy-Syadziliyah, sebagai wadah khusus bagi para salik (pejalan spiritual). Kegiatan ini menjadi bagian dari metode safar khusus (perjalanan ruhani) yang dirancang untuk memperdalam pengalaman tasawuf melalui pengajian out door.

Advertisement

Tujuan utama Lagenda bukan semata memperluas pemahaman makrifat, tetapi juga menumbuhkan kesadaran hakikat. Salah satu faidahnya adalah membangun imunitas dan ketahanan jiwa, sebab dalam perjalanan spiritual, jiwa membutuhkan penyegaran agar senantiasa kuat menghadapi dinamika kehidupan.

Pada Lagenda XIX dan Batawaraga III tahun ini, tema yang diangkat adalah:

“Cahaya Intan yang Menerangi Setiap Langkah, Membawa Keberkahan dan Kesuksesan, untuk Kesejahteraan dalam Hidup dan Kemakmuran yang Berkelanjutan.”

Dalam beberapa sesi pengajian dan diskusi kali ini, para peserta mendalami konsep Takhalli, Tahalli, dan Tajalli sebagai tiga tahapan penting dalam penyucian jiwa. Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah sesi ke-5, ketika K.H. Hudi Nurhudiyat memberikan penjelasan mendalam tentang Musyahadah, Muraqabah, dan Mukasyafah — tiga istilah kunci dalam perjalanan batin seorang salik.

BACA JUGA:  Demokrat Banten Targetkan Bangkit, Musda V Jadi Momentum Konsolidasi

Dalam salah satu sesi pengajian, K.H. Hudi Nurhudiyat menjelaskan bahwa tarekat adalah jalan spiritual yang dibungkus dengan tasawuf dan kesufian, dengan tujuan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Tarekat itu tidak usah ke mana-mana. Ini jalan yang praktis,” ujarnya.

“Untuk memperkuat syariat dan mendekatkan diri kepada Allah,” sambungnya.

Lebih lanjut, K.H. Hudi menjelaskan bahwa tujuan tarekat adalah agar seseorang dapat menemukan ketenangan, mempertebal keimanan, dan mengatasi kegelisahan dunia sehingga jiwanya menjadi damai.

“Kalau belum dapat itu, nilainya baru enam. Kalau tidak berproses, ya bisa turun lagi nilainya,” tambahnya dengan nada berseloroh namun penuh makna.

K.H. Hudi menegaskan bahwa musyahadah tidak semata berarti menyaksikan Allah, melainkan dimulai dari kepekaan terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

“Musyahadah itu jangan hanya praktik hubungan langsung kepada Allah, tapi bagaimana kepada makhluk. Perhatikan hak orang, harus peka, melihat lingkungan sekitarnya,” ujar K.H. Hudi Nurhudiyat di hadapan para salik yang hadir, di Cottage Mambruk, Anyer-Serang, pada Sabtu (25/10/2025).

“Musyahadah di mulai dari hal-hal kecil lebih dulu ya. Kalau mau makan misalnya, perhatikan yang belum makan, harus peka. Jangan mwnghabiskan makanan tanpa memperhatikan yang lain. Nah, itu musyahadah,” sambungnya.

Sementara itu, muraqabah dijelaskan sebagai kesadaran batin yang melahirkan rasa malu untuk berbuat buruk. Seorang salik apabila sudah tumbuh rasa malu bahwa Allah Maha mengawasi segala perbuatannya maka akan tercegah dari perbuatan buruk.

BACA JUGA:  Komisi III DPRD Lebak Buka Seminar Kesehatan Nasional 2026, Bedakan Gerd dan Serangan Jantung

“Dasarnya punya rasa malu dulu. Muraqabah merasa malu jika akam berbuat buruk. Harus menjaga aurat kita (aib-red), seakan-akan Allah selalu menyaksikan,” lanjutnya.

Beliau menekankan bahwa pembelajaran makrifat dalam praktik tarekat tidak berhenti pada tataran teori, tetapi harus diwujudkan dalam pengalaman spiritual yang konkret. Praktik tarekat yang diajarkan KH. Hudi dimulai dari syariat, tarekat, makrifat, baru pencapaian hakikat. Hakikat adalah pencapaian tertinggi.

Oleh karenanya matode Tarekat Syadziliyah measukan ke dalam program tarekat itu dengan pengajian (taklim).

“Belajar makrifat dalam praktik tarekat itu agar mendapatkan hakikatnya. Jika sudah selesai dan mampu menjalani tahapannya, guru akan membawa salik kepada mukasyafah,” jelasnya.

Namun, mursyid yang dikenal kharismatik ini juga mengingatkan bahwa setiap tarekat memiliki metode yang berbeda dalam pelaksanaannya.

“Semua yang dijelaskan itu hanyalah penerangan dari kitab tasawuf. Pelaksanaannya bisa berbeda-beda, bahkan antar-tarekat pun tidak sama. Substansinya sama, untuk mengeluarkan sifat tercela dari diri manusia, tapi caranya bisa berbeda. Tidak semua bisa dijelaskan — tergantung tempat dan keadaan,” pungkasnya.

Sesi tersebut menjadi salah satu bagian paling reflektif dalam rangkaian Lagenda XIX dan Batawaraga III, di mana para salik diajak tidak hanya memahami teori, tetapi juga menghayati dimensi batin dari perjalanan spiritual menuju pembersihan jiwa. ***

Advertisement

Al Ma’arijul Wathon Asy-Syadziliyah Lagenda Tarekat Tasawuf
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Banten

Penggali Sumur di Malingping Meninggal, Tertimbun 7 Jam

Banten

IMC Gandeng Polres Lebak Cegah Narkoba di Kalangan Pelajar Malingping

Banten

Perkuat Pencegahan Narkoba, Polres Lebak Edukasi Pelajar SMAN 2 Malingping

Banten

Polda Banten Selidiki Dugaan Penambangan Tanah Urug di Kasemen

BERITA TERBARU

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Karhutla Belum Mereda, Asap Lintas Negara Jadi Sorotan Pemerintah

Prabowo Gelar Rapat Khusus Karhutla, Dudung Laporkan Penanganan di Sejumlah Daerah

Penggali Sumur di Malingping Meninggal, Tertimbun 7 Jam

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version