GazanaPublika.com – Budayawan ini sangat unik dari mulai penampilan sampai pemikirannya. Ciri khas penampilannya, setiap hari selalu menggunakan pekaian pangsi berwarna hitam, bukan dikarenakan berhubungan dengan pecak silat secara spesifik namun dikarenakan kecintaannya kepada budaya nusantara.
Siapa budayawan yang dimaksud? Siapa lagi kalau bukan Ujang, warga Malingping, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Budaya tidak selalu identik dengan kaum intelektual yang gemar berbicara budaya tetapi sebuah prinsip hidup yang mengamalkan prilaku nusantara.
Apa itu budaya? Menurut Ujang adalah orang yang mengamalkan adab dan akhlak. “Jangan dulu bicara silat, mudah belajar jurus mah tetapi bagi saya yang penting mengamalkan prilaku yang baik berdasarkan nilai-nilai luhur yang diwarislan nenek moyang,” ujar cucu Muhammad Toha, seorang pahlawan priangan ini.
Saat ini Ujang terlibat di dalam aktifitas organisasi yang digelutinya, yakni Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) DPW 2 Malingping. Ia mengatakan merasa terpanggil untuk ikut bergabung dengan organisasi tersebut.
“Saya bergabung bukan berdasarkan hoby atau senang tetapi karena tuntutan yang membuat saya merasa wajib untuk bergabung. Karena organisasi bergerak kepada budaya. Ini yang membuat saya tertarik,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa rahasia slat ada pada shalat. Empat hal yang diungkapkannya yakni shalat, selot, silat dan silet.
“Belajar silat mudah karena rahasianya ada pada shalat,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa sebelum silat perhatikan dulu shalat sedangkan selot adalah ikatan saliturahmi kepada sesama untuk rukun dan tolong menolong. Barulah menurut Ujang, juja hal itu sudah bisa diwujudkan seseorang lidahnya seperti silet.
“Apa itu silet? Seucap nyata, apa yang kita ucapkan akan menjadi kenyataan,” jelasnya.
Namun semua itu kuncinya berada pada adab, prilaku yang baik, menghargai orang dan sabar menghadapi prlaku orang lain.
“Harus memulai dari diri sendiri untuk mengamal adab,” dengan nada yang rendah.
.
Ujang dikenal di dalam kesehariannya orang yang sopan dan suaranya rendah dslam berucap. Sikapnya pendiam dan lebih suka mendengarkan. Namun dirinya tidak mau dianggap agamis. Bisa mengamalkan budaya sudah cukup baginya tanpa harus melabelkan agama pada dirinya.
Dibalik budaya yang diamalkanjya, bekjau juga suka mwngajak orang lain untuk berbuat kebaikan, meninggalkan prilaku yang buruk tanpa harus menyinggung keberadaan orang lain. Beberapa orang telah diajaknya berhenti dari mabuk-mabukan sampai hari ini dengan cara sendiri.
Ujang juga mengingatkan sebagai manusia untuk tidak memuliakan benda. Sebab yang harus dijunjung adalah keyakinan kepada Allah.
Budayawan yang eksentrik ini beberapa kali naik ke pentas untuk pertunjukab debus. Baginya debus itu budaya yang baik agar manusia tidak lagi memuja benda. (Red)

