Advertisement
GazanaPublika.com – Acara silaturahmi para pendekar Tjimande Tari Kolot berlangsung meriah, dihadiri oleh 30 paguron yang turut berpartisipasi. Acara ini diselenggarakan oleh Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) dengan beragam kegiatan, salah satunya pemberian piagam penghargaan oleh Pembina DPC Malingping, Kiai Hudi Nurhudiyat, S.Ag., SH. M.H., di Kampung Cikeusik, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (24/9/2024).
Selain itu, hadir juga undangan dari kalangan kesepuhan Serang, Banten, seperti Ketua DPW 1 TTKKBI, Endin Aktaviana, S.Kom., dan Abah Musa, tokoh Tjimande Serang. Sekitar 30 orang rombongan dari Serang turut meramaikan acara tersebut.
Advertisement
Pada kegiatan tersebut, menjadi momen penting bagi pesilat Tjimande untuk mendapatkan penghargaan berupa piagam atas apa yang mereka rintis dalam perjalanan hidupnya selama berkecimpung dalam persilatan.
Acara silaturahmi tersebut juga disemangati dengan pidato panjang dari Pembina DPW 2 TTKKBI, Kiai Hudi Nurhudiyat, yang secara garis besar berisi pelestarian budaya.
“Adanya kesatuan antara agama dan budaya,” salah satu kalimatnya dalam pidato tersebut.
Kiai Hudi Nurhudiyat memberikan semangat pentingnya silaturahmi dan untuk selalu berpegang teguh kepada talek (sumpah) Tjimande dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Beragam hal diuraikan dalam pidato tersebut yang berisi pesan-pesan bermakna. Dari seluruh isi pidato yang diuraikan tersebut, mendapat tanggapan beragam.
Ade Ahmad Syaprudin, pegiat seni dan budaya, menilai apa yang disampaikan dalam pidato Pembina DPW 2, Kiai Hudi Nurhudiyat, penting untuk direnungkan. Menurutnya, pidato itu berisi pentingnya membangun karakteristik jawara Banten dalam dunia pencak silat agar seni tetap terpisah dari kepentingan politik.
“Seni boleh dipersatukan tetapi jangan dicampuradukan dengan kepentingan. Maksudnya, jangan dicampuradukan dengan politik. Harus menjadikan budaya sebagai jati diri, bukan menjadikannya sebagai ajang penghidupan,” tambahnya.
Ade Ahmad Syaprudin sangat mengapresiasi acara ini. Ia menekankan pentingnya pelestarian budaya dan mempererat tali silaturahmi di antara para tokoh pencak silat.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena substansinya berisi pelestarian budaya dan mempererat tali silaturahmi tokoh pencak silat. Yang menarik dari penyelenggaraan acara tersebut adalah bahwa acara itu tidak terbebani oleh kepentingan apa pun, hanya berdasarkan apresiasi seseorang, bukan dengan kepentingan politik,” ujarnya.
Sementara itu, Uyeng Saepul Rohman, Ketua Paguron Sandi Alam Husada Kharisma, mengungkapkan bahwa acara ini merupakan langkah maju dalam pengakuan terhadap paguron yang sudah ada.
“Saya sangat mengapresiasi apa yang dirintis DPP ketika mendirikan organisasi ini. Saya berharap DPP TTKKBI memiliki kepedulian kepada DPW dan DPC untuk menghidupkan paguron yang sudah mati suri agar bisa berkembang lagi,” jelas Uyeng.
Menurutnya, adanya acara ini memberikan rasa dihargai bagi setiap paguron, yang sangat dibutuhkan untuk terus melestarikan budaya.
“Kami sangat mengapresiasi apa-apa yang dirintis DPP ketika mendirikan organisasi ini. Saya berharap DPP TTKKBI memiliki kepedulian kepada DPW dan DPC yang beraktivitas langsung menghidupkan kembali paguron yang sudah mati suri agar bisa berkembang lagi. Dengan terintegrasi dalam organisasi dan kegiatannya, kami merasa dihargai dengan adanya acara ini. Kami berharap acara ini terus berlanjut; mereka butuh pengakuan, dan acara ini sangat berarti bagi kami. Kami merasa luar biasa, merasa ditempatkan sebagai sebuah paguron. Jujurnya, kami merasa senang.”
Ketua Pokja Pesantren di Pandeglang, Encep Sihabudin, menekankan makna silaturahmi dalam acara ini.
“Temanya kan silaturahmi. Makna silaturahmi lebih kepada kekeluargaan, mempererat kekeluargaan dan persaudaraan untuk membangun kultur dan mengembangkan organisasi,” katanya.
Encep Sihabudin menilai bahwa dengan terselenggaranya acara tersebut, dimaknai adanya pengakuan bagi paguron.
“Ada pengakuan dan terikat, sehingga budaya tidak berceceran. Yang saya ketahui selama ini, keberadaan paguron liar, sehingga dengan diwadahkan menjadi legal. Di wilayah Banten Selatan sendiri, banyak sekali paguron yang tidak memiliki legalitas, sehingga mereka sangat membutuhkan keberadaan TTKKBI dan perhatian dari pemerintah. Seni dan budaya perlu perhatian dari pegiat dan pecinta seni budaya,” tuturnya.
Menanggapi sambutan Pembina DPW 2, Kiai Hudi Nurhudiyat, Encep mengungkapkan bahwa sambutan tersebut memberikan penghargaan atas perjuangan para kesepuhan paguron pencak silat Tjimande yang telah menjaga dan melestarikan budaya baik secara nilai maupun secara entitas budayanya.
“Pendapat pembina berisi tujuan mengfilter dari campur aduknya budaya. Lalu berisi pesan menjembatani antara pihak pegiat atau pelaku seni budaya pencak silat, dalam hal ini paguron pencak silat Tjimande, dengan pihak pemerintah dan pihak lainnya,” tuturnya.
Encep juga menjelaskan, selain itu, sambutan Pembina DPW 2 TTKKBI berisi pesan memberikan dukungan kepada pelaku seni budaya untuk mempertahankan keberadaannya.
“Tujuannya berisi support agar tetap eksis, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam konteks kompetisi seni dan budaya di era sekarang,” jelas Encep.
Wakil Ketua DPC Malingping, Heri, menjelaskan bahwa pesan Kiai Hudi sangat sederhana namun mendalam.
“Apa yang disampaikan Pembina sederhana, bahwa dalam perjalanan harus punya bekal yang kuat. Ini saya maknai, jangan mencari penghidupan di dalam organisasi,” ujar Heri.
Sementara itu, pandangan Maman Suparman, Sekretaris Umum DPC Malingping, menggarisbawahi pentingnya mempererat hubungan antar anggota.
“Menurut saya, apa yang disampaikan oleh Pembina DPW 2 TTKKBI, Bapak Kiai Hudi Nurhudiyat, mengingatkan kita agar bisa mempererat tali silaturahmi. Beliau juga mengingatkan agar pribadi pesilat jangan seperti pengemis,” tegas Maman.
Senada yang diungkapkan Ade Ahmad Syaprudin bahwa anggota TTKKBI jangan mencari nafkah di dalam organisansi tetapi bagaimana menghidulkan organisasi.
Advertisement
