GazanaPublika.com, San Fransisco – Amerika Serikat kembali diguncang gelombang protes besar-besaran menyusul kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump terkait imigrasi. Sejumlah kota di berbagai negara bagian—dari Seattle, San Francisco, hingga Washington DC—menjadi panggung perlawanan publik terhadap operasi besar-besaran Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang menargetkan imigran ilegal dan aktivis pendukung mereka.

Aksi demonstrasi dimulai pada Jumat (6/6/2025), setelah ICE meluncurkan penggerebekan di berbagai wilayah, termasuk Los Angeles. Sejak saat itu, protes menyebar luas, menandai penolakan keras masyarakat terhadap apa yang mereka sebut sebagai tindakan “gila” dan tidak manusiawi oleh pemerintah Trump.

Di Seattle, sekitar 50 mahasiswa dari kelompok Students for a Democratic Society Universitas Washington menggelar unjuk rasa di depan pengadilan imigrasi. Sambil menabuh drum, mereka mengangkat spanduk bertuliskan “Bebaskan mereka semua. Hapuskan ICE” dan “Tolak deportasi”.

Mereka menyuarakan solidaritas terhadap para imigran yang ditangkap dan menuntut pembebasan segera.
Di San Francisco, kemarahan publik meningkat drastis. Sekitar 200 orang berkumpul pada Selasa (10/6/2025) untuk memprotes penangkapan ratusan demonstran yang sebelumnya terlibat aksi damai sejak Minggu. Aksi berubah ricuh, dengan lebih dari 150 orang ditangkap. Vandalisme meluas, sejumlah mobil termasuk kendaraan polisi dirusak, dan dua petugas terluka dalam bentrokan. Kepolisian San Francisco memperingatkan bahwa kekerasan tidak akan ditoleransi meskipun hak untuk berunjuk rasa dijamin.

Kondisi serupa terjadi di Santa Ana, California, tempat unjuk rasa dilanjutkan sejak Senin. Kendaraan lapis baja digunakan untuk memblokade akses ke Civic Center, markas berbagai institusi pemerintah. Meskipun petugas kebersihan mulai membersihkan lokasi, ketegangan masih terasa. Sejumlah kelompok tandingan juga muncul, bahkan seorang pria terlihat mengenakan topi merah bertuliskan “Make America Great Again”.

Demonstrasi di Austin dan Dallas, Texas, pun berlangsung panas. Massa yang marah melemparkan batu dan botol ke arah aparat. Bentrokan tak terhindarkan, dan beberapa demonstran kembali ditahan. Sementara itu, di Chicago, sekelompok warga menuntut Trump menghentikan operasi ICE dan menarik pasukan federal dari California.

Di Boston, ratusan orang berkumpul di City Hall Plaza untuk menuntut pembebasan David Huerta, pemimpin serikat pekerja yang ditangkap ICE di Los Angeles. Spanduk bertuliskan “Massachusetts bersama Los Angeles” dan “Lindungi imigran di negara bagian tetangga kami” mewarnai aksi solidaritas tersebut.

Di jantung kekuasaan AS, Washington DC, unjuk rasa juga melibatkan sejumlah serikat pekerja dan anggota legislatif. Salah satunya adalah Pramila Jayapal, anggota DPR dari Partai Demokrat, yang turut mengecam keras kebijakan penggerebekan ICE.

“Sudah cukup dengan penggerebekan ICE yang menyasar orang-orang tak bersalah,” tegas Jayapal dalam orasinya.

Ketegangan meningkat setelah sejumlah warga mulai menghalangi penggerebekan ICE, bahkan membakar kendaraan sebagai bentuk perlawanan.

Menanggapi situasi yang kian memburuk, Presiden Trump mengerahkan ribuan Garda Nasional dan ratusan personel marinir untuk meredam aksi-aksi demonstrasi.

Masyarakat sipil, aktivis, dan sejumlah tokoh politik menilai respons pemerintah terlalu represif dan justru memperburuk ketegangan sosial. Mereka menuntut agar kebijakan imigrasi Trump direvisi dan agar aparat tidak lagi menggunakan kekuatan militer untuk menghadapi warganya sendiri.

Gelombang protes ini menegaskan bahwa isu imigrasi tidak hanya soal hukum dan keamanan, tetapi menyangkut kemanusiaan, keadilan sosial, dan nilai-nilai dasar demokrasi Amerika.

Redaksi

Exit mobile version