GazanaPublika.com, Tel Aviv — Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah rudal-rudal balistik Teheran menghantam kota Beersheba untuk hari kedua berturut-turut. Militer Israel mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara Iron Dome mengalami gangguan teknis, memungkinkan beberapa proyektil Iran menembus pertahanan dan jatuh di kawasan sipil.
Dalam pernyataan resminya, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa sirene peringatan berbunyi di sejumlah distrik setelah radar mendeteksi peluncuran rudal dari arah Iran.
“Kami tengah berupaya mencegat serangan lanjutan,” demikian dikutip dari laporan militer Israel melalui saluran Telegram, sebagaimana diberitakan Maariv dan Al Jazeera.
Salah satu titik terdampak adalah Soroka Medical Center, yang sehari sebelumnya juga sempat dihantam rudal. Menurut rumah sakit, tujuh orang mengalami luka ringan saat berusaha menghindar ke tempat perlindungan pada Jumat pagi. Seluruh korban telah dievakuasi dan mendapat penanganan medis darurat.
“Kami menyiapkan dua pos perawatan lapangan dan segera memeriksa warga yang berhasil keluar dari gedung,” ujar Dvir Ben Ze’ev, paramedis dari Magen David Adom (MDA), kepada wartawan di Beersheba. Ia menyebut sempat melihat asap tebal dan kendaraan terbakar, menandai intensitas serangan yang signifikan (sumber: Maariv).
Iron Dome Disorot, Warga Marah dan Trauma
Al Jazeera, dalam laporan langsungnya dari Yordania—mengikuti larangan liputan di wilayah Israel dan Tepi Barat—menyoroti bahwa malfungsi sistem pertahanan Iron Dome menjadi titik lemah serius dalam serangan terbaru ini. Banyak warga menyayangkan bahwa sistem yang selama ini diandalkan tampak tak mampu merespons secara maksimal.
Di media sosial, warga membagikan foto-foto kerusakan rumah, jendela pecah, dan perabot yang hancur. Ketakutan merambah karena serangan terjadi di area sipil, bukan hanya sasaran strategis.
Eskalasi Pasca-Serangan Nuklir
Ketegangan ini bermula sejak serangan udara Israel terhadap situs nuklir dan pangkalan militer Iran pada pekan lalu. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke berbagai kota Israel, termasuk Tel Aviv, Holon, Beersheba, dan Ramat Gan.
Menurut Kementerian Kesehatan Iran, sejak konflik pecah, sedikitnya 224 orang tewas dan lebih dari 1.800 terluka akibat serangan Israel. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Israel melaporkan 271 korban luka-luka hingga Kamis pagi, sementara Channel 12 mencatat 24 korban tewas dan lebih dari 838 warga terluka, serta evakuasi besar-besaran sekitar 5.000 penduduk dari zona merah.
Situasi Kritis: Keamanan dan Kemanusiaan dalam Tekanan
Meskipun Israel dikenal memiliki salah satu sistem pertahanan udara tercanggih di dunia, kejadian dua hari berturut-turut di Beersheba membuka keraguan tentang ketahanannya dalam menghadapi gelombang serangan simultan.
Para analis memperingatkan bahwa ketidakmampuan menahan rudal Iran dapat mempercepat keterlibatan pihak ketiga, baik dari aliansi regional maupun global. Saat ini, tekanan terhadap kedua pihak untuk segera menghentikan konflik bersenjata semakin besar, namun tidak ada tanda-tanda deeskalasi dalam waktu dekat.

