GazanaPublika.com, Jakarta – Serangan balistik besar-besaran Iran terhadap Israel dalam operasi bertajuk True Promise III pada Juni 2025 menjadi tamparan nyata terhadap kepercayaan dunia atas kokohnya sistem pertahanan udara Israel, termasuk Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow. Banyak rudal dan drone yang diluncurkan Iran berhasil menghantam target strategis di Tel Aviv dan Haifa, membuat publik global terkejut dan mulai bertanya: Bagaimana jika serangan semacam ini terjadi di Indonesia? Apakah sistem pertahanan kita siap menangkis ancaman serupa?
Pertanyaan itu bukanlah fiksi ilmiah, melainkan refleksi realistis atas dinamika keamanan modern. Menanggapi skenario ini, pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES), Khairul Fahmi, dalam wawancaranya kepada CNN Indonesia (27/6/2025), menilai bahwa sistem perlindungan udara Indonesia saat ini belum memiliki daya tangkal yang sebanding dengan kompleksitas dan volume serangan seperti yang dilakukan Iran terhadap Israel.
Sistem Pertahanan RI Masih Terbatas dan Terpisah
Fahmi menjelaskan bahwa saat ini Indonesia memang telah memiliki beberapa komponen sistem pertahanan udara seperti rudal jarak pendek, sistem jarak menengah yang tengah dikembangkan, serta jaringan radar yang tersebar di beberapa wilayah. Salah satu sistem paling mutakhir yang telah dimiliki Indonesia adalah NASAMS (National Advanced Surface to Air Missile System), yang dibeli dari konsorsium Norwegia-Amerika pada tahun 2017.
NASAMS dikenal mampu menghadapi berbagai ancaman udara mulai dari pesawat tempur, drone, hingga rudal jelajah. Sistem ini menggunakan radar AN/MPQ-64 dan rudal AIM-120C AMRAAM, serta telah diuji coba dalam berbagai konflik, termasuk di Eropa Timur. Namun, menurut Fahmi, kekuatan semacam ini tidak akan cukup jika tidak diintegrasikan dalam sistem pertahanan nasional yang terpadu, multi-layer, dan real-time responsive.
“Pertahanan kita belum berlapis seperti Iron Dome yang bisa mengelola serangan simultan dari berbagai arah dan jenis,” kata Fahmi, menekankan bahwa sistem pertahanan Indonesia masih tersebar dan belum memiliki jaringan komando dan kendali terpusat yang andal.
Tantangan Keamanan Masa Kini: Rudal, Drone, dan Perang Siber
Menurut Fahmi, konflik masa depan bukan lagi dominan dalam bentuk pertempuran infanteri atau tank di medan terbuka, melainkan serangan presisi melalui rudal balistik, rudal jelajah, dan drone kamikaze yang dilakukan dalam waktu singkat dengan akurasi tinggi. Ia juga menekankan bahwa perang modern mencakup koordinasi antara serangan fisik dan serangan siber-elektronik, sehingga membutuhkan sistem pertahanan udara yang tidak hanya canggih secara senjata, tapi juga dalam sistem kontrol dan intelijen.
Penggunaan rudal oleh Iran, yang menurut berbagai media seperti Reuters, Al Jazeera, dan The Guardian, dilakukan dalam koordinasi dengan drone kamikaze dan pengacauan sinyal radar, menunjukkan bahwa perang jarak jauh kini menjadi metode yang efisien dan mematikan. Maka dari itu, Indonesia — meski tidak terlibat dalam konflik regional selevel Timur Tengah — tidak boleh merasa aman hanya karena posisi geografisnya.
Perlu Peta Jalan dan Komitmen Jangka Panjang
Fahmi mengapresiasi bahwa pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, telah mendorong transformasi industri pertahanan nasional sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Namun, menurutnya, kebijakan ini harus dikawal dengan peta jalan yang jelas dan berorientasi pada integrasi sistem pertahanan multi-layer, yang tidak hanya mengandalkan pembelian alutsista dari luar negeri tetapi juga pengembangan teknologi dalam negeri dan kolaborasi internasional.
“Kemandirian senjata dan sistem pertahanan adalah kunci bertahan di tengah geopolitik global yang tidak stabil,” tegas Fahmi.
Prabowo sendiri, dalam berbagai kesempatan, telah menyuarakan pentingnya kedaulatan pertahanan sebagai bagian dari agenda besar membangun Indonesia yang kuat dan berdaulat. Mengutip dari CNBC Indonesia dan Kompas.com, Prabowo juga telah membuka kerja sama pertahanan dengan negara-negara seperti Korea Selatan, Prancis, dan Turki untuk memperkuat lini tempur TNI dan memperbaharui sistem radar serta pertahanan udara.
Serangan rudal Iran ke Israel menjadi pengingat keras bagi banyak negara, termasuk Indonesia, bahwa era perang konvensional sudah berlalu. Kini, negara yang mampu bertahan adalah negara yang tidak hanya memiliki rudal, tank, dan jet tempur, tetapi juga sistem pertahanan udara terintegrasi, cerdas, dan adaptif.
Indonesia perlu memandang sistem pertahanan sebagai sebuah ekosistem, bukan sekadar alutsista. Hal ini mencakup radar, komando, data intelijen, jaringan pertahanan siber, hingga sumber daya manusia yang dilatih untuk mengelola ancaman kompleks dan simultan.
Dengan mengembangkan sistem ini secara konsisten dan tidak reaktif, Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan — tidak hanya dari konflik eksternal, tapi juga dari ancaman lintas batas dan teknologi militer baru yang terus berkembang.***

