Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Perlu Belajar dari Serangan Iran ke Israel: Sistem Pertahanan Nasional Harus Diperkuat Secara Teknologis

Perlu Belajar dari Serangan Iran ke Israel: Sistem Pertahanan Nasional Harus Diperkuat Secara Teknologis

Berita Utama Jumat, 27 Juni 2025 21:02 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

GazanaPublika.com, Jakarta – Serangan balistik besar-besaran Iran terhadap Israel dalam operasi bertajuk True Promise III pada Juni 2025 menjadi tamparan nyata terhadap kepercayaan dunia atas kokohnya sistem pertahanan udara Israel, termasuk Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow. Banyak rudal dan drone yang diluncurkan Iran berhasil menghantam target strategis di Tel Aviv dan Haifa, membuat publik global terkejut dan mulai bertanya: Bagaimana jika serangan semacam ini terjadi di Indonesia? Apakah sistem pertahanan kita siap menangkis ancaman serupa?

Pertanyaan itu bukanlah fiksi ilmiah, melainkan refleksi realistis atas dinamika keamanan modern. Menanggapi skenario ini, pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES), Khairul Fahmi, dalam wawancaranya kepada CNN Indonesia (27/6/2025), menilai bahwa sistem perlindungan udara Indonesia saat ini belum memiliki daya tangkal yang sebanding dengan kompleksitas dan volume serangan seperti yang dilakukan Iran terhadap Israel.

Sistem Pertahanan RI Masih Terbatas dan Terpisah

Fahmi menjelaskan bahwa saat ini Indonesia memang telah memiliki beberapa komponen sistem pertahanan udara seperti rudal jarak pendek, sistem jarak menengah yang tengah dikembangkan, serta jaringan radar yang tersebar di beberapa wilayah. Salah satu sistem paling mutakhir yang telah dimiliki Indonesia adalah NASAMS (National Advanced Surface to Air Missile System), yang dibeli dari konsorsium Norwegia-Amerika pada tahun 2017.

NASAMS dikenal mampu menghadapi berbagai ancaman udara mulai dari pesawat tempur, drone, hingga rudal jelajah. Sistem ini menggunakan radar AN/MPQ-64 dan rudal AIM-120C AMRAAM, serta telah diuji coba dalam berbagai konflik, termasuk di Eropa Timur. Namun, menurut Fahmi, kekuatan semacam ini tidak akan cukup jika tidak diintegrasikan dalam sistem pertahanan nasional yang terpadu, multi-layer, dan real-time responsive.

BACA JUGA:  Tepis Kekhawatiran Rupiah Melemah, Parlemen Sebut Pidato Presiden Hanya Guna Redam Kepanikan

“Pertahanan kita belum berlapis seperti Iron Dome yang bisa mengelola serangan simultan dari berbagai arah dan jenis,” kata Fahmi, menekankan bahwa sistem pertahanan Indonesia masih tersebar dan belum memiliki jaringan komando dan kendali terpusat yang andal.

Tantangan Keamanan Masa Kini: Rudal, Drone, dan Perang Siber

Menurut Fahmi, konflik masa depan bukan lagi dominan dalam bentuk pertempuran infanteri atau tank di medan terbuka, melainkan serangan presisi melalui rudal balistik, rudal jelajah, dan drone kamikaze yang dilakukan dalam waktu singkat dengan akurasi tinggi. Ia juga menekankan bahwa perang modern mencakup koordinasi antara serangan fisik dan serangan siber-elektronik, sehingga membutuhkan sistem pertahanan udara yang tidak hanya canggih secara senjata, tapi juga dalam sistem kontrol dan intelijen.

Penggunaan rudal oleh Iran, yang menurut berbagai media seperti Reuters, Al Jazeera, dan The Guardian, dilakukan dalam koordinasi dengan drone kamikaze dan pengacauan sinyal radar, menunjukkan bahwa perang jarak jauh kini menjadi metode yang efisien dan mematikan. Maka dari itu, Indonesia — meski tidak terlibat dalam konflik regional selevel Timur Tengah — tidak boleh merasa aman hanya karena posisi geografisnya.

Perlu Peta Jalan dan Komitmen Jangka Panjang

Fahmi mengapresiasi bahwa pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, telah mendorong transformasi industri pertahanan nasional sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Namun, menurutnya, kebijakan ini harus dikawal dengan peta jalan yang jelas dan berorientasi pada integrasi sistem pertahanan multi-layer, yang tidak hanya mengandalkan pembelian alutsista dari luar negeri tetapi juga pengembangan teknologi dalam negeri dan kolaborasi internasional.

BACA JUGA:  BMKG Peringatkan Hujan Lebat Masih Mengguyur Sejumlah Wilayah, Jakarta dan Jawa Barat Masuk Status ‘Siaga’

“Kemandirian senjata dan sistem pertahanan adalah kunci bertahan di tengah geopolitik global yang tidak stabil,” tegas Fahmi.

Prabowo sendiri, dalam berbagai kesempatan, telah menyuarakan pentingnya kedaulatan pertahanan sebagai bagian dari agenda besar membangun Indonesia yang kuat dan berdaulat. Mengutip dari CNBC Indonesia dan Kompas.com, Prabowo juga telah membuka kerja sama pertahanan dengan negara-negara seperti Korea Selatan, Prancis, dan Turki untuk memperkuat lini tempur TNI dan memperbaharui sistem radar serta pertahanan udara.

Serangan rudal Iran ke Israel menjadi pengingat keras bagi banyak negara, termasuk Indonesia, bahwa era perang konvensional sudah berlalu. Kini, negara yang mampu bertahan adalah negara yang tidak hanya memiliki rudal, tank, dan jet tempur, tetapi juga sistem pertahanan udara terintegrasi, cerdas, dan adaptif.

Indonesia perlu memandang sistem pertahanan sebagai sebuah ekosistem, bukan sekadar alutsista. Hal ini mencakup radar, komando, data intelijen, jaringan pertahanan siber, hingga sumber daya manusia yang dilatih untuk mengelola ancaman kompleks dan simultan.

Dengan mengembangkan sistem ini secara konsisten dan tidak reaktif, Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan — tidak hanya dari konflik eksternal, tapi juga dari ancaman lintas batas dan teknologi militer baru yang terus berkembang.***

Israel Teknologi
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Nasional

Kejagung Bongkar Modus ‘Markup’ dan Aliran Dana Haram Dadan cs di Program ‘MBG’

Nasional

Kantor BGN Digeledah Kejagung Usai Copot Jabatan Pimpinan, Diduga Terkait Kasus Jual Beli Titik ‘SPPG’

Berita Utama

Kasus Korupsi BGN: Eks Kepala dan Dua Mantan Wakil Resmi Menyandang Status Tersangka

Nasional

Evolusi Kurikulum Kampus: Di Balik Fakta Penutupan Ratusan Program Studi Sepanjang 2026

BERITA TERBARU

Pelajar SMPN 1 Wanasalam Tewas Laka Lantas Setelah Motor Diserempet Dump Truk

Ditsamapta Polda Banten Perbaiki Jembatan Merah Putih, Wujud Nyata Kepedulian Polri terhadap Masyarakat

Ketua MPC PP Lebak Beri Apresiasi Tinggi, Penangkapan Kepala BGN Pusat

Lima Potensi Karakter Dasar Manusia dalam Desain DNA

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Lima Potensi Karakter Dasar Manusia dalam Desain DNA

Menelusuri Potensi Cara Berpikir yang Tertulis dalam Untaian DNA, Ini Cetak Birunya

Mengurai Dialektika Genetika, Epigenetika, dan Jati Diri Klan Leluhur

RAGAM

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

AI Bukan Tuhan: Menelanjangi Ilusi Mahatahu di Balik Kecerdasan Buatan

Eksotis, Alami dan Memikat: Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.