GazanaPublika.com, Malingping – Sebelum pelaksanaan pelantikan Pengurus Tjimande Tarikolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI), Kapolsek Malingping, AKP Sugiar Ali Munandar, S.H., sudah hadir memenuhi undangan panitia. Dengan ramahnya, Pak Sugiar, sapaan akrabnya, menyapa beberapa anggota TTKKBI seraya menyalami mereka semua.
AKP Sugiar pun segera turun ke lebak (istilah bahasa Sunda menunjuk bagian lebih bawah dataran), mengambil posisi duduk, bergabung dengan pengurus TTKKBI lainnya yang telah lebih dahulu menempati tempat. Dengan santai, AKP Sugiar menunjukkan wajah semringah dan bersahabat. Beberapa anggota TTKKBI pun menyapanya dan menyalaminya, menghormati Kapolsek yang telah meluangkan waktu hadir di acara mereka.
AKP Sugiar mengikuti seluruh acara tersebut hingga pukul 01.00 WIB. Di sela-sela acara yang masih berlangsung, pertunjukan Pencak Silat Tjimande Tarikolot dari peserta TTKKBI, wartawan GazanaPublika.com mengajak berbincang-bincang dengannya.
Wartawan GazanaPublika.com menanyakan mengapa Kapolsek sepertinya sangat menyukai turun langsung ke masyarakat dan bersedia menghadiri acara yang mereka selenggarakan.
AKP Sugiar menjawab dengan ringan bahwa dirinya memang senang berakrab-akrab dengan masyarakat, bukan hanya karena sebagai polisi yang wajib mengayomi, tetapi lebih dari suatu panggilan hati nurani.
“Kalau suatu saat saya sudah pensiun maka saya adalah masyarakat. Orang tua saya berpesan, jangan bangga karena bajumu,” pesan ini ia ingat sekali sampai sekarang.
Menanggapi acara TTKKBI, AKP Sugiar menjelaskan bahwa dirinya memang menyukai acara budaya seperti itu, apalagi yang berhubungan dengan Pencak Silat. Ia teringat sewaktu kecil pernah belajar Pencak Silat bahkan tari Jaipongan. Mantan Kapolsek Panimbang ini menjelaskan bahwa Pencak Silat itu dipelajari waktu di pesantren dulu.
“Saya menyukai acara seperti ini karena ada nuansa kekeluargaan. Acara budaya itu substansinya membangun kekompakan. Kan sama dengan sila ketiga Pancasila,” jelas AKP Sugiar yang juga sebagai salah satu Pembina TTKKBI DPW II Kabupaten Lebak Selatan.
AKP Sugiar menjelaskan membangun kerukunan di zaman ini sangat sulit. Ia sangat sedih melihat generasi muda yang sudah kecanduan gadget dan media sosial sehingga mereka mengalami keterasingan dengan budaya.
“Nah, saya berharap acara seperti ini dapat merekatkan kembali kerukunan masyarakat, setidaknya bisa merekrut anak-anak muda untuk terlibat. Banyak anak muda kehilangan budayanya. Budaya tidak boleh hilang dari generasi muda agar mereka tetap bersandar pada akar leluhurnya,” jelas AKP Sugiar yang ternyata masih memiliki hubungan keturunan Banten dari ibunya.
Acara budaya seperti itu, jelas AKP Sugiar, bisa mengikis radikalisasi di masyarakat. Dengan begitu, tuturnya, keberadaan TTKKBI ini telah menguatkan sendi-sendi budaya.
“Intinya yang ingin saya sampaikan, dengan budaya, akan terbangun persatuan di antara masyarakat. Tidak ada gunanya konflik antar sesama. Sebagai muslim, coba kita renungkan makna tujuh ayat (maksudnya surat Al-Fatihah). Nah, ayat ketiga Allah memberikan firman-Nya ‘Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’. Kita harus saling mencintai. Tebarkan kasih sayang, apalagi kepada fakir miskin,” jelas AKP Sugiar menutup obrolannya karena harus menghadiri undangan masyarakat lain.(red)

