Advertisement
GazanaPublika.com – Waswas adalah bentuk kekhawatiran. Lalu, apa yang dimaksud dengan khawatir?
Khawatir adalah rasa takut akan sesuatu yang belum tentu terjadi. Ia merupakan kekhawatiran akan masa depan yang masih belum pasti — sebuah bayangan yang belum nyata, namun mengganggu ketenangan batin.
Advertisement
Banyak orang mengalami hal semacam ini sebagai bagian dari gejala kejiwaan. Khawatir, pada batas tertentu, adalah respons alami manusia. Namun apabila perasaan khawatir itu berlebihan dan berulang tanpa kendali, maka ia bisa menjadi penyakit kejiwaan.
Dalam pengertian leksikal atau secara bahasa, perlu dibedakan antara penyakit kejiwaan dan sakit jiwa. Penyakit kejiwaan masih berada dalam wilayah kesadaran; orang yang mengalaminya masih bisa berpikir dan bersosialisasi. Sementara sakit jiwa biasanya sudah merujuk pada kondisi hilangnya kesadaran atau kendali diri, yang dalam istilah medis modern dikenal sebagai ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).
Disebut penyakit kejiwaan karena perasaan khawatir yang berlebihan itu akan mengganggu kestabilan pikiran dan hati seseorang. Akibatnya, ia kehilangan kebahagiaan, merasa selalu berada dalam tekanan — padahal tekanan itu sering kali hanya ilusi yang ia ciptakan sendiri.
Penulis pernah menyaksikan fenomena ini terjadi. Dalam beberapa kasus, kekhawatiran yang ekstrem bisa memicu halusinasi: munculnya gambaran-gambaran tentang bencana atau kejadian buruk yang seolah pasti akan menimpa diri sendiri atau orang yang dicintai, padahal semua itu belum tentu terjadi.
Banyak sekali bentuk-bentuk kekhawatiran seperti khawatir tidak makan, bakal mendapatkan musibah, khawatir tidak akan sembuh dan sebagainya. Secara umum, kekhawatiran yang berlebihan biasanya muncul dalam dua bentuk:
• Kekhawatiran terhadap diri sendiri, seperti takut tidak bisa makan, takut sakit, atau takut tertimpa musibah.
• Kekhawatiran terhadap orang-orang terdekat, seperti orang tua, anak, atau pasangan — dengan ketakutan yang sama: takut kelaparan, sakit, atau musibah.
Dua bentuk kekhawatiran ini sebenarnya menjadi cermin keimanan kita terhadap takdir Allah. Sering kali, sesuatu belum terjadi, namun kita sudah lebih dulu menyimpulkan bahwa hal buruk pasti akan terjadi. Padahal Allah belum menetapkannya.
Jika perasaan ini tertanam kuat dalam kesadaran kita, maka secara tidak langsung, kita telah meragukan takdir Allah. Dan ini bukan perkara sepele. Ini bukan hanya masalah psikologis, tetapi menyentuh inti dari keimanan kita sebagai seorang Muslim.
Maka, cara terbaik untuk keluar dari kekhawatiran yang berlebihan adalah dengan memperkuat keyakinan kita terhadap takdir dan menyerahkan diri dan kehidupan kita kepada Allah. Bahwa tidak ada satu pun yang terjadi di dunia ini kecuali dengan izin dan kehendak Allah.
Keimanan kepada takdir merupakan bagian dari rukun iman, dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Berat risikonya bila seorang Muslim terjerumus keluar dari lingkaran iman karena dikuasai oleh kekhawatiran yang berlebihan.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan jika ternyata kita mengalami gejala semacam ini?
Jawabannya adalah memperbaiki kesadaran diri, dan menanamkan sikap husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah. Bahwa apa pun yang terjadi, baik atau buruk menurut pandangan kita, tetap berada dalam lingkup kasih sayang dan kehendak-Nya.
Dengan demikian, waswas tidak akan membelenggu hati, dan jiwa kita akan lebih tenang dalam menghadapi segala keadaan, karena kita percaya sepenuhnya pada takdir Allah yang Mahabaik.
Advertisement
