“Orang yang menyesali diri itu seperti orang yang duduk di bangku dan takut bangkunya rubuh menimpa orang lain (anak kecil)”
-AOA-
GazanaPublika.com – Setiap orang pernah mengalami penyesalan pada tingkat tertentu akibat apa yang kita putuskan atau lakukan.
Penyesalan dalam hidup bisa datang dari mana saja. Entah karena hubungan pertemanan, percintaan atau kegagalan dalam studi dan bisnis, atau urusan-urusan lainnya yang terkadang meninggalkan penyesalan mendalam.
Penyesalan memang wajar terjadi karena itu bisa menjadi refleksi diri di masa depan.
Penyesalan bersifat obsesi yang sering mendidih di dalam pikiran seseorang. Seringkali, hal-hal yang kita biarkan berputar-putar di otak kita tetap ada di sana dalam waktu yang lama.
Hal itu menghalangi kita untuk melangkah lebih jauh. Jika kita terus membiarkan ini maka lambat laun kita akan mengutuk diri sendiri maupun orang lain terhadap segala keputusan yang telah kita buat.
Menyesali erat kaitannya dengan waktu karena suatu hal yang “harusnya atau tidak seharusnya” dilakukan di waktu yang telah lalu maka dalam QS Al ‘Ashr berikut ini Allah SWT menjelaskan tentang waktu, yang artinya:
“Demi waktu. Sungguh, manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS Al ‘Ashr: 1–3)
QS Al ‘Ashr menjelaskan tentang aset penting dalam hidup, yang disediakan oleh Allah SWT untuk dikelola. Aset tersebut dimiliki oleh setiap makhluk hidup namun tidak semua makhluk hidup mampu mengelolanya. Aset tersebut adalah waktu.
Manusia dan jin-lah yang diberikan kemampuan sebagai pengelola aset tersebut. Siapapun yang gagal mengelola aset tersebut, maka akan merasakan penyesalan.
Surat Al Ashr juga menginformasikan kepada kita bahwa semua manusia akan merasakan rugi dan menyesal bahkan orang yang telah berbuat baik sekalipun akan menyesal, dikatakan mengapa ia tidak berbuat baik lebih banyak. Hal ini setidaknya dapat kita lihat dalam sebuah kisah di zaman Rasulalloh SAW berikut ini:
Seorang sahabat bernama Sya’ban radhiallahu ‘anhu meninggal dunia, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam bertakziah ke rumah beliau. Saat itu, Istri Sya’ban ra. bertanya: “Ya Rasulullah ada sesuatu yang menjadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya.”
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah.
“Di masing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh! Aduh kenapa tidak yang baru! Aduh kenapa tidak semua!’” jawab istri Sya’ban.
Rasulullah saw. pun melantunkan ayat yang terdapat dalam QS. Qaaf: 22, “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”
“Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra. (dan orang yang sakaratul maut) tidak dapat disaksikan yang lain. Dalam padangannya yang tajam itu Sya’ban ra. melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalat berjama’ah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra. diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,” ujar Rasulullah.
Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat, dia berucap: “Aduh mengapa tidak lebih jauh”, timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra., mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah.
Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban ra. melihat saat ia akan berangkat shalat berjama’ah di musim dingin. Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Ia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Ia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.
Ia berpikir, jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan ketika sampai di masjid ia dapat membuka baju luar dan shalat dengan baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid, ia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban ra. pun merasa iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut. Kemudian ia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat shubuh bersama-sama.
Orang itu pun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat jama’ah. Sya’ban ra. pun kemudian melihat indahnya surga sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.
Kemudian ia berteriak lagi “Aduh!! Kenapa tidak yang baru”, timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban ra. Jika dengan baju butut saja dapat mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu ia akan mendapatkan surga yang lebih indah jika dia memberikan pakaian yang baru.
Berikutnya, Sya’ban ra. melihat lagi suatu adegan. Saat ia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci, tentu mengetahui ukuran roti Arab (sekitar tiga kali ukuran rata-rata roti Indonesia).
Ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal itu, Sya’ban ra. merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan volume yang sama rata. Kemudian mereka makan bersama-sama. Allah SWT. Kemudian memperlihatkan Sya’ban ra. dengan surga yang indah.
Ketika melihat itupun Sya’ban ra. berteriak lagi, “Aduh kenapa tidak semua!!” Sya’ban ra. kembali menyesal. Seandainya ia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut, maka pasti ia akan mendapat surga yang lebih indah. Masyaallah, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya melainkan menyesali mengapa tidak optimal dalam amaliyah yang dilakukannya selama ini.
Apabila muncul penyesalan yang sungguh-sungguh, maka seyogyanya kita bisa merasakan adanya kekhawatiran dalam diri terhadap terjadinya lalai yang menyebabkan kecelakaan dan kebinasaan atas diri sendiri.
Wallahu a’lam bishawab.
Editor:
Qiunhuaqi

