“Shalat bukan menjalankan kesucian tetapi kewajiban” -AOA-
GazanaPublika.com – Sifat yang berbahaya bagi seorang manusia ketika merasa dirinya suci. Kalau seseorang sudah merasa suci, lalu kapankah dia punya waktu untuk bertaubat? Orang yang berdosa masih lebih baik kedudukannya daripada orang yang merasa suci, sebab orang yang berdosa masih memiliki nurani rasa bersalah dan berpeluang untuk bertaubat. Sedangkan orang yang merasa suci adalah capaian tertingginya dalam dosanya.
Namun, fenomenanya, kadangkala orang yang merasa berdosa, dia terhalang untuk shalat dengan motif yang berbeda-beda, entah itu motif karena merasa dosanya besar dan merasa tidak pantas untuk shalat atau mungkin karena merasa malu kepada Tuhan dan akhirnya tidak mau shalat.
Seyogyanya tidak bisa berprinsip seperti itu sebab bab dosa dengan bab shalat itu berbeda. Orang berdosa tetap wajib shalat walaupun dosanya sebesar gunung. Merasa berdosa itu bukan dilakukan sebelum shalat sehingga menghalangi niatnya untuk shalat. Justru rasa berdosa dinyatakan oleh kita setelah shalat, maka mari kita shalat sebagai ungkapan rasa berdosa kita kepada Allah.
Shalat itu bukan untuk menjalankan kesucian atau untuk mencapai kesucian sebab kesucian itu hanya milik Allah. Orang yang berdosa wajib shalat dan seandainya saja ada orang yang tidak berdosa, maka shalat tetap wajib baginya. Semua orang mukmin wajib shalat, siapa pun dia.
Yang miskin wajib shalat dan yang kaya pun wajib shalat. Ulama wajib shalat dan orang awam pun wajib shalat. Shalat adalah kewajiban dan dengan adanya dosa, maka wajib meminta ampunan.
Tidak ada manusia yang tidak memikul dosa dan karenanya setiap yang berdosa pun wajib shalat, tidak dihitung berapa dosa yang ditanggungnya, apakah besar atau kecil.

