Advertisement
“Ilmu amal dekatnya dengan perbuatan nurani (hati) sedangkan ilmu alam dekatnya dengan dengan pengetahuan atau akal pikiran” – AOA
GazanaPublika.com – Kata ‘Amal’ hampir miirip dengan ‘Alam’. Inilah yang kemudian membedakan antara keduanya. Pada ruang syariat, tarekat hakikat dan makrifat kesembuhannya tersebut membutuhkan amal. Amal tanpa ilmu seperti orang buta sedangkan ilmu tanpa amal akan sia-sia.
Advertisement
Tujuan menuntut ilmu itu agar bisa dipraktikkannya di dalam amal. Amal diartikan sebagai sebuah tabungan yang kelak akan bermanfaat di akhirat. Amal juga dapat diartikan sebagai pekerjaan yang berhubungan dengan agama. Tujuan amal adalah untuk mendapatkan pahala namun puncak amal adalah untuk meraih keridhaan Allah.
Sebagai sebuah pekerjaan di dalam ibadah maka amal berada pada perbuatan syariat yakni ada yang bersifat wajib dan sunnah. Walaupun seseorang telah mempraktikkan tasawuf tetap fondasinya adalah amal. Amal yang berangkat dari hasil ibadah wajib maka hukumnya juga wajib sebagai perbuatan rutin yang harus dilakukan.
Untuk meningkatkan amal maka harus dengan ilmunya yakni dengan proses belajar dan di dalam pembelajaran tersebut mendapatkan akan pengetahuan yang menunjang untuk amal tersebut. Namun pengetahuan yang dimaksud dalam hal ini adalah berhubungan dengan agama Islam yang bersumber kepada Al Quran dan as-sunnah.
Ilmu amal berangkat dari nurani. Yang dimaksud dengan nurani adalah sebuah kesadaran yang halus yang berangkat dari keinginan yang kuat untuk melaksanakan amal tersebut. Nurani juga menjadi sumber komitmen dan tekad kepada Allah.
Nurani berada di dalam qalbu. Qalbu itu adalah suatu alat yang dititipkan oleh Allah ke dalam diri manusia untuk mengenal Allah. Hanya qalbu yang bisa mengenal Allah. Qolbi itu berisi pemahaman yang berseberangan dengan sifat akal. Apabila akal condong kepada sesuatu yang bersifat kausalitas maka sebaliknya qalbu adalah bersifat non kausalitas. Maksud bahwa hati akan bekerja melaksanakan perintah Allah tanpa bertanya mengapa harus dikerjakan dam untuk apa serta apa alasannya karena sifatnya yang taat.
Akal itu sifatnya logis dan materialis. Sedangkan qalbu sifatnya substantif dan hakiki. Sifat-sifat hati tidak bisa dipahami oleh akal. Sebaliknya sifat akal tidak bisa dipahami oleh angka hati karena keduanya memang berseberangan.
Sifat hati beraktifitas kepada hal-hal yang melampaui logika seperti cinta. Cinta hanya bisa dipahami oleh hati dan tidak ada logika yang bisa menerjemahkan cinta tersebut karena sifatnya sangat abstrak dan bersumber pada perasaan. Karena sifatnya non logis maka sangatlah wajar apabila hanya hati itulah yang mampu memahami keberadaan sosok transendental yang disebut Tuhan. Karena Tuhan atau yang dimaksud Allah SWT adalah sebuah realitas yang tidak bisa dipahami walaupun terasa akal sudah bisa menterjemahkannya padahal sesungguhnya tidak sama sekali mampu.
Apabila secara tauhid banyak orang yang berbicara bahwa apabila ada ciptaan maka ada penciptanya maka hanyatingkat itu saja jangkauan akal dalam memahami ketuhanan selebihnya tidak bisa dilogikakan.
Sebaliknya aktivitas hati bekerja pada ranah di luar nalar. Serendah-rendahnya aktivitas adalah memahami cinta. Dan maqam hati yang telah mencapai derajat ketinggian yaitu ketika ia telah mengenal Allah.
Sedangkan ilmu alam dekatnya pada akal. Akal menjadi alat yang efektif untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan manusia di dalam alam itu sendiri. Dengan akal, manusia bisa berkarya, meraih sesuatu dan meraih cita-cita. Akal adalah alat untuk berusaha dalam segala aspek yang diinginkan. Tanpa akal seorang manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa di dunia ini.
Manusia berisi cipta dan karya. Sedangkan alam berisi ‘upaya dan usaha’ dan hanya dengan akalnya segala sesuatu bisa terwujud. Walaun pun ads kaidah lain, seperti maqam tawakal, manusia bisa mewujudkan sesuatu tanpa keterlibatan akal.
Dengan demikian akal pun adalah karunia dari Allah yang digunakan untuk berpikir mencipta dan mengusahakan sesuatu. Memiliki nilai yang tinggi di dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya kedudukan akal tidak bisa diabaikan keberadaannya. Bahkan untuk menuntut ilmu agama pun, akal memiliki fungsi untuk menyerap pengetahuan-pengetahuan agama. Namun akal memiliki pasangan yakni qalbu. Oleh karenanya kedua hal tersebut harus saling mendukung dan berinteraksi. Di dalam diri manusia akan selalu bekerja secara otomatic.
Namun di dalam ilmu tasawuf ada pencapaian tertinggi di mana hanya hati yang bisa memahaminya ketika capaian spiritual telah mencapai mukasafah dan mujalasah dengan Allah. Pada titik ini, bukan berarti akal ditinggalkan atau diabaikan apalagi sengaja dicapaka. Bukan itu maksudnya. Namun ketika manusia telah mencapai dimensi rohani yang telah bersentuhan dengan aspek ilahiyah maka dengan sendirinya akal tidak bekerja karena hal ini bukan berhubungan dengan aspek-aspek dunia. Bahkan dalam kitab ‘Mawakif Al Mukhathabat’ dijelaskan bahwa ruh tidak akan mencapai Allah apabila masih menggandeng akal. Dalam arti bukan berarti akal tidak boleh ikut kepada ruh namun akal dengan sendirinya tidak mampu untuk berada dalam maqam tersebut.
Advertisement
