“Pengetahuan untuk didengarkan sedangkan adab dan keterampilan bersifat nyata” – AOA

GazanaPublika.com – Pengetahuan berangkat dari refrensi, baik dari buku atau didengar dari orang lain. Sekuat-kuatnya pengetahuan, bentuknya tetap abstrak, baik yang menyampaikan maupun yang mendengarkan sebelum hal itu dipraktikan. Mudahnya berbicara sebagaimana mudahnya mendengar. Kadang yang menyampaikan pun belum mengerti wujudnya suatu pekerjaan ketika hal itu dipraktikan. Lalu ketika hal itu berefek pada yang mendengarkan maka akan lebih kabur lagi materi yang disampaikan. Keduanya seperti orang yang terperangkap dalam kehampaan dan kekosongan dikarenakan bergelut pada sesuatu yang tidak jelas.

Pernahkah kita mendengarkan suatu penjelasan dari seseorang yang bergelut langsung dalam suatu pekerjaan? Yakni, orang yang mengalami langsung. Mungkin saja uraiannya seperti acak, tidak sistematis tetapi isinya lebih bermakna dan berisi. Itu karena orang tersebut, si penyampai berangkat dari pengalaman yang dialaminya.

Bahkan diantara orang ada yang bisa menilai, apakah ucapan penyampai hanya omong kosong belaka ataukah memang penyampai sedang menjelaskan pekerjaan yang sebenarnya. Semua bisa terukur dan diukur.

Dalam konteks ini, seorang ulama misalkan memberikan pesan terkait hadits, bahwa jangan dulu disampaikan sebelum diamalkan. Ternyata amal itu sifatnya nyata, bukan teori, tetapi wujud dari kenyataan yang sebenarnya. Lebih luas bahwa Al Quran dan hadits adalah seperangkat pendoman untuk dipraktikan oleh kaum muslimin.

Adab dan keterampilan bukanlah kata-kata, tetapi suatu tuntutan kehidupan yang harus dipraktikan. Adab adalah praktik kehidupan masyarakat mengenai tata cara prilaku yang semestinya harus dilakukan di dalam kehidupan. Isinya adalah keindahan manusia. Sedangkan keterampilan adalah praktik pekerjaan seorang ahli dan mampuni dalam kehidupan untuk mewujudkan target pekerjaannya. Keduanya adalah nyata, dapat terlihat dan bukan berisi pengetahuan belaka tetapi wujud atas pengetahuan. Pengetahuan akan menjadi percuma tanpa praktik nyata.

Demikian juga, keterampilan tidak akan berguna tanpa adab. Sebab yang membuat seseorang senang kepada orang lain dikarenakan prilakunya yang indah dan hal itu jadi ciri khas manusia. Selanjutnya keterampilan bisa terpelihara dalam pekerjaaan dikarenakan adanya adab sehingga pekerjaan itu menjadi awet karena orang lain menyukainya.

Redaksi

Exit mobile version