Advertisement
“Ada hidup yang membimbing, ada hidup yang menakutkan, dan ada hidup pencarian” – AOA
GazanaPublika.com – Menjalani hidup itu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Jika memilih dunia, lakukan dengan ikhtiar. Jika memilih jalan ilmu dan akhirat, harus siap berupaya. Semua butuh konsekuensi dalam menjalaninya. Contohnya, jika ingin kuliah di perguruan tinggi favorit kelas internasional, maka siapkan biayanya. Ingin menjadi pengusaha sukses? Siapkan kecerdasan, modal, dan bersedia merintis dari bawah. Jika ingin hidup santai, tidak perlu berusaha, dan konsekuensinya adalah tidak akan meraih apa-apa.
Advertisement
Kadang, sejak awal hidup sudah menunjukkan kegagalan karena salah jalan, salah merintis, atau salah memulai. Konsekuensi akan terus gagal jika tidak ada usaha memperbaikinya. Inilah hidup yang sesungguhnya menakutkan, meskipun yang bersangkutan mungkin tidak merasa ketakutan. Yang lebih miris adalah apabila di dunia gagal, lalu dalam hal akhirat pun gagal karena tidak ada upaya untuk meraihnya. Padahal, keridaan Allah SWT sangat bergantung pada upaya yang dilakukan. Seandainya dunia tidak bisa diraih, apa salahnya fokus ke akhirat? Menuju akhirat itu gratis, yang penting adalah tekun mendekatkan diri kepada Allah dan berupaya meningkatkan ilmu.
Sedangkan dalam hidup, pencarian itu sering membuat bimbang dalam menentukan pilihan. Sebentar fokus pada dunia, lalu fokus ke akhirat, kemudian lupa lagi dan fokus kembali pada dunia. Ketika dunia tak membuahkan hasil, ia pun fokus lagi pada akhirat. Begitu seterusnya sampai akhir hidupnya. Orang yang bingung seperti ini sering mempertentangkan urusan duniawi dengan akhirat, dan tidak pernah mencoba mengkompromikannya.
Ketika ia mengejar dunia, ia sibuk mencari jalan yang dianggapnya lebih menguntungkan. Usaha terus berganti dan tidak pernah fokus pada satu hal.
Ketika ia mengejar akhirat, ia sibuk memperkarakan aliran. Sepanjang hidupnya hanya dihabiskan untuk mencari guru terbaik dan membandingkan kualitas guru pertama, kedua, dan seterusnya. Kadang ia sibuk mempertentangkan antara syariat dan tarekat, atau antara aliran tauhid yang menjadi pilihannya. Adakah tipikal orang demikian? Itulah pencarian. Orang yang hidupnya hanya untuk pencarian pada akhirnya bisa tersesat. Orang yang hidup dalam keadaan ketakutan tidak pernah menyadari hakikat hidup, sehingga waktu menggerogotinya.
Sebaik-baiknya hidup adalah selalu berada dalam bimbingan, di mana ada seorang guru yang membimbing. Dia akan menjadikan hidup ini sebagai proses belajar. Belajar adalah proses dalam segala hal, karena sesuatu bisa dicapai dengan belajar.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat.”
Sebaik-baik kehidupan dalam ilmu adalah (1) memiliki guru, (2) dengan sungguh-sungguh menimba ilmu, (3) bersedia atas proses yang dijalani, (4) istiqamah.
Orang yang memiliki guru adalah orang yang senantiasa dalam kebahagiaan, seperti memiliki orang tua, meskipun ia tidak memiliki orang tua kandung. Sebab masih ada yang membimbing dan menegurnya. Manusia kadang khilaf dan tak sadar jika dirinya sudah jauh dari petunjuk Allah, dan di sanalah peran seorang guru.
Guru dan ilmu adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Apabila guru membimbing, maka ilmu adalah jalan menuju tujuan. Tanpa keduanya, seseorang akan terperangkap dalam kegelapan.
Advertisement
