“Khawatir akan masa depan berarti belum kenal dengan diri sendiri.” – AOA
GazanaPublika.com – Orang yang khawatir menunjukkan tanda kelemahan, karena rasa khawatir hanya muncul pada mereka yang memiliki jiwa lemah. Hal ini terjadi karena orang yang khawatir tidak memiliki keyakinan dalam hidupnya.
Lalu, mengapa orang yang khawatir akan masa depan dikatakan belum mengenal dirinya sendiri? Karena dalam diri setiap manusia terdapat kekuatan yang Allah SWT titipkan untuk mengubah keadaan. Manusia adalah ciptaan-Nya, makhluk yang memiliki potensi luar biasa sebagai gambaran dari Allah.
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
خَلَقَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا
“Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya. Tinggi beliau 60 hasta.” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَجْتَنِبْ الْوَجْهَ فَإِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
“Apabila salah seorang di antara kalian memerangi saudaranya, maka hendaklah ia menjauhi wajah, karena sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut gambar-Nya.” (HR Muslim 2612).
Penekanan makna kata “gambar” (صُورَتِهِ) adalah ungkapan tentang wujud Allah yang diberikan kepada Adam, atau kepada manusia sebagai keturunan Adam.
Jadi, inti dari mutiara tersebut adalah bahwa ketika seseorang merasa khawatir, itu berarti dia hanya melihat dirinya sebagai makhluk yang lemah, dan tidak menyadari potensi kekuatan yang ada dalam dirinya sebagai ciptaan Allah yang kuat. Khawatir tentang masa depan seringkali berkaitan dengan ketakutan akan kebutuhan hidup, dan itu hanya terjadi pada orang-orang yang merasa lemah, padahal dalam diri mereka terdapat kekuatan untuk mengubah keadaan dan mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Dengan kata lain, mereka telah membatasi diri dengan keyakinan bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Sebaliknya, orang yang penuh semangat selalu optimis dan meyakini bahwa meskipun dalam kebuntuan, pasti ada jalan keluar. Keyakinan-keyakinan ini sudah tertanam dalam dirinya, yang menunjukkan bahwa dia telah mengenal dirinya dengan baik. Dia telah menghilangkan sifat-sifat lemah dalam dirinya dan memandang masa depan sebagai sebuah kesuksesan yang, insya Allah, akan tercapai.

