Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritikan pedas terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Dalam pernyataan via media sosial Truth Social, Trump menyebut Khamenei sebagai ‘pembohong’ dan meragukan klaim kemenangan besar Iran atas Israel saat gencatan senjata baru-baru ini .
Trump menegaskan bahwa tiga fasilitas nuklir utama Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan—telah “dihancurkan total” oleh serangan udara AS, dan klaim Khamenei bahwa Iran telah memukul balik AS hanyalah propaganda palsu. Trump juga mengaku pernah mencegah serangan mematikan terhadap Khamenei “agar dia tidak mati secara memalukan”
Advertisement
Selain itu, Trump memperingatkan akan melancarkan serangan udara kembali apabila Iran berani kembali mengembangkan senjata nuklir. “Tentu saja, tanpa perlu ditanyakan lagi. Pasti,” ujarnya saat diwawancarai, menegaskan tekadnya untuk mencegah Tehran melangkah lebih jauh menuju kekuatan nuklir .
Trump menyebut klaim kemenangan Iran sebagai “pernyataan kemarahan, kebencian, dan kejijikan” dan menyatakan akan menghentikan rencana pelonggaran sanksi jika Iran terus bersikap defiant .
Apa yang Terjadi Sebelumnya?
Baru pada minggu lalu, AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap tiga situs nuklir Iran, diikuti oleh balasan simbolis berupa serangan rudal Iran ke pangkalan AS di Qatar. Teheran segera memproklamasikan kemenangan—menyebut AS mendapat “tamparan keras” .
Trump tidak tinggal diam. Ia tidak hanya membantah klaim Khamenei, tetapi juga mengatakan bahwa intelijen AS dan pengamat internasional — seperti IAEA — harus diizinkan meninjau situs-situs nuklir Iran. Namun, parlemen Iran sudah mengesahkan undang‑undang yang menangguhkan kerja sama dengan IAEA, yang kemungkinan besar akan ditolak Teheran .
Mengapa Ini Penting?
Situasi ini menunjukkan eskalasi retorika antara Washington dan Teheran: dari serangan terbatas ke ancaman serangan lanjutan dan konflik propaganda. Kehadiran ancaman “bom nuklir kembali” dipandang sebagai strategi Trump untuk mempertahankan tekanan geopolitik terhadap Iran—sejalan dengan kebijakan ‘Make Iran Great Again’, yang berpotensi membawa agenda regime change jika Iran menolak negosiasi nuklir .
Advertisement
