GazanaPublika.com, Bangkok – Krisis perbatasan antara Thailand dan Kamboja memasuki babak baru ketika Angkatan Udara Kerajaan Thailand secara resmi mengerahkan enam unit jet tempur F‑16 Fighting Falcon pada Kamis pagi (24/7), untuk melancarkan serangan udara presisi terhadap sasaran militer Kamboja di sepanjang garis konflik. Ini menjadi pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade Thailand mengaktifkan kekuatan udara secara ofensif dalam konflik perbatasan regional.

Sebuah pernyataan resmi dari Juru Bicara Militer Thailand, Letjen Chalermchai Saengchai, menyebutkan bahwa satu dari enam jet F‑16 menembakkan rudal berpemandu ke posisi logistik dan artileri berat milik militer Kamboja di sektor Preah Vihear, kawasan sengketa yang telah lama menjadi pemicu ketegangan bilateral.

“Tindakan ini adalah bentuk pertahanan sah terhadap provokasi intensif yang dilakukan pihak Kamboja, termasuk peluncuran roket Grad BM‑21 ke arah pemukiman warga sipil Thailand di Surin dan Sisaket,” ujar Letjen Chalermchai dalam konferensi pers di Bangkok.

Serangan udara ini segera memicu kecaman keras dari Phnom Penh. Dalam siaran langsung nasional, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menyebut serangan itu sebagai bentuk “agresi militer terang-terangan” dan memperingatkan bahwa Kamboja siap merespons secara proporsional. Ia menambahkan bahwa serangan tersebut melukai sejumlah warga sipil di dekat titik benturan, meskipun klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen.

Penggunaan F‑16 oleh Thailand bukan semata-mata respons taktis, tetapi juga merupakan sinyal dominasi udara yang ingin ditegaskan oleh militer Thailand. Jet tempur F‑16 buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat, dikenal memiliki kemampuan tempur multiperan, baik untuk serangan udara-ke-darat maupun dogfight udara-ke-udara.

“Kamboja tidak memiliki kekuatan udara setara. Thailand dengan mudah mendominasi langit dalam radius 100 kilometer dari titik konflik,” ujar Kolonel (Purn) Thitinan Pongsudhirak, analis pertahanan Universitas Chulalongkorn, kepada The Nation.

Sementara itu, warga sipil di kawasan Ubon Ratchathani dan Sisaket mengaku mendengar ledakan sonik dari jet yang melintas sejak Kamis pagi. Sejumlah video warga yang diunggah ke media sosial memperlihatkan lintasan jet dengan jejak asap putih dan suara ledakan dari kejauhan.

Eskalasi melalui udara ini terjadi hanya beberapa jam setelah Thailand secara sepihak menarik diri dari rencana gencatan senjata yang dirintis oleh Malaysia sebagai Ketua ASEAN. Para pengamat menilai bahwa keputusan menggunakan kekuatan udara mencerminkan dua hal: tekanan politik dalam negeri dan upaya cepat untuk “menekan” Kamboja agar menerima syarat-syarat bilateral Thailand.

Menurut sumber diplomatik anonim dari Kementerian Luar Negeri Thailand, keputusan untuk mengerahkan F‑16 telah dibahas sejak dua hari sebelumnya di dalam Dewan Keamanan Nasional, terutama setelah jatuhnya puluhan korban sipil akibat roket BM‑21 Kamboja yang menghantam kamp pengungsian sementara di distrik Kantharalak.

Setelah kabar penggunaan jet tempur F‑16 dikonfirmasi, sejumlah negara tetangga dan mitra regional menyuarakan keprihatinan. Amerika Serikat menyatakan bahwa pihaknya mengikuti situasi dengan seksama, namun belum memberikan pernyataan terbuka mengenai penggunaan pesawat buatan mereka dalam konflik ini.
Cina dan Vietnam menyerukan penahanan diri dan mengajak kedua negara untuk kembali ke meja perundingan. PBB dijadwalkan akan mengadakan sidang darurat Dewan Keamanan apabila situasi memburuk.

Langkah militer Thailand dalam mengaktifkan jet tempur F‑16 menjadi penanda penting bahwa konflik ini telah melampaui fase adu tembak perbatasan biasa. Ini merupakan eskalasi terkoordinasi yang mengisyaratkan kemungkinan keterlibatan kekuatan militer yang lebih besar di kawasan.

Dengan kekuatan udara berada di tangan Thailand dan mediasi ASEAN yang mulai melemah, nasib warga sipil di perbatasan kini bergantung pada seberapa jauh para pemimpin kedua negara mampu menahan hasrat militernya demi menjaga stabilitas Asia Tenggara.

Redaksi

Exit mobile version