Advertisement
GazanaPublika.com, Tokyo — Suasana pagi di pesisir timur laut Jepang mendadak berubah mencekam. Sirine meraung-raung, membelah kesunyian kota-kota pantai. Warga berlarian menuju dataran tinggi, sebagian membawa anak-anak dan hewan peliharaan. Semua ini bermula dari sebuah getaran dahsyat di tempat yang jauh—lepas pantai Semenanjung Kamchatka, Rusia—yang memicu gelombang tsunami lintas negara.
Gempa berkekuatan magnitudo 8,8 mengguncang wilayah Rusia Timur pada pukul 08.25 waktu Jepang, dengan kedalaman sekitar 20 kilometer di bawah laut. Hanya dalam waktu beberapa jam, dampaknya merambat hingga ke pesisir Hokkaido dan Honshu bagian timur Jepang, dengan gelombang pertama tercatat mencapai hingga 1,3 meter di kota pelabuhan Kuji, Prefektur Iwate.
Advertisement
Badan Meteorologi Jepang (JMA) dalam pernyataan terbaru, seperti dilansir AFP, Rabu (30/7/2025), melaporkan bahwa gelombang tsunami setinggi 1,3 meter itu menerjang area pelabuhan di Prefektur Iwate pada pukul 13.52 waktu setempat.
“Saya langsung teringat tsunami 2011,” ujar Takashi Mori, warga Iwate yang dievakuasi ke tempat penampungan darurat. “Walau ombaknya tidak setinggi dulu, rasanya tetap menakutkan.”
Pemerintah Jepang melalui Badan Meteorologi Jepang (JMA) bergerak cepat. Awalnya, peringatan tsunami dikeluarkan berdasarkan estimasi awal magnitudo 8,0. Namun begitu data diperbarui menjadi magnitudo 8,8, status diperluas menjadi tsunami advisory untuk sebagian besar wilayah pesisir timur.
Langkah mitigasi pun langsung diberlakukan: kereta cepat dihentikan sementara, pelabuhan ditutup, dan bandara di wilayah pesisir membatalkan penerbangan. Bahkan, pekerja di Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant dipindahkan ke lokasi aman demi menghindari risiko radiasi jika terjadi kerusakan struktur.
Meski gelombang yang menerjang Jepang relatif kecil—sekitar 0,4 hingga 1,3 meter—pemerintah tidak main-main. Sekitar dua juta warga dari berbagai wilayah pesisir, termasuk Hokkaido dan Tohoku, diimbau untuk segera mengungsi ke tempat lebih tinggi.
Sementara Jepang selamat dari kerusakan besar, tidak demikian dengan Rusia. Gelombang mencapai 4 hingga 5 meter menghantam Pulau Kuril dan pesisir Kamchatka, menimbulkan banjir pantai, kerusakan infrastruktur pelabuhan, dan gangguan komunikasi serta aliran listrik. Beberapa laporan menyebutkan dermaga nelayan hancur dan kapal-kapal rusak terseret arus.
Tsunami juga memicu gelombang kecil hingga ke Hawaii, Alaska, Pantai Barat Amerika Serikat, dan beberapa negara kepulauan di Pasifik, meski tidak sekuat di wilayah Asia Timur. Pemerintah-pemerintah lokal tetap memberlakukan peringatan dini dan memperketat pengawasan laut.
Sejak tragedi tsunami 2011 yang menewaskan lebih dari 18.000 orang dan menyebabkan krisis nuklir Fukushima, Jepang tidak pernah main-main dalam menghadapi potensi bencana laut. Pelatihan evakuasi rutin, sistem peringatan dini yang semakin canggih, serta kesadaran kolektif warga membuat negeri ini jauh lebih siap.
“Kami belajar dari masa lalu. Kami tidak akan mengulang tragedi itu,” tegas Menteri Penanganan Bencana Jepang, Hiroshi Tanaka, dalam konferensi pers di Tokyo.
Meski kerusakan di Jepang minimal dan hanya satu cedera ringan tercatat, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa alam tidak bisa diprediksi. Laut yang tenang bisa berubah menjadi badai hanya dalam sekejap. Namun Jepang membuktikan, kesiapsiagaan dan solidaritas warganya mampu mengubah potensi bencana besar menjadi kisah sukses mitigasi.
Fakta Singkat:
• Magnitudo: 8,8 (revisi dari 8,0)
• Lokasi Gempa: Lepas pantai Kamchatka, Rusia
• Gelombang Tertinggi: 5 meter (Rusia), 1,3 meter (Jepang)
• Korban Jiwa: Nihil (Jepang); laporan kerusakan ringan (Rusia)
• Evakuasi: 2 juta warga Jepang diminta mengungsi
Advertisement
