GazanaPublika.com, Teheran — Ketegangan di Teluk kembali menegang ketika Iran menyatakan dirinya ‘siap 200 persen’ untuk membela diri dari kemungkinan serangan armada Amerika Serikat yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln. Di ibu kota Iran, pernyataan itu bergema di tengah peringatan keras Presiden AS Donald Trump yang menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan soal kesepakatan nuklir.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menepis klaim Washington bahwa Teheran telah meminta pembicaraan. Kepada Reuters, Araqchi menegaskan tidak ada kontak terbaru dengan pihak AS dan menyatakan bahwa pendekatan berbasis tekanan militer justru menutup pintu diplomasi.
“Conducting diplomacy through military pressure is neither effective nor useful,” ujar Araqchi, seperti dikutip Reuters.
Nada serupa datang dari Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam pernyataan resminya, Teheran menyebut tidak akan menerima negosiasi yang diajukan di bawah ancaman, seraya menegaskan kesiapan penuh untuk merespons setiap bentuk agresi.
Sementara itu, Presiden Trump memilih jalur peringatan terbuka. Melalui unggahan di platform Truth Social, ia menulis bahwa “armada besar” sedang bergerak mendekati Iran dan siap menjalankan misi “dengan cepat dan keras”. Trump juga mengingatkan bahwa serangan berikutnya akan “jauh lebih buruk” jika Teheran menolak membuat kesepakatan baru mengenai program nuklirnya.
Laporan Financial Times menyebutkan, gugus tempur USS Abraham Lincoln telah memasuki wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS, didukung kapal perusak dan jet tempur, sebagai bagian dari unjuk kekuatan Washington di kawasan. AS juga dilaporkan memindahkan sistem pertahanan udara tambahan ke wilayah Teluk.
Di Teheran, sinyal militer tersebut dibaca sebagai tekanan politik. Para pejabat Iran menegaskan bahwa respons mereka tidak akan sekadar simbolik. Media internasional mengutip sumber-sumber Iran yang menyebut kemungkinan penargetan kepentingan AS di kawasan jika serangan benar-benar terjadi.
Ketegangan ini kembali mengingatkan dunia pada rapuhnya stabilitas Timur Tengah, di mana satu unggahan media sosial dan satu pergerakan armada bisa mengubah suhu geopolitik dalam hitungan jam. Di tengah saling ancam itu, pintu diplomasi masih terbuka—namun, seperti diakui banyak analis, kini dijaga oleh deru mesin kapal perang dan bahasa ultimatum, bukan oleh meja perundingan.

