GazanaPublika.com – Annalena Baerbock, Menteri Luar Negeri Jerman memperingatkan Israel terhadap rencana serangan darat di Gaza Selatan, Baerbock menyatakan bahwa langkah tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan terjadi lebih banyak kematian warga sipil. Peringatan ini muncul seiring rencana Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk melancarkan serangan di Rafah, sebuah kota dekat perbatasan Mesir yang telah menjadi tempat perlindungan bagi banyak warga Palestina sejak pecahnya pertempuran antara Israel dan Hamas pada bulan Oktober tahun lalu.

IDF sebelumnya telah meminta warga sipil untuk mengungsi ke Rafah, yang penduduknya mencapai sekitar 280.000 jiwa sebelum konflik ini dimulai. Melalui posting di platform media sosial, Baerbock menekankan bahwa “1,3 juta orang mencari perlindungan di wilayah yang sangat kecil.”

Ia menambahkan, “Serangan IDF di Rafah akan menjadi bencana kemanusiaan. Israel perlu mempertahankan diri dari teror Hamas, namun juga harus berusaha mengurangi penderitaan penduduk sipil sebanyak mungkin.”

Pada hari Jumat, Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan bahwa tujuan untuk “menghilangkan Hamas” di Rafah tidak dapat tercapai tanpa menetralisir pejuang yang tersisa. Perdana Menteri telah menugaskan IDF untuk menyusun rencana “untuk mengevakuasi penduduk dan menghancurkan batalion [Hamas].”

Serangan IDF pada Sabtu pagi dilaporkan menewaskan setidaknya 44 orang di Rafah, menurut otoritas setempat yang dikelola oleh Hamas. Serangan tersebut memicu seruan dari luar negeri untuk mengakhiri kekerasan.

Menteri Luar Negeri Belanda, Hanke Bruins Slot, menyatakan bahwa serangan darat ini tidak dapat dibenarkan, mengingat Rafah penuh sesak dengan pengungsi. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Inggris, David Cameron, menyampaikan pada hari Sabtu bahwa lebih dari separuh penduduk Gaza berlindung di daerah tersebut dan menyerukan “jeda segera” dalam pertempuran serta pembebasan sandera yang masih ditahan oleh Hamas.

Israel menyatakan perang terhadap militan setelah serangan oleh Hamas dan kelompok sekutunya pada 7 Oktober, yang mengakibatkan kematian sekitar 1.200 orang dan penyanderaan lebih dari 200 orang. Pada bulan November, sebagai bagian dari pertukaran tahanan selama gencatan senjata selama seminggu, lusinan tawanan kemudian dibebaskan. Namun, sejak 7 Oktober, lebih dari 28.000 warga Palestina dilaporkan tewas.
(Sumber: sindonews.com)

Redaksi

Exit mobile version