Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Iran Ajukan Proposal Damai Baru, Tapi Abaikan Isu Nuklir yang Jadi Tuntutan Utama AS

Iran Ajukan Proposal Damai Baru, Tapi Abaikan Isu Nuklir yang Jadi Tuntutan Utama AS

Internasional Selasa, 28 April 2026 23:42 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Jakarta — Di tengah perang yang telah mendekati bulan ketiga, Iran dilaporkan mengajukan proposal perundingan damai baru sebagai upaya membuka kembali jalur diplomasi dengan Amerika Serikat. Namun alih-alih menjadi titik terang, proposal itu justru memunculkan respons dingin dari Presiden Donald Trump karena tidak menyentuh salah satu tuntutan utama Washington: penghentian program nuklir Teheran.

Langkah diplomatik terbaru ini disebut digerakkan melalui mediasi Pakistan, yang kini memainkan peran sebagai jembatan komunikasi antara Teheran dan Washington setelah putaran awal perundingan pada 11 April di Islamabad gagal menghasilkan terobosan berarti. Proposal terbaru Iran pun telah diserahkan kepada Islamabad untuk diteruskan sebagai dasar pembicaraan lanjutan.

Advertisement

Namun isi proposal itu menunjukkan strategi baru Teheran: mendahulukan isu keamanan regional dan jalur energi global, sambil menunda pembahasan program nuklir ke tahap perundingan berikutnya.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dilaporkan aktif melobi dukungan regional melalui rangkaian diplomasi intensif dalam 72 jam terakhir. Ia mengunjungi tiga negara—Pakistan, Oman, dan Rusia—dalam upaya membangun konsensus atas proposal Teheran.

Pada Senin (27/4/2026), Araghchi bertemu Presiden Vladimir Putin di St Petersburg, setelah dua kali melakukan kunjungan ke Islamabad dalam dua hari. Di sela agenda itu, ia juga menggelar pembicaraan penting di Muscat, Oman, yang menurut sumber diplomatik dihadiri pejabat intelijen senior dari sejumlah negara kawasan.

BACA JUGA:  Tiga Wilayah Bersatu Dorong Kemerdekaan, Masa Depan Inggris Raya Dipertanyakan

Diskusi di Muscat disebut berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz, jaminan keamanan regional, serta kerangka penyelesaian konflik yang lebih luas. Jalur laut strategis tersebut menjadi perhatian utama karena merupakan salah satu urat nadi distribusi energi dunia, dan gangguan di kawasan itu telah mengguncang pasar global sejak perang pecah.

Yang mencolok, isu program nuklir Iran justru tidak dimasukkan sebagai pokok pembahasan tahap awal—sebuah keputusan yang diduga kuat menjadi alasan utama ketidaksenangan Trump.

Menurut laporan pejabat Gedung Putih, Trump menilai proposal tersebut menghindari inti persoalan yang selama ini menjadi garis keras Washington. Pemerintah AS berulang kali menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus memastikan Iran tidak memiliki jalan menuju senjata nuklir. Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menegaskan posisi Washington tetap keras.

“Kami tidak akan bernegosiasi melalui media,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa AS hanya akan menerima “kesepakatan yang mengutamakan rakyat Amerika serta tidak pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.”

Di sisi lain, saat berada di Rusia, Araghchi justru menilai posisi Washington tidak sekuat yang diklaim. Menurutnya, desakan AS agar negosiasi segera tercapai menunjukkan bahwa tujuan strategis Amerika dalam perang ini belum berhasil dicapai.

BACA JUGA:  Trump Klaim Kuasai Selat Hormuz, Kenyataannya Tidak

Di balik manuver diplomatik tersebut, para analis melihat Iran tengah memainkan strategi yang lebih hati-hati, belajar dari kegagalan kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Dalam perjanjian itu, Iran bersedia membatasi pengayaan uranium sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi. Namun ketika Trump menarik AS keluar dari perjanjian tersebut pada 2018, Teheran merasa ditinggalkan tanpa jaminan politik maupun perlindungan regional.

Mantan duta besar Pakistan, Jauhar Saleem, menilai pendekatan Iran saat ini mencerminkan strategi jangka panjang.

“Idealnya Iran tidak ingin kesepakatan yang rentan terhadap siklus pemilu AS,” katanya.

Pandangan serupa datang dari analis regional yang melihat lawatan Araghchi sebagai upaya membangun ‘payung politik’ yang lebih luas—menenangkan negara-negara tetangga, menjaga jalur perdagangan energi tetap terbuka, sekaligus menciptakan tekanan diplomatik agar konflik tidak terus meningkat.

Meski peluang dialog masih terbuka, ketidaksenangan Trump terhadap proposal terbaru Iran membuat negosiasi berpotensi kembali molor. Jika kebuntuan ini berlanjut, perang yang semula diperkirakan berlangsung singkat justru dapat berubah menjadi konflik berkepanjangan dengan dampak geopolitik yang semakin luas—mulai dari stabilitas kawasan Teluk, harga energi dunia, hingga konfigurasi aliansi baru di Timur Tengah.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Internasional

Unjuk Rasa Tuntut Biaya Hidup di Prancis Meluas ke Sejumlah Negara Eropa

Internasional

Pemerintah Azerbaijan Larang Hijab di Sekolah, Gelombang Protes Pecah

Internasional

Iran Tegaskan Diplomasi Jadi Jalan Keluar Konflik, Pembukaan Selat Hormuz Tunggu Syarat Terpenuhi

Internasional

Tiga Wilayah Bersatu Dorong Kemerdekaan, Masa Depan Inggris Raya Dipertanyakan

BERITA TERBARU

Survei SMRC: Tanpa KDM, Gibran Ungguli Prabowo dalam Simulasi Pilpres

Wajib Halal Diundur hingga 2028, Menteri UMKM Ungkap Biaya Jadi Kendala

Bahasa Jawa Menggema di Parlemen Malaysia, Kalam Salan Kritik Dampak Karhutla RI

Hudi Nurhudiyat: Menguatkan Kearifan Lokal dan Tasawuf

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version