Advertisement
GazanaPublika.com – Eskalasi aksi demonstrasi mahasiswa AS terus meningkat. Jumlah mahasiswa yang ditangkap terkait dengan protes di kampus-kampus Amerika Serikat (AS) menentang perang Israel-Hamas telah mencapai sekitar 2.000 orang. Laporan Associated Press menyebut, terjadi penangkapan mahasiswa di 35 kampus sejak protes dimulai di Universitas Columbia pada 17 April lalu.
Protes mahasiswa terus muncul di berbagai kampus selama dua minggu terakhir. Beberapa pihak telah mencapai kesepakatan dengan administrator kampus untuk mempertimbangkan tuntutan para pengunjuk rasa.
Advertisement
Namun, seringkali aksi tersebut berakhir dengan penangkapan setelah demonstran menolak untuk membubarkan diri dan merusak properti kampus. Di Universitas California, Los Angeles, lebih dari 200 penangkapan terjadi saat polisi membersihkan perkemahan besar pada Kamis (2/5/2024) pagi.
Pada dini hari, polisi yang mengenakan helm menyerbu tenda kota di Universitas California, Los Angeles. Mereka menggunakan flash bang dan perlengkapan antihuru-hara untuk menerobos barisan pengunjuk rasa yang saling bergandengan tangan, berusaha menghentikan gerakan polisi.
Mahasiswa Ditangkap
“Saya seorang mahasiswa di sini,” kata salah satu pengunjuk rasa UCLA kepada kamera saat dia dibawa pergi, tangannya terikat, seperti dilaporkan Reuters. “Tolong jangan ganggu kami. Jangan ganggu kami.”
Beberapa jam kemudian, mahasiswa yang hanya ingin disebut sebagai Ryan kembali ke kampus dan berjanji akan terus berjuang.
“Kami akan kembali,” kata Ryan, yang diduga melakukan pertemuan yang melanggar hukum. “Kami akan terus melakukan gangguan. Kami akan menuntut divestasi.”
Mahasiswa telah melakukan protes atau mendirikan tenda di puluhan universitas dalam beberapa hari terakhir untuk memprotes perang Israel di Gaza. Mereka meminta Presiden Joe Biden, yang mendukung hak Israel untuk membela diri, untuk melakukan lebih banyak upaya menghentikan pertumpahan darah di Gaza dan menuntut divestasi universitas dari perusahaan yang mendukung pemerintah Israel.
Banyak universitas, termasuk Universitas Columbia di New York City, telah mengerahkan polisi untuk meredakan protes tersebut.
Presiden Joe Biden mengakhiri kebisuannya tentang demonstrasi pada hari Kamis setelah penggerebekan di UCLA, dengan menyatakan bahwa orang Amerika berhak melakukan protes, tetapi tidak boleh melakukan kekerasan.
“Penghancuran properti bukanlah protes damai,” kata Biden di Gedung Putih. “Tindakan melanggar hukum seperti vandalisme, masuk tanpa izin, memecahkan jendela, menutup kampus, memaksa pembatalan kelas dan wisuda—semua itu bukanlah protes damai.”
Biden juga menegaskan bahwa ‘ketertiban harus ditegakkan’ untuk menjaga protes di kampus tetap damai. Di sisi lain, DPR mengesahkan RUU yang mendefinisikan kritik terhadap Israel sebagai antisemitisme, berkenaan dengan protes kampus.
Biden, yang akan mencalonkan diri kembali pada November menghadapi mantan Presiden Donald Trump dari Partai Republik, berhati-hati dalam menghadapi kritik dari kelompok sayap kanan dan kiri atas kebijakan Israelnya.
Sumber: cnbcindonesia.com
Advertisement
