Advertisement
Bandung, GazanaPublika – Menyikapi kesepakatan gencatan senjata Israel-Palestina, pengamat konflik Palestina-Israel, Lukman Nurhakim, mengatakan bahwa gencatan senjata yang disepakati sebetulnya mengandung makna “kekalahan moral” bagi Israel. Israel tidak pernah mengalami kejadian seperti ini.
“Yang kalah jelas Israel, cuma dia gengsi mengakuinya. Menurut informasi dari media alternatif, korban tentara Israel ada 2.000-an dan yang luka parah ada 4.000-an. Belum korban material. Israel mengeluarkan tank 325-an dan yang hancur 160-an,” jelas Lukman yang juga alumni Universitas Katolik Parahyangan ini.
Advertisement
Hari ini Minggu, 26 November 2023, gencatan senjata antara Israel dan Hamas memasuki hari ketiga. Gencatan senjata dimulai hari Jumat, 24 November 2023, pukul 07.00 pagi waktu setempat.
Menurut Lukman, kekalahannya itu dalam bentuk moral. Israel itu memiliki peralatan senjata yang hebat, dengan teknologi yang canggih dan didukung militansi pasulan yang solid serta strategi yang konon sistematik. Jadi kata Lukman, seharusnya Israel harus bisa melumpuhkan Hamas sebagaimana perang tahun 1967 dalam Perang Yom Kippur.
Lukman menegaskan, tahun 1967, Perang Enam Hari yang terjadi pada tahun 1967 melibatkan Israel melawan beberapa negara Arab, antara lain Mesir, Yordania, Suriah, dan Irak. Konflik ini berlangsung dari tanggal 5 Juni hingga 10 Juni 1967.
Dalam konflik ini, Israel berhasil menguasai wilayah yang signifikan termasuk Semenanjung Sinai dari Mesir, Jalur Gaza, Tepi Barat Sungai Yordan, termasuk Yerusalem Timur yang sebelumnya dikuasai oleh Yordania, dan Dataran Tinggi Golan dari Suriah.
Perang ini berakhir dengan kemenangan Israel dan mempengaruhi tata kelola wilayah di Timur Tengah. Jelas Lukman, dengan dikeroyok beberapa negara Arab, namun kemenangan berada di tangan Israel.
“Jelas Israel kalah secara moral. Dia tidak bisa melumpuhkan Hamas sejak 7 November 2023 hingga gencatan senjata berlangsung 24 November lalu. Israel kalah karena bagi mereka sudah lewat dari waktu yang ditargetkan. Jangan dibandingkan ketika Perang satu tahun pada masa agresi 1948 saat pendirian negara Israel sebab konteksnya berbeda,” tegas Lukman yang juga aktivis 98 ini.
Menurut Lukman, sedangkan posisi Hamas tidak kalah sebab Hamas masih melakukan perlawanan. Hamas, menurut Lukman, saat masih solid. Israel sendiri gengsi untuk mengakui kekalahannya. Bisa jadi gencatan senjata ini untuk alasan menutupi kekalahannya.
Hamas bersedia melakukan gencatan senjata karena banyaknya korban warga sipil Palestina di Gaza. Namun menurut Lukman, kesepakatan itu bisa saja berubah setelah melewati durasi 4 hari.
“Bagi Hamas, saya menilai gencatan senjata ini untuk upaya menyusun strategi ke depan. Apalagi Iron Dome sudah tidak berfungsi,” jelas Lukman.
Baik Israel maupun Hamas memiliki motif masing-masing untuk melakukan gencatan senjata. Israel bersedia melakukan kesepakatan gencatan senjata karena rakyatnya resah soal penduduk Israel yang ditawan.
Kultur warga Israel ini seperti Amerika. Kalau banyak warganya yang menjadi korban, maka pemerintah akan menjadi sasaran kemarahan warganya. Warganya akan menekan pemerintah. Kalau bukan karena itu, Israel inginnya berperang terus selama ada dukungan Amerika,” ucap Lukman.
Pertempuran akan dihentikan dan dilanjutkan setiap harinya untuk setiap 10 tawanan yang dibebaskan oleh Hamas dari Gaza. Hamas sendiri banyak menyandera warga negara asing untuk mencari perhatian dunia.
Hamas akan membebaskan 50 sandera Israel-nya, termasuk wanita dan anak-anak. Sedangkan Israel, akan melepaskan 150 sandera Palestina yang juga termasuk wanita dan anak-anak, yang selama ini berada di penjara Israel.
Advertisement
Advertisement
