GazanaPublika.com, Islamabad/New Delhi – Aroma perang kembali merebak di wilayah Asia Selatan setelah insiden berdarah yang menewaskan puluhan wisatawan di Lembah Kashmir. Ketegangan diplomatik dan militer antara dua negara bersenjata nuklir, India dan Pakistan, semakin meningkat dan kini telah sampai pada titik yang mengkhawatirkan.
Gema kecemasan terdengar dari pernyataan Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, yang memperingatkan bahwa serangan militer dari India dapat terjadi dalam waktu dekat. Ia menegaskan bahwa segala bentuk persiapan strategis telah dilakukan, dan keputusan penting telah diambil tanpa menunggu waktu lama.
“Situasi ini sangat mendesak. Kami tidak lagi berbicara tentang kemungkinan, tapi tentang kesiapsiagaan nyata. Pasukan kami sudah kami perkuat,” ujar Asif dalam wawancara yang dikutip dari Reuters, Senin (28/4/2025).
Peringatan Asif muncul setelah serangan keji yang mengguncang Lembah Baisaran, destinasi wisata yang populer di Kashmir. Sebanyak 25 warga negara India dan satu wisatawan asal Nepal tewas di tangan kelompok bersenjata yang diyakini merupakan bagian dari Front Perlawanan — organisasi militan yang disebut-sebut memiliki kaitan dengan kelompok Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan.
India langsung bereaksi keras. Pemerintah di New Delhi secara terbuka menuduh Pakistan terlibat dalam penyusupan kelompok militan ke wilayah Kashmir. Tuduhan ini sontak dibantah oleh Islamabad, yang menyatakan tidak memiliki keterlibatan apa pun dalam aksi tersebut.
Saling tuding dan eskalasi diplomatik pun tak terhindarkan. India segera memutuskan menurunkan hubungan diplomatik, mengusir diplomat Pakistan, bahkan menutup seluruh perbatasan daratnya dengan negara tetangga itu. Pakistan membalas dengan langkah serupa, disertai retorika keras bahwa India telah melakukan penindasan sistematis terhadap penduduk Kashmir yang mayoritas Muslim.
“India sedang mencoba menciptakan perang baru, bukan hanya di perbatasan, tapi juga dengan merampas hak hidup warga kami lewat manipulasi sumber daya air,” tambah Asif, merujuk pada keputusan India menangguhkan Perjanjian Perairan Indus — sebuah pakta vital yang selama puluhan tahun menjaga pembagian air sungai yang menghidupi jutaan penduduk kedua negara.
Pelanggaran terhadap perjanjian itu dinilai Islamabad sebagai provokasi yang sangat serius. Pakistan bahkan menyebut langkah tersebut sebagai “tindakan perang” karena berdampak langsung terhadap kehidupan rakyat di wilayah-wilayah yang sudah rentan secara ekonomi dan ekologi.
Tak hanya itu, suasana semakin tegang saat saling tembak terjadi antara pasukan India dan Pakistan di sepanjang Garis Kontrol (LoC) selama tiga malam berturut-turut. LoC yang selama ini menjadi garis pemisah de facto antara dua negara itu, kini kembali menjadi medan ketegangan militer.
India dilaporkan melakukan penggerebekan anti-teror di wilayah perbatasannya, sementara Pakistan menyiagakan pasukan dan sistem pertahanannya.
Dalam forum berbeda, ancaman semakin nyaring terdengar dari mulut pejabat tinggi Pakistan. Menteri Perkeretaapian Hanif Abbasi, dalam pidatonya yang disiarkan secara luas, menyampaikan peringatan terbuka terhadap India.
“Kami tidak main-main. Kami memiliki ratusan rudal balistik dan 130 hulu ledak nuklir yang bukan untuk dipajang. Semuanya sudah diarahkan ke target,” tegas Abbasi dengan nada mengguntur.
Di tengah memanasnya situasi, dunia internasional pun mulai bergerak. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pernyataannya menyatakan bahwa India dan Pakistan harus menyelesaikan perselisihan mereka sendiri. Namun, di balik sikap tersebut, Departemen Luar Negeri AS memastikan telah melakukan pendekatan diplomatik dengan kedua negara demi mencegah konflik terbuka.
Washington, yang punya rekam jejak sebagai penengah saat konflik serupa terjadi pada masa lalu, kini kembali dihadapkan pada tanggung jawab besar untuk menjaga stabilitas di kawasan yang paling rawan konflik nuklir di dunia ini.
Sejarah panjang India dan Pakistan sebagai dua negara yang lahir dari perpecahan kolonial Inggris pada tahun 1947 seakan terus membayangi relasi mereka hingga kini. Kashmir, yang menjadi inti sengketa selama lebih dari tujuh dekade, sekali lagi menjadi titik api yang mengancam perdamaian dunia.
Apakah retorika keras ini akan berubah menjadi desingan peluru atau justru diplomasi internasional mampu meredam amarah kedua belah pihak? Dunia menanti dengan napas tertahan, sementara rakyat di kedua sisi perbatasan hidup dalam bayang-bayang konflik yang bisa meledak kapan saja.

