Advertisement
GazanaPublika.com – Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, melihat indikasi tentang sebagian besar negara-negara Eropa. Albares menegaskan bahwa jika Eropa terus ragu-ragu dalam mendukung Palestina, Spanyol sebagai negara berdaulat akan mengambil keputusan sendiri.
Albares menekankan bahwa perdamaian di Timur Tengah hanya dapat tercapai melalui pembentukan negara Palestina yang menghubungkan Jalur Gaza dan Tepi Barat, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Advertisement
Meskipun 27 negara anggota Uni Eropa berharap untuk perdamaian di Timur Tengah, Albares menyatakan adanya perbedaan dalam pandangan mereka terhadap cara mencapainya. Spanyol menegaskan posisinya dengan jelas: menghentikan perang antara Hamas dan Israel, memberikan akses kemanusiaan tanpa batas ke Jalur Gaza, dan mendorong implementasi solusi dua negara.
“Kami menyerukan gencatan senjata permanen, pembebasan segera sandera, akses segera terhadap bantuan kemanusiaan, dan konferensi perdamaian yang akan menjadi kerangka implementasi solusi dua negara,” kata Albares dalam wawancaranya dengan Arab News pada Selasa (13/2/2024), dilansur Liputan6.com
“Pada akhirnya, kita semua tahu bahwa selama rakyat Palestina tidak memiliki negara, maka Timur Tengah tidak akan stabil.”
“Dan kita semua tahu solusi yang nyata untuk situasi di Timur Tengah dan perdamaian yang definitif adalah sebuah negara dengan Tepi Barat dan Jalur Gaza di bawah satu otoritas Palestina yang dihubungkan oleh koridor dengan pintu keluar ke laut dan dengan ibu kota di Yerusalem Timur.”
Menggambarkannya sebagai solusi yang adil dan berkeadilan bagi rakyat Palestina, Albares menyatakan bahwa solusi dua negara menawarkan Israel jaminan terbaik untuk mencapai keamanan dalam negeri dan menghindari konflik regional yang lebih luas.
Namun, dalam perannya mengoordinasikan keterlibatan Spanyol dengan Uni Eropa, Albares mengakui bahwa proposal itu masih dalam tahap dialog mengingat blok tersebut sedang mencari cara untuk bergerak maju sebagai unit kolektif.
Albares mencatat kekhawatiran yang semakin meningkat di negara-negara Selatan, istilah yang merujuk pada negara-negara berkembang, terkait respons yang ragu-ragu dari Uni Eropa terhadap krisis di Jalur Gaza dibandingkan dengan sikap tegas mereka terhadap invasi Rusia ke Ukraina.
“Ini sangat penting, dan saya selalu menjelaskannya kepada rekan-rekan saya di Eropa bahwa kita mempertahankan posisi yang sama: mengikuti Piagam PBB dan prinsip-prinsipnya, baik itu Ukraina, di mana kita mempunyai posisi yang jelas, posisi yang sangat jelas,” ujar Albares.
“Negara mana pun berhak mempertahankan diri dari serangan teroris, termasuk Israel, tetapi Anda harus melakukannya sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional.”
Lebih lanjut, Albares menekankan, “Harus ada perbedaan antara sasaran teroris dan pengeboman rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, markas besar PBB. Pengungsi juga sama. Tidak peduli warna kulit mereka, agama mereka, jenis kelamin mereka, mereka semua sama dan mereka semua berhak mendapatkan perlindungan kita.” (Sumber: Liputan6.com)
Advertisement
