GazanaPublika.com, Jakarta – Mantan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Satryo Soemantri Brodjonegoro, membuka suara terkait keputusannya mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak diberhentikan, melainkan memilih mundur secara sukarela. Pernyataan ini disampaikan setelah sejumlah pegawai ASN di bawahnya melakukan demonstrasi di Kantor Kemendikti Saintek pada Senin, 20 Januari 2025.

“Jadi saya itu, baru saja, ke setneg menyerahkan surat pengunduran diri saya sebagai mendiktisaintek,” kata Satryo kepada wartawan di Jakarta, Rabu (19/2).

Satryo menjelaskan bahwa alasan utama pengunduran dirinya adalah karena ia merasa telah bekerja keras selama empat bulan menjabat, namun hasil kerjanya dinilai tidak sesuai dengan harapan pemerintah. Ia memilih untuk mundur daripada diberhentikan oleh Presiden Prabowo Subianto.

“Alasan utamanya karena saya sudah bekerja keras selama empat bulan ini. Namun karena mungkin tidak sesuai dengan harapan dari pemerintah. Ya saya lebih baik mundur daripada diberhentikan,” jelasnya.

Ia mengungkapkan bahwa surat pengunduran diri tersebut dibuat pada malam sebelum ia menyerahkannya ke Sekretariat Negara. “Ya. Surat itu saya buat tadi malam jam 12 malam. Saya buat tadi malam, lalu saya serahkan ke setneg disampaikan ke presiden,” ungkap Satryo.

Satryo mengaku legowo dengan keputusannya untuk mundur. Ia menegaskan bahwa dirinya telah bekerja dengan tulus dan maksimal. “Harus legowo kerja itu. Kita kerja baik, maksimal sudah, tidak ada pamrih, tulus saya kerja. Oke? Kalau enggak cocok ya sudah saya mundur saja,” imbuhnya.

Meski Satryo menyatakan mundur atas kemauan sendiri, Presiden Prabowo Subianto secara resmi mencopotnya dari jabatan Mendikti Saintek. Padahal, Satryo baru menjabat selama tiga bulan di Kabinet Merah Putih.

Pencopotan ini tidak lepas dari kontroversi yang melibatkan Satryo. Pada akhir Januari 2025, ia menjadi sorotan setelah 235 pegawai ASN Kemendikti Saintek menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor kementerian. Aksi tersebut dipicu oleh penghentian mendadak seorang pegawai yang dilakukan secara verbal.

Para peserta demo membawa spanduk berisi protes keras terhadap kepemimpinan Satryo. Mereka menilai kebijakan dan sikap Satryo tidak mencerminkan kepemimpinan yang baik, terutama dalam menangani sumber daya manusia di lingkungan kementerian.

Satryo mengakui bahwa situasi ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusannya untuk mundur. Namun, ia tetap memilih untuk mengedepankan sikap legowo dan menghormati proses yang ada.

Dengan mundurnya Satryo, Presiden Prabowo diharapkan segera menunjuk pengganti yang mampu membawa perubahan positif di lingkungan Kemendikti Saintek, serta memulihkan kepercayaan para pegawai dan publik.

Redaksi

Exit mobile version