Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Banten: Seperempat Abad Berdiri, Antara Janji Kemajuan dan Realitas Kesenjangan

Banten: Seperempat Abad Berdiri, Antara Janji Kemajuan dan Realitas Kesenjangan

Opini Sabtu, 4 Oktober 2025 22:37 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Nasyudin Rumi

GAZANAPUBLIKA.COM – Banten, tanah di ujung barat Pulau Jawa ini, menyimpan kisah panjang tentang kejayaan, perlawanan, dan harapan. Sejak masa Kesultanan, wilayah ini menjadi simpul perdagangan dan peradaban, menghubungkan dunia luar dengan jantung Nusantara. Namun, di balik posisi strategis itu, Banten juga memanggul beban sejarah panjang: ketimpangan, keterlambatan pembangunan, dan cita-cita kemajuan yang belum sepenuhnya terwujud. Kini, dua puluh lima tahun setelah resmi menjadi provinsi, Banten berdiri di persimpangan antara keberhasilan yang perlu disyukuri dan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Advertisement

Tanggal 4 Oktober tahun 2000 menjadi tonggak sejarah baru bagi masyarakat Banten. Setelah sekian lama berada di bawah naungan Jawa Barat, Banten akhirnya resmi berdiri sebagai provinsi sendiri. Dua puluh lima tahun berlalu, sudah seperempat abad usia yang seharusnya menjadi waktu cukup panjang untuk menakar sejauh mana janji-janji awal kemajuan itu benar-benar terwujud. Namun, di tengah hiruk pikuk masyarakat Banten hari ini, pertanyaan yang muncul adalah: sudahkah Banten benar-benar maju dan sejahtera sebagaimana cita-cita awal pendiriannya?

Seperempat abad bukan waktu yang singkat. Seharusnya, ini menjadi momentum untuk merayakan berbagai capaian dan kemajuan. Namun, ketika kita menengok kembali perjalanan Banten, kemajuan itu terasa timpang. Di balik pembangunan fisik yang tampak megah, masih banyak masyarakat yang hidup jauh dari kesejahteraan. Pertanyaan yang patut diajukan: apakah layak kita merayakan “kemajuan” ketika rakyatnya masih berjuang untuk hidup layak di tanah kelahirannya sendiri?

BACA JUGA:  Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Dua puluh lima tahun seharusnya cukup untuk melihat perubahan besar baik dari segi infrastruktur, ekonomi, sosial, maupun budaya. Namun kenyataannya, banyak persoalan krusial yang belum terselesaikan. Kemiskinan, ketimpangan, dan lapangan kerja yang terbatas masih menjadi wajah keseharian sebagian besar masyarakat. Di atas kertas, Banten mungkin tampak mengeliat untuk berkembang, tetapi di lapangan, perubahan itu belum benar-benar dirasakan secara merata.

Banten memang telah melakukan banyak pembangunan, tetapi kualitasnya perlu ditinjau ulang. Pendidikan, yang seharusnya menjadi kunci kemajuan, masih jauh dari harapan. Program pendidikan gratis yang pernah dijanjikan para pemimpin daerah hanya menjadi slogan politik saat kampanye. Janji-janji itu menguap begitu kekuasaan diraih, meninggalkan rakyat dalam realitas yang pahit: biaya pendidikan yang tinggi dan fasilitas yang tak memadai.

Banten kini menghadapi tantangan baru: pertumbuhan penduduk yang pesat, urbanisasi tanpa arah, dan ancaman ketimpangan sosial. Namun di balik itu, Banten juga menyimpan peluang besar seperti letak strategis, potensi wisata, sumber daya alam, dan kekuatan budaya. Tantangan terbesar adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat bersama-sama mengelola potensi itu dengan cara yang berkelanjutan, tanpa meninggalkan rakyat kecil yang menjadi bagian dari sejarah berdirinya provinsi ini.

Dalam rentang seperempat abad ini, lahirlah generasi baru anak-anak yang tumbuh sebagai warga Banten yang tidak lagi mengenal masa Jawa Barat. Generasi ini seharusnya menjadi harapan baru dengan gagasan segar dan semangat perubahan. Namun, tanpa bekal sumber daya manusia yang memadai, mereka bisa saja tumbuh menjadi generasi yang kehilangan arah. Peningkatan kualitas pendidikan dan pembinaan karakter menjadi kebutuhan mendesak agar generasi muda Banten tak hanya bangga sebagai orang Banten, tetapi juga mampu membawa tanahnya menuju kemajuan.

BACA JUGA:  Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Selama 25 tahun, Banten telah membangun identitasnya sebagai daerah yang religius, berbudaya, dan bersejarah. Namun, kebudayaan tidak boleh berhenti pada seremonial dan simbol-simbol semata. Ia harus menjadi kekuatan yang menggerakkan masyarakat menuju keadaban dan kemajuan. Identitas budaya seharusnya hadir bukan hanya di panggung perayaan, tapi juga dalam cara kita berpikir, bekerja, dan memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Dua puluh lima tahun adalah waktu yang cukup untuk bercermin. Banten telah berdiri tegak sebagai provinsi, tetapi belum sepenuhnya berdiri kokoh dalam kesejahteraan rakyatnya. Refleksi seperempat abad ini bukan sekadar peringatan, tetapi pengingat: bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari bangunan tinggi atau jalan lebar, melainkan dari seberapa bahagia dan sejahtera rakyat yang hidup di dalamnya.

Penulis: Nasyudin Rumi, seorang aktivis dan tokoh Pelajar Nahdlatul Ulama. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris PW IPNU Provinsi Banten. Lahir dan besar di pesisir Banten Selatan, ia aktif dalam kegiatan sosial serta dikenal lantang menyuarakan isu-isu pendidikan, keadilan, dan keterpelajaran.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Opini

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

BERITA TERBARU

Dua Polisi Gadungan di Malingping Culik dan Siksa Warga, Uang Jutaan Rupiah Turut Dirampas

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Kapolda Banten Sampaikan Commander Wish Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat’

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version