Advertisement
Penulis: M. Fajar Djulhijan
GazanaPublika.com – Sejarah acap kali berputar layaknya kaset kusut: memerankan ulang adegan yang sama, namun berbeda aktor. Jika dahulu Amerika dipimpin Carter yang tersandung di lran, kini dunia menyaksikan Trump melangkah pada lajur yang persis sama.
Advertisement
Lantas, apakah Trump sedang menuju kuburan politik serupa?
Pasca tumbangnya Syah Pahlavi, Carter panik, la mengirim Jenderal Huyser ke Teheran dengan misi rahasia: merapikan barisan militer agar siap melakukan kudeta. Namun, justru ia menemukan tentara galau dan Para Jenderal Pahlevi yang sibuk memikirkan rute pelarian, bukan strategi perebutan kekuasaan.
Tepatnya, 10 Februari 1979 menjadi jalan buntu bagi mimpi Amerika. Revolusi meluap seperti banjir bandang yang tak dapat dibendung. Aparat negara runtuh, prajurit berbalik arah, dan sistem kerajaan Iran tinggal cerita buku sejarah. Carter kalah langkah. Seperti pemain catur yang terdesak pilihan, dengan memilih mengorbankan ratu, ia kehilangan manuver gerakan.
Kala itu, belumlah usai mengelap keringat, Carter kembali mengirimkan para intelijen. Misinya bukan untuk kudeta, tapi bertujuan membujuk kelompok pemberontak di lran. Sialnya, di saat yang sama Syah Pahlevi yang kabur justru mendarat di Amerika untuk berobat.
Api kemarahan rakyat Iran pun menyala. Kedutaan AS diserbu. Seluruh penghuni kedutaan AS disandera dan ditahan selama 444 hari.
Washington mencoba menyelamatkan muka lewat operasi militer. Garang namanya, bertajuk: “Operation Eagle Claw atau Operasi Cakar Elang”. Namun, hasilnya tragis! Helikopter jatuh di padang pasir, delapan tentara tewas. Yang tersisa tinggal bakaran puing-puing pesawatnya saja, diperparah oleh sorotan kamera dunia, serta senyum dingin para ulama yang turut memeriksa puing-puing tersebut. Sejak saat itu, pamor Carter merosot tajam. la dicap ragu-ragu, seperti pemimpin yang tak berani mengambil keputusan soal penetapan harga cabai di Pasar.
Carter selanjutnya memainkan taktik propaganda. Menunjuk CIA agar menggaungkan narasi demokratis, merangkul oposisi, bahkan membentuk “Ruang Gelap” di Gedung Putih guna menjatuhkan rezim Republik Islam Iran. Upaya tersebut tak ubahnya semacam orang pegunungan, mencoba mengajari nelayan membaca arah angin penuh percaya diri, namun minim pemahaman.
Pasalnya, Carter tak terlalu paham bahwa Orde Baru lran ini berasal dari embrio revolusi rakyat, bukan produk impor ideologi.
Legitimasinya nyata, bukan tempelan alias kaleng-kaleng. Amerika terjun dengan kacamata kuda, seolah memaksakan standar klaim kehebatan Bangsanya, mengandalkan tumpuan kooptasi bahwa pelbagai negara perlu di operasikan layaknya mesin fotokopi demokrasi versi Washington.
Kini, adegan serupa terlihat di Era Trump. Retorikanya keras, langkahnya impulsif, dan kekuatan pada pengaruh tekanan ekonomi tampak berlebihan. Bukankah ini pengulangan skenario lama? Jika sanksi itu di umpamakan obat herbal, maka Trump sama halnya sedang menenggak sirup batuk dosis ganda: berharap sembuh cepat, namun keliru membaca aturan pakai.
Potensi kegagalan tersebut dituding oleh sejumlah pakar, karena hal-hal di antaranya: Pertama, Dengan adanya acaman dari luar kerap menguatkan solidaritas dalam negeri. Misal, Di Indonesia, kita tahu, ketika sedang menghadapi “musuh bersama”, Warga mendadak kompak, mulai dari lingkungan RT sampai grup WhatsApp Keluarga; Kedua, abai terhadap perjalanan sejarah lokal merupakan resep kegagalan. Kita mungkin mengetahui, berdasarkan goresan catatan sejarah, menegaskan bahwa setiap bangsa memiliki memori kolektif. Artinya, nampak Trump terjun tanpa membaca isyarat dan catatan tersebut; Ketiga, kondisi hari ini tak seperti tahun 1979. Iran memiliki sekutu, teknologi, serta pengalaman dalam menghadapi tekanan. Mengulang taktik lama, tak ubanya menambal ban bocor dengan memakai permen karet.
Berkaca pada tragedi Carter. Alhasil, ia tumbang dalam pemilu. Rakyat Amerika menghukumnya dibilik
suara. Sejarah mencatatnya sebagai presiden yang buta membaca peta kekuatan lran. Sebaliknya, Trump kini
berdiri pada persimpangan serupa. Menghadangnya pada pembelajaran masa lalu, atau justru petaka membawanya pada tayangan ulang sejarah yang kelam?
Hal itu mengingatkan kita pada Peribahasa “Sebodoh-bodohnya keledai, ia tidak akan jatuh kedua kalinya pada lubang yang sama”. Meski demikian, sifat kepercayaan diri penuh namun keliru, acapkali membayangi langkah dejavu pada diri manusia.
Penulis adalah Ketua PKC PMII Maluku Utara
Advertisement
Advertisement
