Advertisement
Penulis: Lukman Nurhakim
GazanaPublika.com — Perang antara AS-Israel melawan Iran telah memasuki minggu ketiga. Sejauh ini AS memperkirakan bahwa dengan menyerang tiba-tiba wilayah Iran ditengan proses negosiasi di Jenewa Swiss akan meruntuhkan Iran dan terbukanya rezim change (perubahan rezim). Israel menyebut operasi militernya yang diberi nama “Roar of Lion” dan AS menyebutnya Operasi “Epic Fury”, mereka melakukan serangan gabungan di hari minggu pagi (28/2), saat warga Iran tengah melakukan ibadah puasa di bulan ramadhan.
Banyak analis terkejut dengan kemampuan Iran melakukan serangan balik yang masif, bahwa sebagian besar rudal balistik dan drone ditujukan ke negara-negara tetangga Iran, yang secara historis memiliki hubungan baik dengan Teheran.
Advertisement
Hal itu terutama berlaku untuk Qatar dan Oman, kekecewaaan yang dialami dua negara ini yang telah mencoba membuka perannya sebagai mediator harus menerima kegagalan dan hasil yang mengecewakan.
Realitas serangan-serangan ini menggarisbawahi strategi yang lebih terselubung yang telah disiapkan Iran kurang lebih 20 tahun lalu, mereka meyakini bahwa perang antara Iran dan AS merupakan peristiwa yang akan terjadi kembali, hal ini ditandai dengan Perang 12 hari antara Israel dan Iran, berikut intervensi AS di bulan Juni 2025, yang berakhir gencatan senjata sepihak, dan tanpa adanya kesepakatan yang mengiringinya. Namun kurang lebih 2 jam sejak serangan gabungan AS-Israel, Iran melakukan serangan balik meluncurkan rudal-rudalnya diringi kelompok drone kamikaze Shahed 136nya ke semua pangkalan militer AS di teluk dan tanpa kecuali ke wilayah pendudukan Israel. Sekalipun harga yang harus dibayar Iran sangat mahal, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Sayyid Ali Khamenei dan sejumlah petinggi militer Iran gugur. Serangan langsung ke negeri-negara teluk dimana pangkalan militer, asset dan kepentingan AS berada merupakan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya dipahami dan diantisipasi di AS. AS dan Israel berharap dengan kematian Pemimpin tertinggi Iran gugur, maka akan terbuka perubahan rezim dengan cepat dan perang akan dilakukan dengan waktu yang singkat (3-4 hari), namun ekspektasi ini rupanya gagal.

Serangan Iran terhadap negara-negara GCC merugikan AS dan kelompok Zionis?
Pertama, di tingkat militer, mereka membuktikan bahwa AS tidak mampu membela sekutunya sendiri dan bahwa “payung Amerika” telah rusak. Idealnya, ini akan mendorong negara-negara Teluk untuk mengurangi ketergantungan mereka pada AS. Dalam skenario terbaik, mereka akan meminta pasukan AS untuk pergi (ini akan terjadi jika negara-negara Teluk sadar kalua selama ini mereka hanya menjadi sapi perahan AS).
Ini akan menjadi skenario kemenangan bagi Iran karena mereka akan menganggap AS telah dikalahkan di Timur Tengah.
Kedua, Untuk memperkuat poin ini adalah fakta bahwa AS telah memprioritaskan pembelaan terhadap apa yang disebut “Israel” di atas negara-negara GCC – sesuatu yang telah disuarakan oleh Riyadh dan secara eksplisit diprotes.
Langkah Iran ini bertujuan untuk mendorong AS agar membatasi amunisinya dan “memaksa” AS untuk memilih antara “Israel” dan GCC. Karena AS akan selalu memilih Israel (dan Iran mengetahuinya), Teheran berharap akan terjadi perubahan haluan dalam doktrin pertahanan GCC.
Ketiga, dari sisi ekonomi, jauh lebih mudah untuk menargetkan aset AS di negara-negara GCC karena alasan-alasan yang telah disebutkan sebelumnya. Serangan murah ($35.000 per UAV Shahed 136 Iran) membutuhkan 3 pencegat THAAD (dengan harga sekitar $12 juta total). Kalikan ini dengan lebih dari 1.200 drone dan Anda akan mendapatkan gambaran.
Keempat, Penutupan Selat Hormuz TIDAK berdampak langsung pada AS (karena AS adalah pengekspor minyak dan bahkan mungkin mendapat manfaat dari harga yang lebih tinggi). Jadi, bagaimana Iran memengaruhi perekonomian AS? Hal ini secara langsung berdampak pada USD sebagai mata uang cadangan global.
Bagaimana caranya? Melalui Wall Street (Perdagangan Saham)
Harga minyak yang tinggi berarti inflasi, dan inflasi berarti suku bunga Fed naik (dan bukan turun seperti yang seharusnya terjadi sebelum perang).
Secara riil, harga di AS akan meningkat (karena minyak AS lebih mahal untuk diekstraksi dan dimurnikan). Harga bensin >$4/L berarti Trump kehilangan dukungan, warga AS akan protes dan menarik dukungan.
Hal ini akan memicu lingkungan “stagflasi” (inflasi dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah) yang berbahaya, di mana pemotongan suku bunga tidak akan efektif untuk menghidupkan kembali perekonomian.
Investor (dan dengan demikian likuiditas) akan menarik aset berisiko dan pihak yang paling menderita adalah saham-saham teknologi.
Investasi Kecerdasan Buatan (AI)
Iran menyerang sektor yang menyumbang 80% pertumbuhan ekonomi AS saat ini. Sektor/investasi AI menurun akibatnya sama dengan ekonomi mengalami resesi.
Serangan intensif rudal dan drone Iran terhadap pusat data dan bank investasi di Dubai dan Abu Dhabi UEA bertujuan untuk menggabungkan kerusakan tidak langsung dengan serangan langsung ke jantung perekonomian Amerika, dimana kantor-kantor perusahaan teknologi AS dan Israel bermukim di UEA. Karena AS bukan lagi ekonomi manufaktur (melainkan ekonomi jasa), serangan rudal dan drone Shahed 136 sebenarnya menargetkan output ekonomi Amerika.
Jika negara-negara GCC harus menanggung kerugian ekonomi akibat penghentian produksi Minyak/LNG, mereka tidak akan mampu menginvestasikan triliunan dolar di AS, bahkan tanda-tanda akan menarik investasi dan mengalihkan ke negara lain yang lebih aman sanat memungkinkan terjadi, seperti China, Hongkong dan Singapura.
Apakah Anda ingat ke mana investasi besar-besaran Arab Saudi, UEA, Kuwait dan lain-lain ini diarahkan? Jawabannya pengembangan Kecerdasan buatan (AI).
Iran Mencekik di Selat Hormuz

Terpilihnya Sayyid Mojtaba Khamenei yang menggantikan Sayyid Ali Khamenei yang martir sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, tidak mengendorkan semangat perlawanan Iran, dalam pernyataannya pertamanya, Mojtaba menekankan bahwa Selat Hormuz harus ditutup. Republik Islam Iran harus melakukan perlawanan dan pembalasan yang sengit dan tangguh. Iran harus mengantisipasi armada laut AS tidak bisa melewati masuk dan keluar Teluk Persia dan mendukung lebih lanjut serangan mereka kepada negaranya. Namun selain itu, Iran harus menerapkan hukuman yang setimpal atas negara-negara teluk yang secara tidak langsung telah mengizinkan wilayah negaranya digunakan AS dan Israel untuk menyerang Iran. Jauh-jauh hari Iran telah memperingatkan konsekuensi yang akan diterima oleh negara-negara Teluk jika perang pecah dengan AS, maka pangkalan-pangkalan militernya tersebar mulai dari Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Arab Saudi, Irak, Jordania dan Oman akan menjadi target yang sah oleh Iran.
Singkatnya, dengan menutup Selat Hormuz, Iran bertujuan untuk mewujudkan hal-hal berikut secara beruntun:
a) Memaksa negara-negara GCC untuk menghentikan produksi/ekspor minyak
b) Negara-negara GCC perlu menanggung kerugian ekonomi yang setimpal (Sejauh ini Iran tidak mendorong munculnya keresahan warga negara GCC yang berujung revolusi)
c) Untuk melakukan hal tersebut, GCC membatalkan investasi di bidang AI di AS (senilai triliunan dolar) seperti yang dilansir Reuters (11/3). Seorang pejabat kawasan mengatakan kepada Reuters bahwa evaluasi tersebut mencakup kemungkinan pembatalan komitmen investasi, divestasi, hingga peninjauan ulang kesepakatan sponsor global.
Tiiga dari empat ekonomi terbesar di Gulf Cooperation Council—yakni Saudi Arabia, United Arab Emirates, Qatar, dan Kuwait—sedang menilai dampak konflik terhadap investasi yang sudah berjalan maupun rencana investasi baru.
d) Pilar utama pertumbuhan ekonomi AS (investasi AI) menurun, terlihat dari menurunnya harga-harga saham perusahaan teknologi di bursa saham AS
e) Stagflasi meningkat di AS, biaya perang meningkat, utang bertambah, kehilangan pekerjaan, ketegangan sosial di tengah-tengah masyarakat AS.
f) Trump dan partai Republik akan dipastikan kalah dalam pemilihan paruh waktu (sela), kemungkinan pemakzulan.
g) Pemerintahan sementara atau pemerintahan baru AS kemungkinan akan menarik diri dari perang dan bernegosiasi dengan Iran
Cekikan Selat Hormuz membuat ekspor minyak negara-negara Teluk anjlok karena perang AS-Israel terhadap Iran meluas ke seluruh Asia Barat
Ekspor minyak harian dari negara-negara Teluk Arab telah anjlok setidaknya 60 persen selama seminggu terakhir dibandingkan dengan level Februari, karena perang AS-Israel terhadap Iran dan meningkatnya serangan di Selat Hormuz mengganggu jalur energi vital kawasan tersebut.
Eksportir utama telah membatalkan pengiriman dan menghentikan produksi di ladang-ladang utama di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan, dengan serangan Iran terhadap kapal-kapal dagang secara efektif menutup koridor maritim yang penting tersebut.
Data ekspor menggarisbawahi skala guncangan tersebut. Pengiriman minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar olahan dari delapan produsen Asia Barat, Arab Saudi, Kuwait, Iran, Irak, Oman, Qatar, Bahrain, dan UEA, turun tajam pada pekan yang berakhir 15 Maret. Angka dari Kpler menunjukkan ekspor sebesar 9,71 juta barel per hari, penurunan 61 persen dari bulan Februari, sementara Vortexa memperkirakan penurunan yang lebih tajam lagi menjadi 7,5 juta barel per hari, turun 71 persen. Sebelum perang, negara-negara ini menyumbang lebih dari sepertiga ekspor minyak global melalui jalur laut.
Dampak buruknya telah terasa di seluruh produksi, dengan UEA memangkas produksi lebih dari setengahnya karena penutupan Hormuz memaksa ADNOC untuk mengurangi operasi, sementara Arab Saudi juga telah menangguhkan aktivitas di beberapa ladang utama. Pada saat yang sama, hampir 2.000 rudal dan drone yang diluncurkan dari Iran telah menghantam wilayah Teluk, menargetkan aset militer AS yang digunakan untuk melanjutkan serangan yang sedang berlangsung terhadap Iran.
Pantauan perkembangan hingga tanggal 18 Maret, Jepang dan negara-negara sekutu AS, Perancis, Italia, Inggris dan Jerman tidak bersedia mengikuti seruan Trump untuk terlibat mengirimkan pasukan militernya untuk membuka selat Hormuz yang berarti berperang dengan Iran, bahkan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer mengatakan negaranya tidak mau berperang Bersama AS untuk intervensi, mereka lebih tertarik melakukan negosiasi dengan Iran dan negara-negara telu GCC.
Iran juga menargetkan kepentingan Jepang. Mengapa?
Karena Jepang mengimpor 90% LNG-nya dari Qatar, dengan ditututpnya Selat Hormuz, maka pasokan jadi terhenti. Sekarang telah digantikan oleh minyak AS dengan harga 10 kali lipat.
Konsekuensinya adalah pengeluaran tambahan dan tak terencana Jepang akan memaksa kementerian keuangannya untuk menarik banyak investasi institusional dalam obligasi/saham AS guna mengimbangi nilai tukar dan imbal hasil.
Inilah cara Iran berupaya mengalahkan AS. Menghentikan pendanaan untuk AI dan memicu penarikan likuiditas besar-besaran dari Wall Street. Dan karena Wall Street hanyalah platform untuk memastikan likuidita USD tetap menjadi mata uang cadangan global, maka bersama Wall Street, dolar akan jatuh. Inilah rangkaian peristiwa yang akan dipantau Iran dengan saksama.
Kini Trump rupanya terjebak pada kenyataan perang yang salah kalkulasi dan membuatnya sulit untuk melakukan exit dari situasi yang tidak menguntungkannya, strategi asimetris yang dilakukan Iran sejauh ini selain mampu bertahan, serangan balik tanpa henti, mereka siap melakukan perang panjang (attrition warfare), bahkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchy menantikan Trump menurunkan pasukan daratnya memasuki gelanggang medan perang darat di wilayah Iran. Sejauh ini Trump dan Israel mengalami kekalahan strategi, mengingat Pergantian rezim, munculnya pemberontakan di dalam negeri, kandasanya perlawanan bersenjata (serangan-serangan balik IRGC) dan runtuhnya proxy-proxy pendukung Iran di kawasan tidak terjadi.
Setelah itu, perang masih terus berkecamuk dan tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir, saling serang dan korban berjatuhan terus terjadi di ketiga belah pihak. Namun apa yang kita ramalkan dikemudian hari, sebagian besar dari apa yang kita ketahui perimbangan kekuatan di Timur Tengah tidak akan sama lagi.
Penulis: Pelaku dan Pemerhati Bidang Energi, Sekjen Perkumpulan Aktivis 98
Advertisement
Advertisement
