Advertisement
GazanaPublika.com — Perekonomian domestik hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang teramat terjal. Di tingkat akar rumput, keluhan mengenai “ekonomi terasa susah”, seretnya perputaran uang, hingga lonjakan harga barang kebutuhan pokok bukan lagi sekadar isu selingan, melainkan realitas harian yang mencekik daya beli. Jika dibedah secara objektif, situasi ini bukanlah dampak dari satu kebijakan tunggal, melainkan sebuah Perfect Storm —badai sempurna—yang lahir dari bertemunya tiga poros hantaman sekaligus: distorsi program populis dalam negeri, pengetatan fiskal yang agresif, dan ekskalasi krisis energi global.
Anatomi krisis ini memperlihatkan bagaimana kebijakan mulia untuk investasi sumber daya manusia jangka panjang justru bisa berubah menjadi mesin pemiskinan massal jangka pendek ketika roda ekonomi kehilangan keseimbangannya.
Advertisement
1. ‘Demand Shock’ Makan Bergizi Gratis dan Ilusi Pemerataan
Poros pertama dari hantaman ini bermula dari peluncuran program Makan Bergizi Gratis (MBG) skala mega. Secara filosofis, program ini memiliki tujuan yang sangat mulia: memperbaiki gizi generasi masa depan. Namun, dalam hukum ekonomi makro, menyuntikkan permintaan raksasa secara mendadak ke pasar yang belum siap adalah formula instan memicu Demand-Pull Inflation (inflasi akibat tarikan permintaan).
Ketika negara bertindak sebagai pembeli tunggal (single buyer) berskala raksasa yang harus menyediakan jutaan porsi makanan setiap hari, rantai pasok pangan nasional mengalami guncangan hebat. Vendor-vendor besar memborong komoditas hulu seperti beras, telur, dan daging ayam langsung dari peternak dan petani. Akibatnya, pasokan yang tersisa untuk mengalir ke pasar tradisional menjadi sangat langka. Pedagang kecil dan ibu rumah tangga harus berebut pasokan yang minim, yang otomatis meroketkan harga sembako di tingkat retail.
Celakanya, keuntungan ekonomi dari mega proyek ini tidak terdistribusi secara merata. Skala kebutuhan MBG yang menuntut kontinuitas ketat dan standarisasi tinggi membuat rantai pasok ini secara alamiah jatuh ke tangan institusi besar, pemodal raksasa, dan swasta eksklusif yang bertindak sebagai suplier utama (corporate capture). Petani dan peternak mandiri lokal sering kali terpinggirkan karena kalah kapasitas modal dan logistik, sementara masyarakat umum harus menanggung getahnya berupa mahalnya harga kebutuhan dapur harian.
2. Efek Gunting ‘Double Whammy’: Pendapatan Dicekik, Pengeluaran Diroketkan
Ironi terbesar dari krisis transisi ini terletak pada bagaimana pemerintah mendanai program populis tersebut. Demi menopang anggaran MBG yang jumbo, Kementerian Keuangan di bawah era baru melakukan refocussing anggaran secara radikal dengan memangkas biaya operasional dan belanja rutin perkantoran pemerintah pusat hingga daerah.
Secara teoritis, pemangkasan ini diniatkan sebagai efisiensi fiskal. Namun pada realitasnya, belanja barang dan jasa pemerintah selama ini adalah motor penggerak utama likuiditas di sektor riil. Ketika anggaran rapat, katering, percetakan, ATK, sewa kendaraan, hingga proyek penunjukan langsung (PL) skala kecil dihapus, ekosistem UMKM mandiri di daerah kehilangan pelanggan terbesar mereka.
Kondisi ini menciptakan Double Whammy —efek gunting ganda yang mematikan daya beli kelas menengah ke bawah:
• Mata Gunting Atas: Biaya hidup meroket tajam akibat kelangkaan sembako yang tersedot oleh program MBG.
• Mata Gunting Bawah: Pendapatan masyarakat melosot drastis karena ruang usaha dan proyek mandiri mati akibat penghematan anggaran pemerintah.
Masyarakat dipaksa bertahan dalam kondisi yang sangat timpang: uang yang bisa dihasilkan semakin sedikit karena perputaran ekonomi lokal macet, namun nilai uang yang sedikit itu justru semakin merosot ketika dibawa ke pasar karena harga barang sudah terlanjur melambung tinggi.
3. Masuknya Otoritas Keamanan ke Sektor Riil dan Lunturnya Pasar Organik

Ketimpangan struktural ini dipertegas dengan masuknya institusi pertahanan dan keamanan seperti kepolisian (Polri) dan militer (TNI) sebagai salah satu penggerak utama dalam ekosistem ketahanan pangan dan logistik MBG. Di satu sisi, pelibatan aparat keamanan dinilai efektif untuk mempercepat pembangunan infrastruktur fisik—seperti pembangunan gudang pangan seketika dan pembukaan lahan komoditas berskala masif.
Namun, dari kacamata ekonomi politik, keterlibatan institusi komando dalam sektor bisnis riil memicu distorsi pasar yang serius. Pelaku UMKM sipil dan koperasi daerah tidak akan pernah memiliki posisi tawar yang seimbang untuk berkompetisi dengan institusi negara yang memiliki rantai komando vertikal hingga ke desa, fasilitas logistik mandiri, dan otoritas hukum penuh.
Alhasil, aliansi strategis antara anggaran negara, pengelolaan berbasis institusi aparat, dan suplier swasta raksasa semakin menyemen sentralisasi kapital. Ruang bagi kompetisi pasar yang sehat dan organik di tingkat daerah menjadi semakin sempit, berganti menjadi sistem ekonomi terpimpin yang rentan menciptakan lingkaran pemburu rente (rent-seekers) baru.
4. Hantaman Eksternal: Boikot Selat Hormuz dan Inflasi Biaya Global
Ketika struktur ekonomi domestik sedang rapuh dan kehilangan keseimbangannya, benturan dari luar sistem datang menyempurnakan krisis. Ketegangan geopolitik internasional yang berujung pada pemboikotan Selat Hormuz—jalur nadi minyak dunia—menjadi faktor pengali (multiplier effect) yang sangat merusak.
Sebagai negara net importer minyak, Indonesia langsung dihadapkan pada dilema fiskal yang mustahil: mempertahankan subsidi BBM yang akan menjebol anggaran negara (yang posisinya sudah kritis karena MBG), atau membiarkan BBM langka dan menaikkan harganya. Pilihan mana pun yang diambil, akibatnya adalah Cost-Push Inflation (inflasi biaya produksi). Biaya transportasi dan ongkos angkut barang melonjak tinggi, yang secara otomatis melipatgandakan kenaikan harga sembako yang sudah terjadi di dalam negeri.
Ditambah lagi dengan krisis finansial global yang memaksa bank sentral dunia mempertahankan suku bunga tinggi, arus modal asing keluar dari pasar domestik, memicu pelemahan nilai tukar Rupiah. Melemahnya mata uang membuat biaya impor bahan baku industri dan pupuk pertanian meroket, memperparah beban yang harus dipikul oleh dunia usaha yang sedang kempis.
Kesimpulan: Keseimbangan Antarsektor adalah Kunci Mutlak
Badai ekonomi yang terjadi saat ini memberikan satu pelajaran makro yang sangat berharga: kestabilan ekonomi suatu bangsa tidak ditentukan oleh agresifnya satu program tunggal, melainkan oleh keseimbangan peran dari berbagai sektor. Ekonomi adalah satu tubuh yang utuh. Pemerintah tidak bisa secara paksa membesarkan sektor jaring sosial (konsumtif) dengan cara memotong aliran darah pada sektor usaha produktif lokal (UMKM). Menyerahkan rantai pasok hajat hidup orang banyak kepada monopoli oligarki dan pendekatan komando institusional hanya akan melahirkan ketimpangan struktural yang lebih dalam.
Jika pemerintah ingin keluar dari badai ini dengan selamat, kecepatan implementasi program populis harus diimbangi dengan restrukturisasi rantai pasok yang inklusif. Insentif dan ruang usaha harus dikembalikan kepada jaringan pedagang, koperasi, dan pengusaha lokal di daerah. Tanpa adanya keseimbangan antar-pelaku ekonomi, pertumbuhan yang dikejar hanya akan menjadi angka-angka statistik di atas kertas, sementara rakyat di akar rumput harus terus terjepit dalam kemiskinan struktural yang baru. [Redaksi]
Advertisement
