Advertisement
GazanaPublika.com – Merangkai kata dalam bahasa Sunda, tentunya tidaklah mudah untuk bisa menyampaikan secara tepat berdasarkan undak usuk basa (pengucapan atau sebutan berdasakan lawan bicara).
Dalam hal ini bahasa atau kata akan berbeda bagi yang lebih tua atau lebih muda maupun yang strata sosialnya lebih tinggi atau lebih rendah. Sebagai contoh untuk menyebutkan makan kepada yang lebih tua atau lebih dihormati itu dengan kata tuang, sedang untuk orang yang strata sosialnya lebih tinggi atau lebih diagungkan itu dengan kata neda. Sedangkan untuk sebutan kepada yang lebih muda atau untuk orang dengan strata yang lebih rendah itu dengan pengucapan dahar.
Maka dari itu bagi pembicara dalam sebuah acara atau penyampaian resmi pidatonya dalam bahasa sunda biasanya menyertakan sebuah ungkapan pamungkas seperti langkung saur bahe carek. Yang artinya kurang serta lebihnya saya mohon maaf .
Penulis:
Admun Dwipayana
Advertisement
Advertisement
