Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Ki Hajar Dewantara, Guru Bangsa dan Pejuang Sepanjang Masa

Ki Hajar Dewantara, Guru Bangsa dan Pejuang Sepanjang Masa

Opini Jumat, 2 Mei 2025 13:44 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Penulis : Nandi Kusnindar

GazanaPublika.com, Bangsa Indonesia hari ini memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai hari Pendidikan Nasional sebagai penghormatan dan penghargaan negara atas perjuangan Ki Hajar Dewantara pada bidang Pendidikan dengan karya, tulisan dan perjuangannya. Keputusan Presiden (Soekarno) No, 316 tanggal 16 Desember 1959 memutuskan dan menetapkan hari lahir Ki Hajar Dewantara sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ketetapan panitia berdasar pada tulisan-tulisan, buku yang menghimpun tulisan mengenai kebudayaan, politik, sosial, jurnalistik yang diakui oleh masyarakat dan negara. Pengangkatan Ki Hajar Dewantara sebagai perintis perjuangan kemerdekaan, sebagai perwira tinggi, sebagai pahlawan nasional, mendapat kehormatan Mahaputra Tingkat I, sebagai patriot pejuang kemerdekaan dan pelopor sekaligus bapak Pendidikan Nasional bagi seluruh Bangsa Indonesia.

Ki Hajar lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Sebagai seorang ningrat, Soewardi merupakan putra kedua dari Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Surjaningrat merupakan putra tertua dari Raja Keraton Pakualaman, Pengeran Paku Alam III yang pada awalnya sebagai putra mahkota, namun batal karena Suryaningrat terserang penyakit mata yang menyebabkan kebutaan. Pada darah Soewardi mengalir darah pemimpin pejuang (Paku Alam III) yang menentang keras penjajahan Belanda.

Masa kecil diisi dengan gemblengan pendidikan agama dari Pesantren Kalasan di bawah naungan K.H. Abdurrahman, Hal ini menjadikan Soewardi terbiasa bergaul dengan kalangan rakyat bawah. Pergaulan yang hangat dan menunjukkan rasa kemanusiaan ditandai dengan mengajak teman-temannya bermain dan menonton pagelaran wayang kulit, pagelaran kesenian lainnya di Pura Pakualaman.

Sebagi pewaris tahta Keraton Pakualaman, Soewardi memutuskan untuk mengundurkan diri karena beliau tidak berambisi dan menyadari adanya keretakan hubungan kekerabatan akibat perebutan tahta dan akhirnya mundur dari pencalonan sebagai Raja Pakualaman. Sejak awal pertimbangan kemanusiaanlah yang mendasari keputusan besar Soewardi dalam kehidupannya. Soewardi berkeyakinan bahwa tidak penting siapa yang menjadi orang nomor satu di Kerajaan namun menyadari sepenunya bahwa kaum pribumi sedang berjuang melepaskan belenggu penjajahan, lalu siapa lagi yang mau berjuang membebasmerdekakkan bangsa ini dari penjajahan Belanda.

Masa pendidikan Soewardi dimulai dari ELS yaitu sekolah dasar yang didirikan di masa kolonial Hindia Belanda, khusus untuk anak-anak keturunan Eropa dan orang-orang yang dianggap setara atau disebut juga Sekolah Rakyat Eropa. Lalu melanjutkan sekolahnya ke sekolah guru Kweekschool, dan bertahan sampai satu tahun. Kemudian pindah ke sekolah dokter pribumi STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) dan beliau pun tidak lulus, dijalani selama lima tahun dengan alasan sakit selama empat bulan dan membuat Soewardi tidak naik kelas dan dicabut beasiswanya. Alih-alih penyebab Soewardi tidak naik kelas ternyata ada alasan politis, setelah Soewardi membacakan puisi karya Multatuli yang berisi kepahlawanan Ali Basah Sentot Prawirodirjo, penglima perang Pangeran Diponegoro. Esok harinya Soewardi dipanggil Direktur STOVIA dan dimarahi dengan keras atas dasar tuduhan telah membangkitkan sikap perlawanan dan pemberontakan terhadap Kolonial Belanda, yang akhirnya Soewardi drop out dari STOVIA.

BACA JUGA:  Menelusuri Potensi Cara Berpikir yang Tertulis dalam Untaian DNA, Ini Cetak Birunya

Pengalaman Soewardi selanjutnya bekerja sebagai ahli kimia di Pabrik Gula Kalibagor Banyumas selama satu tahun, ini semakin intens berinteraksi dengan kepekaan batin dari sisi nasionalisme kerakyatan. Pada tahun 1912, bulan Maret Soewardi pergi ke Bandung dan menjadi seorang jurnalis yang bekerja di surat kabar Sedyotomo, Midden Java, De Express, Kaoem Moeda, Oetoesan Hindia, Tjahaja Timoer, Poesara.

Soewardi juga menerbitkan surat kabar Goentoer Bergerak dan Hindia Bergerak. Di dunia pergerakan, Soewardi memelopori pendirian Budi Utomo dan bergerak di bidang propaganda. Pada tahun yang sama, Bersama Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo mendirikan IP (Indische Partij) sebagai gerakan politik yang berjuang merebut kemerdekaan Indonesia berdasarkan nasionalisme dan multikultural. Pendirian IP sebagai organisasi politik ditolak oleh kolonial Belanda, sebab potensi gerakan radikalisme akan mengancam kedudukan Belanda di Indonesia. Puncak perjuangan Soewardi ditandai dengan mendapat hukuman pembuangan ke Bangka, pada perjalanannya Soewardi akhirnya dibuang ke Belanda bersama dengan Douses Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo setelah mengajukan permintaan dibuang ke Belanda dengan alasan bahwa ini memberikan kesempatan untuk belajar dan terbukanya ruang untuk memperjuangkan hak-hak kaum terjajah melalui jaringan politik di luar negeri.

Buah pikiran Soewardi akan tetap membumi di negeri ini dan masih relevan sampai sekarang, diantaranya:

• Kekuatan rakyat adalah kekuatan setiap anggota dari rakyat. Segala Upaya untuk menjunjung derajat bangsa tidak akan berhasil kalau tidak dimulai dari bawah. Sebaliknya rakyat yang sudah kuat, akan pandai melakukan segala usaha yang perlu dan berguna untuk kemakmuran negeri.

BACA JUGA:  Mengupas Postur dan Alokasi APBN 2026: Strategi Fiskal di Tengah Tantangan Global

• Mendidik anak itulah mendidikan rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan pada jaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orang tua pada waktu kita masih kanak-kanak. Sebaliknya anak-anak yang pada waktu ini kita didik kelak akan menjadi warganegara.

• Untuk mendapatkan sistem pengajaran yang akan berfaedah bagi perikehidupan bersama. Haruslah sistem itu disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat. Oleh karena itu wajiblah kita menyelidiki segala kekurangan yang berhubungan dengan sifat masyarakat seperti yang dikehendaki.

• Tiap-tiap negara terjadi dari beberapa golongan yang masing-masing mempunyai sifat dan kepercayaan sendiri-sendiri, haruslah dipahami bahwa perbedaan-perbedaan golongan mewujudkan azas persatuan yang selaras (harmonis) dan menurut keadaan.

• Pengaruh pengajaran umumnya memerdekakan manusia atas kehidupan lahir, sedangkan merdekanya kehidupan batin terdapat dari pendidikan.

• Manusia merdeka yaitu manusia yang hidup lahir dan batinnya tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

• Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai anggota dari persatuan rakyat.

• Dalam pendidikan harus senantiasa diingat, bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri (zelfstandig), tidak tergantung kepada orang lain (onafhankelijk) dan dapat mengatur dirinya sendiri (vrijheid, zelfsbeschikking).

• Pengajaran nasional adalah pengajaran yang selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa, menumbuhkan rasa cinta bangsa dan semangat nasionalisme.

• Tetep, antep dan mantep, ketetapan fikiran dan batin menentukan kwalitas seseorang. Jika tetep dan antep sudah ada, maka mantep akan datang dan tidak bisa diundurkan lagi.

• Ngandel, kandel, kendel, dan bandel, artinya percaya akan memberikan tegaknya pendirian. Kendel (berani) dan bandel (tidak mudah ketakutan, tawakal) akan datang dengan sendirinya.

• Neng, ning, nung dan nang. Kesucian fikiran dan kebatinan yang didapat dengan ketenangan hati itulah yang mendatangkan kemenangan.

Penulis adalah Guru dan Praktisi Pendidikan di Garut, aktifis 98 Bandung dan dewan redaksi di Gazanapublika.com

Guru
Nandi Kusnindar

BERITA LAINNYA

Opini

Lima Potensi Karakter Dasar Manusia dalam Desain DNA

Opini

Menelusuri Potensi Cara Berpikir yang Tertulis dalam Untaian DNA, Ini Cetak Birunya

Opini

Mengurai Dialektika Genetika, Epigenetika, dan Jati Diri Klan Leluhur

Opini

Kritik dan Dialektika Kebijakan Alokasi Anggaran Makan Bergizi Gratis 2026

BERITA TERBARU

Ketua MPC PP Lebak Beri Apresiasi Tinggi, Penangkapan Kepala BGN Pusat

Lima Potensi Karakter Dasar Manusia dalam Desain DNA

Kejagung Bongkar Modus ‘Markup’ dan Aliran Dana Haram Dadan cs di Program ‘MBG’

Tren Sengketa Informasi di Jabar Bergeser ke Sektor Pendidikan, Dipicu Alokasi Dana BOS

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Lima Potensi Karakter Dasar Manusia dalam Desain DNA

Menelusuri Potensi Cara Berpikir yang Tertulis dalam Untaian DNA, Ini Cetak Birunya

Mengurai Dialektika Genetika, Epigenetika, dan Jati Diri Klan Leluhur

RAGAM

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

AI Bukan Tuhan: Menelanjangi Ilusi Mahatahu di Balik Kecerdasan Buatan

Eksotis, Alami dan Memikat: Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.