Advertisement
GAZANAPUBLIKA.COM – Banyak diantara kita mungkin menganggap bahwa Allah berkalam serupa dengan bahasa makhluk yang kita gunakan sehari-hari. Sangkaan ini, mungkin saja dipicu oleh keinginan untuk memahami Allah dengan cara yang lebih akrab dan terbatas pada batasan bahasa yang kita pahami. Allah, dengan penuh pemahaman atas sangkaan ‘baik’ tersebut, mungkin juga menerima persepsi tersebut.
Namun yang sebenarnya adalah bahwa Allah memiliki bahasa Ilahi yang khusus yang disebut Kalamullah. Bahasa ini tidak dapat dipahami oleh satu pun makhluk ciptaan-Nya. Di sinilah kita menemukan petunjuk yang jelas dalam salah satu ayat suci Al-Quran, yakni Surat An-Nahl ayat 68. Ayat ini memberikan sedikit pencerahan tentang sifat Ilahi yang jauh melampaui pemahaman bahasa makhluk.
Advertisement
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”,(Qs. An Nahl 16:68)
Wahyu Allah adalah firman Allah yang disampaikan kepada makhluk-makhluk-Nya, termasuk manusia. Wahyu Allah tidak terbatas oleh bahasa tertentu, baik bahasa lebah maupun bahasa manusia. Artinya, Allah dapat menyampaikan wahyu-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya dengan cara yang sesuai dengan pemahaman mereka, terlepas dari bahasa yang mereka gunakan.
Allah menyampaikan wahyu kepada makhluk-makhluk-Nya dengan cara yang sesuai dengan pemahaman mereka. Misalnya, Allah menyampaikan wahyu kepada lebah dengan cara yang dapat dipahami oleh lebah. Wahyu ini pun yang disampaikan kepada lebah melalui wahyu Allah kepada Nabi Muhammad dengan proses ilham atau “wahyu”.
Nabi Muhammad memahami wahyu yang disampaikan kepada lebah, bukan dalam bahasa lebah, melainkan dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. Hal ini menunjukkan bahwa Allah menyampaikan wahyu kepada makhluk-makhluk-Nya dengan cara yang sesuai dengan pemahaman mereka, terlepas dari bahasa yang mereka gunakan.
Proses wahyu ini tidak hanya terjadi pada pengalaman (risalah) Nabi Muhammad. Wahyu ilahi, yang tidak terikat oleh bahasa tertentu, disampaikan dengan cara yang dapat dipahami oleh semua nabi atau rasul yang pernah diutus Allah ke muka bumi.
Misalnya, Nabi Isa diberikan wahyu yakni kitab Injil, beliau memahaminya dalam bahasa Suryani. Sementara Nabi Musa dengan kitab Tauratnya yakni dalam bahasa Ibrani.
Hal ini menunjukkan bahwa Allah menyampaikan wahyu kepada nabi-nabi-Nya dengan cara yang sesuai dengan pemahaman mereka, terlepas dari bahasa yang mereka gunakan.
Inti komunikasi ilahi ini, yang melampaui bahasa manusia, dipahami dan disampaikan kepada para nabi melalui proses ilahi wahyu.
Proses wahyu adalah proses yang ilahi, di mana Allah menyampaikan wahyu-Nya kepada para nabi dengan cara yang sesuai dengan pemahaman mereka.
Oleh karena itu, proses wahyu memudahkan pemahaman Firman Allah yang melebihi batas-batas bahasa makhluk. Wahyu Allah dapat dipahami dan disampaikan kepada manusia secara umum melalui pemahaman linguistik yang unik dari yang dimiliki setiap nabi sesuai dengan kultur dan sosio-kultur daerahnya.
Misalnya, Nabi Muhammad memahami wahyu yang disampaikan kepada lebah dalam bahasa Arab, karena beliau hidup dan dibesarkan di lingkungan Arab. Sementara Nabi Isa memahami wahyu yang disampaikan kepadanya dalam bahasa Suryani, karena beliau hidup dan dibesarkan di lingkungan Suryani.
Kesimpulannya, Allah memberikan wahyu sesuai dengan bahasa yang ada dan sesuai dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
Kesimpulan ini dapat diartikan bahwa Allah menyampaikan wahyu-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya dengan cara yang sesuai dengan pemahaman mereka, terlepas dari bahasa yang mereka gunakan.
Allah tidak terbatas oleh bahasa tertentu dalam menyampaikan wahyu-Nya. Allah dapat menyampaikan wahyu-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya dengan cara yang sesuai dengan bahasa yang mereka gunakan.
Misalnya, Allah menyampaikan wahyu kepada lebah dengan cara yang dapat dipahami oleh lebah. Wahyu ini pun yang disampaikan kepada lebah melalui wahyu Allah kepada Nabi Muhammad dengan proses ilham atau “wahyu”. Nabi Muhammad memahami wahyu ini bukan dalam bahasa lebah, melainkan dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab.
Hal ini menunjukkan bahwa Allah menyampaikan wahyu kepada makhluk-makhluk-Nya dengan cara yang sesuai dengan pemahaman mereka, terlepas dari bahasa yang mereka gunakan.
Selain itu, Allah juga menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia dengan cara yang sesuai dengan pemahaman manusia. Misalnya, Nabi Isa diberikan wahyu yakni kitab Injil, beliau memahaminya dalam bahasa Suryani. Sementara Nabi Musa dengan kitab Tauratnya yakni dalam bahasa Ibrani.
Hal ini menunjukkan bahwa Allah menyampaikan wahyu kepada nabi-nabi-Nya dengan cara yang sesuai dengan pemahaman mereka, terlepas dari bahasa yang mereka gunakan.
Oleh karena itu, kesimpulannya, Allah memberikan wahyu sesuai dengan bahasa yang ada dan sesuai dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
Wallahu ‘alam bi shawab
Ustadz Encep Syihabuddin
Aktifis Nahdlatul Ulama-Banten
Advertisement
Advertisement
